Konten dari Pengguna

Resistensi Antimikroba : Ancaman dan Strategi Dalam Mengatasinya

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ratu Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik perkembangan medis yang melahirkan antimikroba sebagai jurus yang dapat melepas sengsara manusia dari berbagai penyakit dan infeksi yang merajalela, kini telah beralih menjadi ancaman senyap bagi kaum manusia yaitu resistensi antimikroba. Ancaman ini selalu dianggap sepele, padahal dapat berpengaruh besar terhadap kesehatan. Antimikroba memang ahli dalam membunuh mikroorganisme, akan tetapi perlu diketahui bahwa seluruh mikroba bisa kebal terhadap antimikroba seperti antibiotik bila dikonsumsi dengan cara yang tidak sesuai. Salah satunya adalah dengan tidak menghabiskan antibiotik sesuai resep yang telah diberikan oleh dokter.

Ancaman ini sudah banyak memakan korban jiwa, bahkan terus meningkat dari waktu ke waktu. Berdasarkan data yang dirilis oleh World Health Organization, dikatakan bahwa terdapat 1,27 juta orang meninggal dunia akibat resistensi bakteri terhadap antimikroba pada tahun 2019. Resistensi antimikroba juga berkontribusi dalam kasus 4,95 juta kematian akibat penyakit yang diderita pasien, dimana resistensi ini menjadi faktor dalam memperburuk keadaan pasien karena pengobatan menggunakan antimikroba menjadi terhambat akibat mikroba yang sudah kebal.(World Health Organization., 2023). Pada tahun 2050 mendatang, angka kematian akibat resistensi antimikroba di perkirakan mencapai 10 juta kematian.(World Health Organization., 2024). Ini membuktikan bahwa ancaman ini bukan sekadar isu rumah sakit, melainkan ancaman global yang perlu diatasi dengan segera.

Gambar 1. Ilustrasi Mikroba (sumber: shutterstock https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.shutterstock.com%2Fid%2Fsearch%2Fbakteri&psig=AOvVaw3wf1Z42NNSbNlaVkDCklW_&ust=1752733237769000&source=images&cd=vfe&opi=89978449&ved=0CBIQjRxqFwoTCJidnaPewI4DFQAAAAAdAAAAABAE)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Ilustrasi Mikroba (sumber: shutterstock https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.shutterstock.com%2Fid%2Fsearch%2Fbakteri&psig=AOvVaw3wf1Z42NNSbNlaVkDCklW_&ust=1752733237769000&source=images&cd=vfe&opi=89978449&ved=0CBIQjRxqFwoTCJidnaPewI4DFQAAAAAdAAAAABAE)

Sejarah Dimulainya Resistensi Antimikroba

Antibiotik adalah suatu senyawa yang dapat menghambat serta menghentikan proses biokimia dari infeksi bakteri.(Fadrian, 2023). Dalam sebuah sejarah, dikatakan bahwa antibiotik lahir dari sebuah ketidaksengajaan. Pada tahun 1928, seorang peneliti bernama Alexander Fleming menemukan zona bening pada cawan berisi media dan mikroorganisme yang sedang ia uji.(Istiadi et al., 2024). Zona bening tersebut diketahui berasal dari spora kapang yang secara tidak sengaja terjatuh ke dalam cawan uji miliknya, dan menghasilkan zona bening sebagai tanda adanya kandungan antimikroba yang dapat membunuh mikroorganisme yang berada di dalam cawan tersebut. Setelah ditelusuri lebih lanjut, kapang tersebut berasal dari jenis Penicilium notatum. Alexander Fleming kemudian memberinya nama penicillin.(National Library Of Medicine, 2015).

Penicillin ditetapkan sebagai antibiotik pertama yang hadir dalam kehidupan manusia. Penggunaannya dilakukan secara besar-besaran setelah Perang Dunia II.(Graham, 2017). Tentara-tentara perang yang terinfeksi akibat luka parah mulai diobati dengan penicillin. Namun, dikarenakan tidak adanya diagnosis klinis yang tepat dan pengobatan tidak diselesaikan sepenuhnya, hal ini menimbulkan ancaman senyap yang mewarisi generasi berikutnya, yaitu resistensi antibiotik. Pada saat ini, faktor utama penyebab resistensi antibiotik masih sama seperti dahulu, yaitu penggunaan antibiotik yang berlebihan pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Resistensi antibiotik merupakan keadaan suatu mirkroorganisme yang sudah kebal terhadap antibiotik pada dosis maksimum. Antibiotik yang tidak dihabiskan tidak dapat membunuh bakteri secara menyeluruh. Bakteri yang masih hidup dapat bertahan dan dapat memperoleh gen resistensi antibiotik dari bakteri yang sudah mati akibat antibiotik.(Putra et al., 2019).

Strategi Dalam Menanganinya

Dalam menangani permasalahan resistensi antibiotik, langkah penyelesaiannya tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun upaya produksi antimikroba dilakukan, rerata resistensi antimikroba akan terus meningkat. Strategi lama yang dilakukan adalah melakukan kombinasi antara antibiotik dan madu. Ditinjau dari suatu penelitian, rifampicin (antibiotik) yang dikombinasikan dengan madu dapat meningkatkan kepekaan pada Methycillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) sehingga MRSA yang tadinya sudah resisten terhadap antibiotik rifampicin dapat terhambat lagi pertumbuhannya ketika dikombinasikan dengan madu. Adanya penghambatan tersebut terjadi karena madu dapat menurunkan gen resistensi pada MRSA (rugulasi mec-RI).(Kaligis et al., 2020).

Adapun penelitan lain yang juga menyatakan bahwa madu lebah memiliki daya hambat yang signifikan. Madu cukup kuat untuk menghambat bakteri gram-negatif dan gram-positif, pada saat antibiotik dikombinasikan dengan madu maka efek penghambatannya meningkat.(Abd-El Aal, A.M et al., 2007). Penelitian tentang madu tersebut merupakan strategi lama yang dijadikan sebagai upaya untuk meningkatkan efektivitas antibiotik, tetapi hingga saat ini angka kematian akibat resistensi antibiotik masih terus meningkat. Oleh karena itu, diperlukan strategi baru untuk menanggulangi ancaman ini. Menurut laporan National Library Of Medicine, Strategi baru dapat dilakukan dengan menggunakan peptida antimikroba. Peptida antimikroba dapat menghambat pembentukan protein dan DNA serta mengganggu berbagai proses penting dalam sel, seperti pelipatan protein dan pembentukan dinding sel. Peptida ini juga efektif dalam membunuh bakteri gram-negatif dan gram-positif, virus, fungi, serta efektif terhadap mikroba yang sudah resisten.(National Library Of Medicine, 2025).

Gambar ilsutrasi pengecekan mikroba

Sumber Gambar

Gambar 1. Ilustrasi Mikroba