Indonesia Hari Ini: Anak, Api, dan Harga Beras

Peneliti dan Mahasiswa S2 Sosiologi Universitas Airlangga
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Reihan Wahyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah pagi biasa di Indonesia hari ini. Seorang ibu menyiapkan bekal, memeriksa tas sekolah anaknya, lalu membuka jendela dan mencium bau asap yang entah datang dari mana. Di layar ponselnya, ada kabar harga cabai dan ayam yang kembali naik. Dan di sela semua itu, ada satu pertanyaan kecil yang ia simpan sendiri: apakah anakku akan baik-baik saja hari ini di sekolah?
Tidak ada yang dramatis dari kecemasan semacam itu. Justru karena itulah ia terasa nyata. Ia menumpuk pelan-pelan di dapur, di gerbang sekolah, dan di langit yang berkabut. Indonesia hari ini tidak sedang menghadapi satu persoalan besar saja, melainkan banyak persoalan sekaligus, sering kali tanpa sempat menarik napas di antaranya.
Tulisan ini tidak bermaksud menambah daftar keluhan. Ia hanya mengajak kita melihat tiga hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: rasa aman anak di sekolah, kelayakan lingkungan tempat tinggal, dan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar. Lalu bertanya dengan jujur, harapan apa yang masih bisa kita jaga?
Ketika Sekolah Belum Aman untuk Semua Anak
Sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar, berteman, dan bertumbuh tanpa rasa takut. Namun data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengingatkan bahwa rasa aman itu belum dirasakan semua siswa. Sepanjang Januari hingga September 2026, FSGI mencatat 100 kasus kekerasan di satuan pendidikan dengan 1.055 korban dan 174 pelaku.
Angka ini perlu dibaca dengan cermat. Data tersebut dihimpun dari pemberitaan media dan jaringan FSGI, sehingga bukan potret lengkap seluruh kejadian. Bentuknya pun beragam, bukan hanya perundungan: sebagian besar adalah kekerasan seksual, disusul kekerasan fisik yang menurut FSGI banyak dilakukan sesama siswa lewat pengeroyokan dan penganiayaan. FSGI juga mencatat empat korban kekerasan fisik yang meninggal dunia sepanjang tahun ini, dan yang termuda baru berusia tujuh tahun, usia ketika seorang anak mestinya masih sibuk memikirkan bekal dan teman sebangku.
Karena itu, perundungan dan kekerasan di sekolah tidak cukup dipahami sebagai urusan pelaku dan korban. Di dalamnya ada lingkungan pertemanan yang menonton atau tertawa, kebiasaan yang dianggap lumrah, respons orang dewasa, dan keberanian untuk melapor. Ketika ejekan dianggap candaan dan kekerasan dianggap bagian biasa dari masa kecil, batas antara bermain dan menyakiti pelan-pelan menghilang.
Upaya menghadirkan sekolah yang aman pun tidak boleh berhenti pada imbauan atau sanksi setelah kasus terjadi. Anak perlu tahu kepada siapa ia bisa bercerita. Guru perlu ruang untuk membaca perubahan perilaku siswa. Orang tua perlu yakin bahwa laporan mereka akan didengar. FSGI sendiri mengingatkan bahwa mekanisme penanganan yang terlalu bertumpu pada pimpinan satuan pendidikan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, terutama bila pelakunya justru orang yang berkuasa di sekolah. Sistem pelaporan yang berfungsi bukan pelengkap, melainkan fondasi.
Ketika Asap Datang Mendekat
Persoalan lain terasa dari langit. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat laporan bencana pada 17-18 Oktober 2026 masih didominasi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, termasuk di lereng Gunung Lawu dan Gunung Arjuno. Di Jawa Timur, kobaran api di kawasan Arjuno bahkan terlihat dari ruas tol Pandaan pada Jumat malam, 16 Oktober, dan jalur pendakian ditutup sementara.
Bagi yang tinggal jauh, berita seperti ini mungkin hanya sekilas lewat. Tetapi bagi warga di sekitar wilayah terdampak, kebakaran bukan isu abstrak. Asap bisa mengganggu pernapasan, menghentikan aktivitas, mengusik kegiatan belajar anak, hingga memengaruhi pekerjaan yang menjadi sumber penghidupan keluarga. Dampaknya hadir dalam hal-hal kecil: menahan anak bermain di luar, memeriksa masker, atau cemas setiap kali ada yang batuk.
Beban itu pun tidak jatuh sama rata. Mereka yang punya pilihan tempat tinggal, akses layanan kesehatan, dan sumber daya cadangan lebih mudah mengurangi risiko. Warga dengan sumber daya terbatas sering kali tidak punya banyak pilihan selain bertahan. Maka menjaga lingkungan bukan hanya soal merawat alam untuk masa depan, melainkan juga soal melindungi kesehatan, penghidupan, dan hak setiap orang atas lingkungan yang layak. Pemadaman darurat tentu penting, tetapi pencegahan, pemulihan ekosistem, dan pengawasan terhadap penyebab kebakaran perlu berjalan beriringan, bukan baru ramai ketika asap sudah menyebar.
