News
·
15 Juli 2020 18:10

Kisah Perjuangan Guru Honorer di Pelosok Sulawesi Mengajar saat Pandemi Corona

Konten ini diproduksi oleh kumparan

Foto ini mungkin mengganggumu, apakah tetap ingin melihat?

Guru honorer Zulkifli Katili, mengajar dari rumah ke rumah siswa yang tidak dapat mengikuti kelas online akibat keterbatasan ekonomi. Foto: Dok. Pribadi

Pandemi corona membuat sistem belajar mengajar berubah. Tidak lagi tatap muka, kini hampir semua pembelajaran dilakukan secara online atau daring.

ADVERTISEMENT

Namun sayangnya, tidak semua siswa dan guru mampu mengimplementasikan metode belajar daring. Hal itu tercermin dari kisah guru honorer Zulkifli Katili dari Desa Sentra Sari, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Guru honorer berusia 23 tahun tersebut mengalami kesulitan dalam menjangkau murid-muridnya karena lokasi mereka yang berada di pelosok. Dalam kondisi yang terbatas, Zulkilfli mengajar kelas-kelas di SMP Negeri dan SMA Negeri di Toili Sulawesi Tengah.

"Syarat utama menggunakan sistem online itu antara lain gadget, kuota dan sinyal yang bagus, di lingkungan saya mengajar tidak memadai ke-tiganya, sehingga sekolah online susah diterapkan," ungkap Zulkifli kepada kumparan, Rabu (15/7).

Sinyal di daerah tinggal Zulkifli pun masih kurang memadai untuk mengadakan kelas video conference, tidak jarang Zulkifli harus mencari tempat tinggi seperti menara atau menuju lapangan agar bisa mendapatkan sinyal yang bagus. Karena kendala itu, Zulkifli hanya bisa mengandalkan WhatsApp Group sebagai media komunikasi dengan para muridnya.

ADVERTISEMENT

Selain sinyal, para siswa juga tidak memiliki gadget untuk mengikuti kelas online. Beberapa dari mereka bahkan harus meminjam milik saudaranya, sehingga kecil kemungkinan pembelajaran terjadi secara efektif.

"Orang tua siswa kebanyakan buruh petani, kebanyakan mereka tidak memiliki gadget yang memadai. Jadi sulit untuk mengikuti kelas online," ungkap Zulkifli.

Ada juga sebagian siswa memiliki gadget, namun terkendala oleh masalah lainnya, yaitu biaya untuk membeli kuota.

"Mungkin untuk bulan pertama orang tuanya bisa mengusahakan beli kuota, tapi kalau untuk 3 bulan berturut-turut itu susah. Kadang cuma bulan pertama ikut, kadang nanti bulan terakhir ikut, kadang ada yang ngga ikut sama sekali," ujarnya.

Mengetahui itu, Zulkifli tidak tinggal diam. Dia berinisiatif untuk berkeliling mengajar muridnya dari rumah ke rumah. Namun hal itu ternyata masih saja tidak memberikan banyak perbedaan. Kondisi keluarga kurang mampu, mengharuskan anak didiknya harus membantu orang tua bekerja, sehingga Zulkifli kerap tidak menemui mereka di rumah.

ADVERTISEMENT

"Siswa-siswa yang nggak ada handphone ini biasanya orang tua mereka ngajak kerja. Seperti ke sawah, cari pasir bangunan, atau ke pasar. Jadi waktu kita ke rumahnya ya mereka ngga ada," tambahnya.

Read more!

Berharap mendapat bantuan dari pemerintah

Sampai hari ini, Zulkifli mengaku tidak mendapat bantuan dari pemerintah selain Bantuan Tunai Langsung dan dana beasiswa sekolah yang dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok anak tersebut.

Zulkilfi berharap regulasi dari pemerintah di tengah pandemi ini bisa disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Seperti misalnya kewajiban sekolah daring yang belum dapat dilakukan di daerah pelosok.

"Regulasinya yang lebih cocok di daerah yang seperti ini, jangan cuma terpusat di daerah Jawa atau kota yang harus memaksimalkan sekolah online," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Zulkifli dan guru lain sekolahnya kini tengah merancang rencana untuk mendesak pemerintah daerah memperbaiki jaringan di desa. Bekerja sama dengan kepala desa, Zulkifli akan melayangkan surat ke tingkat Bupati.

"Harapannya dari surat itu Bupati bisa mengkoordinasikan dengan pihak penyedia jaringan. Kalau cara itu tidak membuahkan hasil, maka plan B kami adalah membuat program penyediaan penguatan signal di desa-desa yang dimasukkan dalam program dana desa," pungkasnya.

****

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)