Bullying di Sekolah: Ketika Kekerasan Bukan Lagi Sekadar Nakal Anak-Anak

Peneliti dan Mahasiswa S2 Sosiologi Universitas Airlangga
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Muhammad Reihan Wahyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang anak seharusnya pulang dari sekolah membawa cerita tentang pelajaran hari itu, teman-temannya, atau sekadar jajanan yang ia beli di kantin. Bagi anak-anak, sekolah mestinya jadi tempat untuk belajar, bermain, bertumbuh, dan merasa aman. Tapi bagaimana jika tempat yang seharusnya menjadi ruang aman itu justru menyimpan ketakutan, dan bullying di sekolah kembali merenggut korban?
Pertanyaan itu kembali mencuat setelah MHA, siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia pada 30 September 2026, setelah sembilan hari menjalani perawatan di rumah sakit. Dalam masa perawatan, ia disebut sempat bercerita pernah dipukul oleh kakak kelasnya yang duduk di bangku kelas 5 dan 6.
Polisi kini masih menyelidiki kasus ini. Sejumlah saksi, termasuk teman korban dan pihak sekolah, telah diperiksa, sementara hasil autopsi masih ditunggu untuk memastikan penyebab kematian. Polisi sendiri sudah mengingatkan masyarakat agar tidak membuat asumsi atau menyebarkan informasi, termasuk identitas anak-anak yang diduga terlibat, sebelum penyelidikan tuntas. Karena itu, kasus ini perlu ditempatkan secara hati-hati, dugaan tidak boleh buru-buru dijadikan kesimpulan. Tapi terlepas dari bagaimana hasil akhir penyelidikannya nanti, peristiwa ini kembali mengingatkan kita pada persoalan yang jauh lebih besar: mengapa perundungan masih bisa tumbuh subur di lingkungan sekolah?
Ketika Bullying di Sekolah Dianggap Sekadar Kenakalan
Kita mungkin pernah mendengar kalimat seperti "namanya juga anak-anak", "cuma bercanda", atau "dulu juga kita pernah digituin dan baik-baik saja". Kalimat semacam itu terdengar sederhana, tapi kalau terus diulang, sesuatu yang semestinya dianggap persoalan bisa pelan-pelan berubah jadi hal yang dianggap biasa.
Di sinilah kita perlu berhenti melihat bullying hanya sebagai kenakalan anak. Perundungan bukan sekadar tindakan seorang anak kepada anak lain. Ada relasi sosial di dalamnya: ada kelompok yang menyaksikan, ada teman yang mungkin ikut tertawa, ada korban yang mungkin memilih diam, dan ada orang dewasa yang sebenarnya punya tanggung jawab memastikan situasi itu tidak berkembang jadi kekerasan. Ketika tindakan menyakiti terus-menerus dianggap sebagai candaan, batas antara bercanda dan kekerasan jadi kabur, dan korban pun kian sulit mengatakan bahwa dirinya sedang mengalami masalah.
Dalam kasus ini, ibu MHA menceritakan bahwa anaknya yang sebelumnya ceria berubah menjadi lebih pendiam. Perubahan semacam ini mengingatkan kita betapa pentingnya orang dewasa di sekitar anak lebih peka terhadap perubahan perilaku, meski penyebabnya belum tentu selalu berkaitan dengan bullying.
Kekerasan Tidak Tumbuh dari Ruang Kosong
Setiap kali kasus bullying mencuat, pertanyaan yang biasanya muncul adalah "kenapa anak itu bisa melakukan hal tersebut?" Pertanyaan itu penting, tapi ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: dari mana anak belajar bahwa tindakan semacam itu boleh dilakukan?
Sosiolog Edwin H. Sutherland lewat teori differential association menjelaskan bahwa perilaku menyimpang dipelajari lewat interaksi sosial. Tidak ada anak yang lahir dengan pemahaman bahwa suatu tindakan adalah perilaku menyimpang, pemahaman itu berkembang lewat hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam konteks bullying, gagasan ini membantu kita melihat persoalan dari sudut yang lebih luas: seorang anak bisa belajar mengejek karena melihat orang lain melakukannya, belajar bahwa mempermalukan teman itu lucu ketika lingkungan meresponsnya dengan tawa, dan belajar bahwa anak yang lebih lemah bisa diperlakukan sesuka hati ketika tindakan itu tak pernah mendapat koreksi.
Ini bukan berarti setiap anak yang menyaksikan bullying pasti akan menjadi pelaku, atau bahwa lingkungan otomatis menjadi penyebab tunggal. Tapi teori Sutherland mengingatkan bahwa perilaku manusia tidak pernah lepas dari proses belajar sosial yang terjadi dalam interaksi sehari-hari. Karena itu, memberantas bullying tidak cukup hanya dengan berkata kepada pelaku, "jangan lakukan lagi." Kita juga perlu bertanya: lingkungan seperti apa yang membuat perilaku semacam itu bisa muncul, diterima, bahkan berulang?
