Konten dari Pengguna

Saat Data Center Berhadapan dengan Krisis Air

Rayi Putra Pamungkas

Rayi Putra Pamungkas

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayi Putra Pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi editorial yang menggambarkan pusat data di Batam berdampingan dengan persoalan ketersediaan air, menyoroti pertemuan antara perkembangan infrastruktur digital dan kebutuhan air masyarakat.Sumber gambar: Ilustrasi AI dibuat dengan ChatGPT/OpenAI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi editorial yang menggambarkan pusat data di Batam berdampingan dengan persoalan ketersediaan air, menyoroti pertemuan antara perkembangan infrastruktur digital dan kebutuhan air masyarakat.Sumber gambar: Ilustrasi AI dibuat dengan ChatGPT/OpenAI

Perkembangan pusat data di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah muncul aksi warga di Batam yang memprotes persoalan ketersediaan air di sekitar fasilitas pusat data. Peristiwa ini memperlihatkan sisi lain dari pertumbuhan industri digital yang selama ini lebih sering dibahas dari sisi investasi, kecanggihan teknologi, dan kebutuhan komputasi.

Data center menjadi infrastruktur penting bagi berbagai layanan digital. Semakin banyak aktivitas masyarakat berpindah ke layanan berbasis internet, semakin besar pula kebutuhan terhadap fasilitas yang mampu menyimpan dan memproses data dalam jumlah besar.

Namun, pembangunan fasilitas tersebut juga membawa konsekuensi terhadap penggunaan sumber daya. Salah satu yang mulai mendapat perhatian adalah kebutuhan air untuk mendukung sistem pendinginan.

Pertumbuhan data center terus meningkat

Kebutuhan terhadap pusat data berkembang seiring meningkatnya penggunaan layanan digital, komputasi awan, kecerdasan buatan, dan berbagai aplikasi berbasis data.

Beban komputasi yang semakin besar membuat fasilitas data center membutuhkan sistem pendinginan yang mampu menjaga perangkat tetap bekerja pada temperatur yang aman.

Air dapat menjadi salah satu bagian dari sistem pendinginan tersebut. Karena itu, lokasi pembangunan data center tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lahan dan jaringan listrik, tetapi juga perlu mempertimbangkan sumber daya air serta kondisi lingkungan di sekitarnya.

Di Batam, isu tersebut menjadi perhatian masyarakat. Katadata melaporkan bahwa puluhan warga Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, menggelar aksi protes di depan fasilitas data center Nongsa Digital Park pada 5 Oktober 2026.

Mengapa data center membutuhkan banyak sumber daya?

Data center pada dasarnya merupakan fasilitas yang beroperasi hampir tanpa henti. Server di dalamnya menghasilkan panas ketika menjalankan berbagai proses komputasi.

Jika panas tidak dikendalikan, perangkat dapat mengalami penurunan performa atau bahkan kerusakan. Karena itu, sistem pendinginan menjadi salah satu komponen penting dalam operasional pusat data.

Besarnya kebutuhan pendinginan bergantung pada berbagai faktor, seperti desain fasilitas, jumlah server, kepadatan komputasi, teknologi pendinginan, kondisi iklim, serta efisiensi energi.

Perkembangan AI juga berpotensi meningkatkan kebutuhan tersebut. Model AI modern membutuhkan kapasitas komputasi yang besar sehingga pusat data harus menangani beban kerja yang semakin berat.

Artinya, pembicaraan mengenai perkembangan AI sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan perangkat lunak. Di belakang layanan digital tersebut terdapat infrastruktur fisik berupa server, jaringan, listrik, sistem pendinginan, dan bangunan data center.

Tantangan baru bagi pembangunan digital

Selama ini pembangunan infrastruktur digital sering dianggap sebagai bagian penting dari transformasi ekonomi. Pandangan tersebut memang tidak keliru.

Pusat data dapat mendukung berbagai layanan, mulai dari perdagangan elektronik, perbankan digital, layanan pemerintahan, pendidikan, hiburan hingga aplikasi berbasis AI.

Namun, pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan perencanaan lingkungan yang matang.

Pertanyaan yang semakin penting bukan lagi sekadar berapa banyak data center yang bisa dibangun, tetapi juga bagaimana fasilitas tersebut dapat beroperasi tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap sumber daya di sekitarnya.

Ketersediaan air menjadi salah satu contohnya.

Jika pembangunan pusat data dilakukan di wilayah yang memiliki keterbatasan air, kebutuhan industri harus dipertimbangkan bersama kebutuhan masyarakat dan sektor lainnya.

Efisiensi menjadi semakin penting

Teknologi pendinginan terus berkembang untuk mengurangi konsumsi energi dan sumber daya. Pengelola data center juga menghadapi tuntutan untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah penggunaan sistem pendinginan yang lebih hemat air atau memanfaatkan sumber air yang tidak mengganggu kebutuhan masyarakat.

Selain itu, pemilihan lokasi juga menjadi faktor penting. Wilayah dengan infrastruktur listrik yang memadai, sumber air yang aman, kondisi lingkungan yang sesuai, serta akses jaringan yang baik dapat menjadi pertimbangan sebelum sebuah fasilitas dibangun.

Dengan demikian, pembangunan data center seharusnya tidak hanya dinilai dari kapasitas komputasinya.

Era AI membuat persoalan ini semakin relevan

Perkembangan kecerdasan buatan membuat kebutuhan komputasi global terus menjadi perhatian.

Di berbagai negara, perusahaan teknologi dan pemerintah berlomba membangun infrastruktur komputasi untuk mendukung AI. Bersamaan dengan itu, muncul pula perdebatan mengenai energi, air, emisi, dan dampak lingkungan dari pusat data.

Di Indonesia, pembahasan ini menjadi semakin relevan karena kebutuhan layanan digital terus berkembang.

Indonesia membutuhkan infrastruktur digital untuk mendukung ekonomi digital. Namun, pembangunan tersebut perlu dilakukan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan kepentingan masyarakat lokal.

Bukan berarti pembangunan data center harus dihentikan

Munculnya persoalan lingkungan tidak otomatis berarti pembangunan data center harus dihentikan.

Justru, kondisi tersebut menunjukkan perlunya standar dan perencanaan yang lebih baik.

Pembangunan infrastruktur digital dapat tetap berjalan dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan. Penggunaan teknologi pendinginan yang efisien, pemanfaatan air secara bertanggung jawab, transparansi penggunaan sumber daya, serta komunikasi dengan masyarakat sekitar dapat menjadi bagian dari proses tersebut.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi tidak hanya soal membuat komputer semakin kuat atau AI semakin pintar.

Ada infrastruktur besar yang menopang semuanya. Dan ketika kebutuhan komputasi terus meningkat, penggunaan sumber daya seperti listrik dan air akan menjadi bagian yang semakin penting untuk diperhatikan.