Di Dapur dan di Pasar
Di tengah itu semua, keluarga juga harus memastikan dapur tetap mengepul. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan September 2026 sebesar 3,28 persen. Yang patut dicermati, harga pangan bergejolak naik lebih tinggi, 5,03 persen secara tahunan, dibandingkan 4,06 persen pada bulan sebelumnya, dengan beras, cabai rawit, dan daging ayam termasuk komoditas yang ikut mendorongnya.
Angka inflasi tidak otomatis berarti semua keluarga makin kesulitan. Secara umum, inflasi masih berada dalam sasaran Bank Indonesia. Namun kenaikan harga pangan terasa lebih berat bagi rumah tangga yang sebagian besar penghasilannya habis untuk kebutuhan pokok. Ketika harga beras dan lauk naik, ruang untuk menabung, membayar sekolah, atau menyiapkan dana darurat ikut menyempit.
Di sinilah indikator ekonomi dan pengalaman rumah tangga perlu dibaca berdampingan. Data makro menunjukkan arah perekonomian secara umum, sementara pengalaman sehari-hari memperlihatkan bagaimana perubahan itu dirasakan di meja makan. Bagi banyak keluarga, kesejahteraan sesederhana bisa menyediakan makanan bergizi, membayar kebutuhan sekolah anak, berobat saat sakit, dan menyisakan sedikit ruang untuk keadaan darurat. Hal-hal yang tampak biasa itulah fondasi hidup yang aman dan bermartabat.
Tiga Persoalan Indonesia Hari Ini, Satu Benang Merah
Perundungan, kebakaran, dan tekanan biaya hidup berasal dari persoalan yang berbeda. Ketiganya tidak bisa disamakan, apalagi dianggap punya satu penyebab tunggal. Tetapi ada benang merah yang layak direnungkan: kualitas hidup tidak ditentukan oleh satu aspek saja. Anak yang mengalami kekerasan membutuhkan lingkungan belajar yang aman dan orang dewasa yang peduli. Keluarga yang terdampak kebakaran membutuhkan perlindungan, layanan kesehatan, dan pemulihan penghidupan. Rumah tangga yang tertekan biaya hidup membutuhkan kesempatan ekonomi dan akses kebutuhan dasar yang terjangkau.
Melindungi manusia saat kesulitan adalah kerja bersama. Sekolah, keluarga, komunitas, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan warga punya peran sesuai kapasitas masing-masing. Namun tanggung jawab bersama tidak berarti menghapus kewajiban tiap pihak untuk menjalankan tugasnya secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Kepedulian warga perlu ditopang sistem pelaporan yang bekerja. Kerja relawan perlu ditopang koordinasi yang memadai. Solidaritas bisa meringankan beban, tetapi kesejahteraan jangka panjang tetap membutuhkan kesempatan hidup yang layak.
Indonesia Hari Ini: Menjaga Harapan Tanpa Menutup Mata
Membicarakan persoalan bukan berarti mengabaikan kemajuan. Melihat masalah secara terbuka justru bagian dari upaya memperbaikinya. Harapan tidak harus dibangun dengan berpura-pura semuanya baik-baik saja, sebagaimana sikap kritis tidak harus berubah menjadi kebiasaan menyalahkan.
Harapan bisa dimulai dari hal yang konkret. Di sekolah, setiap laporan kekerasan ditanggapi serius dan setiap anak tahu bahwa ia berhak merasa aman. Di wilayah rawan kebakaran, pencegahan dan pemulihan menjadi perhatian bersama. Di dapur-dapur rumah tangga, upaya memperkuat kesejahteraan terus memperhatikan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasarnya. Dan di ruang sosial kita, kesediaan untuk saling mendengarkan, memeriksa informasi sebelum membagikannya, serta membantu sesuai kemampuan adalah sumbangan kecil yang tetap berarti.
Indonesia hari ini tidak kekurangan orang yang ingin keadaan menjadi lebih baik. Tantangannya adalah menerjemahkan keinginan itu menjadi tindakan yang konsisten dan perbaikan yang benar-benar dirasakan.
Maka harapan, pada akhirnya, bukan sekadar keyakinan bahwa masa depan akan lebih baik. Harapan adalah ketika seorang ibu bisa membuka jendela tanpa menahan napas, ketika anaknya pulang membawa cerita tentang teman sebangku dan bukan ketakutan, dan ketika harga di pasar tak lagi membuatnya menghitung isi dompet dua kali.
Indonesia yang lebih baik bukan hanya soal seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga seberapa banyak orang yang bisa ikut melangkah tanpa kehilangan rasa aman, martabat, dan harapan.