Ketika Teman Ikut Menonton
Bullying jarang berlangsung dalam ruang yang benar-benar kosong. Ada pelaku, ada korban, tapi sering kali ada pula orang-orang yang menyaksikan. Teman-teman yang melihat mungkin tertawa, sebagian mungkin diam, dan sebagian lain mungkin sebenarnya merasa tidak nyaman tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Di sinilah lingkungan sosial punya peran besar. Ketika sebuah tindakan mendapat tawa, perhatian, atau pengakuan dari kelompok, tindakan itu memperoleh semacam penguatan sosial. Sebaliknya, ketika lingkungan tegas menunjukkan bahwa perilaku itu tidak bisa diterima, ruang bagi perilaku tersebut untuk berkembang menjadi jauh lebih kecil. Karena itu, edukasi tentang bullying semestinya tidak hanya ditujukan pada calon pelaku dan korban. Anak-anak yang jadi saksi juga perlu memahami bahwa menyaksikan kekerasan bukan berarti bebas dari tanggung jawab: mereka perlu tahu kepada siapa harus melapor, bagaimana membantu teman tanpa membahayakan diri sendiri, dan bahwa menertawakan kekerasan bukanlah bentuk kenetralan.
Sekolah Bukan Sekadar Tempat Mengejar Nilai
Kita sering mengukur keberhasilan sekolah lewat nilai ujian, prestasi akademik, atau jumlah siswa yang diterima di sekolah dan kampus favorit. Semua itu memang penting, tapi ada ukuran lain yang tak boleh dilupakan: apakah anak merasa aman ketika berada di sekolah?
Sekolah bukan hanya tempat belajar matematika atau bahasa. Ia juga ruang sosial tempat anak belajar bagaimana memperlakukan orang lain, tentang pertemanan, perbedaan, konflik, batas, dan empati. Karena itu, ketika bullying terjadi, persoalannya tidak boleh berhenti pada perilaku satu-dua individu saja. Sekolah juga perlu mengevaluasi bagaimana mekanisme pengawasan berjalan, bagaimana laporan diterima, bagaimana guru mengenali tanda-tanda kekerasan, dan apakah anak-anak tahu bahwa mereka punya tempat untuk meminta pertolongan. Dalam kasus Pemalang ini, polisi sendiri telah memeriksa teman korban dan pihak sekolah sebagai bagian dari penyelidikan, sebuah pengingat bahwa untuk memahami sebuah kasus, perhatian tidak cukup diarahkan ke satu-dua individu saja. Rangkaian peristiwa dan lingkungan di sekitarnya juga perlu diperiksa.
Jangan Menunggu Sampai Ada Korban
Persoalan terbesar dalam penanganan bullying adalah ketika kita baru bergerak setelah akibatnya terlihat, ketika anak sudah terluka, orang tua sudah tahu, atau berita sudah menyebar luas. Padahal pencegahan semestinya dimulai jauh sebelum itu. Sekolah perlu punya ruang pelaporan yang mudah dijangkau anak, guru perlu mampu membaca perubahan perilaku siswa, orang tua perlu merasa aman berkomunikasi dengan sekolah, dan siswa perlu tahu bahwa melapor bukan berarti jadi "pengadu" atau "pengecut". Pendidikan tentang bullying tidak seharusnya hanya diberikan setelah kasus besar terjadi, ia perlu jadi bagian dari kehidupan sekolah sehari-hari. Sebab jika anak baru diajarkan bahwa bullying itu salah setelah tragedi terjadi, kita sebenarnya sudah terlambat.
Ketika terjadi bullying, tentu perlu ada pertanggungjawaban atas tindakan yang dilakukan. Tapi penyelesaian masalah tidak boleh berhenti pada hukuman semata. Jika hanya satu anak yang disanksi sementara lingkungan yang memungkinkan perilaku itu berkembang tidak pernah diperiksa, masalah serupa bisa muncul lagi dalam bentuk berbeda, hari ini satu anak jadi korban, besok bisa jadi anak lain. Karena itu, sekolah perlu membangun budaya yang membuat kekerasan sulit mendapat ruang, dan ini bukan tanggung jawab guru semata. Orang tua, teman sebaya, pengelola sekolah, hingga pemerintah sama-sama punya peran memastikan sistem perlindungan anak di satuan pendidikan benar-benar berjalan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti sendiri telah menyatakan memantau kasus ini, meski saat itu ia mengaku belum menerima laporan lengkap mengenai peristiwanya.
Anak Seharusnya Pulang Membawa Cerita
Kita mungkin tak pernah tahu cerita lengkap setiap anak ketika mereka pulang sekolah. Ada yang pulang dengan senyum, ada yang pulang dengan cerita tentang teman baru, ada pula yang pulang sambil mengeluhkan pekerjaan rumah. Tapi mungkin ada juga anak yang pulang sambil menyimpan sesuatu yang tak sanggup ia ceritakan. Di situlah orang dewasa perlu belajar lebih peka, sebab tidak semua korban bullying akan langsung berkata, "aku sedang dibully." Sebagian mungkin diam, sebagian berubah jadi lebih pendiam, sebagian mulai enggan pergi ke sekolah, dan sebagian bahkan tak tahu bahwa apa yang ia alami sebenarnya adalah kekerasan.
Kasus MHA semestinya menjadi pengingat bahwa bullying tidak boleh diperlakukan sebagai bagian normal dari masa kanak-kanak. Kita memang harus menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi, dan kepedulian terhadap korban tidak boleh berubah menjadi penyebaran informasi yang belum terverifikasi atau penghakiman terhadap anak-anak yang masih dalam proses pemeriksaan. Tapi kita tidak perlu menunggu tragedi berikutnya untuk mulai bertanya: apakah sekolah kita sudah benar-benar menjadi ruang aman bagi anak?
Sebab sekolah seharusnya bukan tempat anak belajar bagaimana cara bertahan dari kekerasan. Sekolah seharusnya menjadi tempat mereka belajar bagaimana hidup bersama orang lain. Dan anak seharusnya pulang membawa cerita, bukan luka.
