Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Mengapa BI Tetap Menahan BI Rate 5,75%?

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi di Universitas Negeri Jakarta yang memiliki ketertarikan pada bidang ekonomi, pendidikan, dan kepenulisan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Raudah Azzahra Kamila Gafar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menembusnya nilai tukar rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian karena terjadi ketika Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate di level 5,75 %. Kondisi ini menarik untuk dilihat lebih jauh, terutama mengenai alasan BI tetap mempertahankan suku bunga ketika rupiah sedang berada di bawah tekanan. Rupiah tercatat menyentuh Rp18.001 per dolar AS pada perdagangan 29 September 2026, menjadi level terlemah sejak awal Agustus. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang akibat kondisi ekonomi global.
Di sisi lain, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 % melalui Rapat Dewan Gubernur pada 22 sampai 23 September 2026. Dalam kebijakannya, BI tetap berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mempertahankan inflasi dalam sasaran 2,5 % ± 1 %. Keputusan ini menunjukkan bahwa menjaga stabilitas ekonomi tidak selalu harus dilakukan dengan menaikkan suku bunga, terutama ketika BI masih mempertimbangkan kondisi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Mengapa Rupiah Melemah dan BI-Rate Tetap 5,75 %?
Pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi dalam negeri. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat aset dalam dolar AS lebih menarik bagi investor, sementara kenaikan harga minyak juga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Kondisi tersebut ikut mendorong penguatan dolar AS terhadap rupiah. Dalam situasi seperti ini, tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya dapat diselesaikan hanya dengan menaikkan suku bunga.
Dalam menghadapi tekanan tersebut, BI tidak hanya menggunakan suku bunga sebagai instrumen kebijakan, tetapi juga melakukan intervensi di pasar valuta asing dan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah tersebut menunjukkan bahwa stabilisasi rupiah dapat dilakukan melalui kombinasi berbagai kebijakan tanpa harus selalu menaikkan BI-Rate. Menurut penulis, pendekatan tersebut penting karena kenaikan suku bunga juga dapat memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi dan pertumbuhan.
Apa Dampak Pelemahan Rupiah?
Pelemahan rupiah dapat memberikan dampak terhadap perekonomian, terutama melalui kenaikan biaya barang dan bahan baku yang berasal dari luar negeri. Jika tekanan berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Artinya, pelemahan rupiah tidak hanya berkaitan dengan nilai tukar, tetapi juga dapat memengaruhi harga barang yang kemudian dirasakan oleh masyarakat.
Karena itu, kondisi rupiah yang menembus Rp18.000 perlu menjadi perhatian meskipun BI-Rate masih berada di 5,75 %. Kebijakan moneter perlu mempertimbangkan stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi secara bersamaan. Menjaga rupiah tetap stabil memang penting, tetapi kebijakan yang diambil juga perlu mempertimbangkan agar tekanan eksternal tidak justru memberikan dampak yang lebih besar terhadap perekonomian Indonesia.
