Konten dari Pengguna

Mahasiswa "Kura-Kura" vs "Kupu-Kupu": Siapa yang Sebenarnya Lebih Siap Kerja?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reyhan Abdul Wahab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa berdiskusi di dalam kelas. (Foto: Unsplash/Vitaly Gariev)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa berdiskusi di dalam kelas. (Foto: Unsplash/Vitaly Gariev)

Setiap masuk tahun ajaran baru, debat klasik ini pasti muncul lagi di tongkrongan kampus atau Feed indtragram: Lebih baik jadi mahasiswa aktif organisasi ("Kura-Kura") atau fokus akademik lalu langsung pulang ("Kupu-Kupu")?

Stigma yang beredar biasanya begini: Mahasiswa Kura-Kura dianggap calon pemimpin masa depan, sementara Kupu-Kupu sering dicap pasif dan kurang gaul. Padahal, di era digital dan dunia kerja yang berubah cepat saat ini, label-label itu sudah mulai usang.

Sebagai mahasiswa Manajemen, saya melihat fenomena ini bukan sebagai hitam-putih, tapi soal strategi mengelola "aset" waktu yang kita punya.

Mitos "Si Paling Sibuk" (Kura-Kura)

Menjadi aktif organisasi memang melatih leadership dan networking. Tapi, hati-hati terjebak dalam ilusi produktivitas. Banyak mahasiswa yang sibuk rapat sampai pagi, nilai akademik anjlok, tapi soft skill-nya tidak berkembang signifikan karena hanya jadi pengikut ("follower") di organisasi, bukan inisiator.

HRD masa kini tidak hanya melihat seberapa tebal daftar organisasimu, tapi apa dampak nyata yang kamu buat. Kalau sibuk organisasi cuma buat pelarian dari tugas kuliah, itu namanya bukan berprestasi, tapi mismanajemen prioritas.

Kekuatan Tersembunyi Mahasiswa Kupu-Kupu

Di sisi lain, mahasiswa "Kupu-Kupu" sering diremehkan. Padahal, "pulang" bukan berarti tidur. Banyak dari mereka yang pulang cepat untuk membangun portofolio pribadi. Ada yang mengambil kursus coding, menjadi freelancer, atau membangun bisnis kecil-kecilan dari kamar kos.

Mereka fokus pada hard skill yang spesifik. Di dunia kerja yang semakin berbasis keahlian (skill-based), mahasiswa tipe ini justru sering kali lebih siap kerja karena mereka punya portofolio karya yang nyata, bukan sekadar pengalaman rapat.

Jalan Tengah: Jadilah Mahasiswa "Kuda-Kuda"

Daripada ribut pilih kubu, kenapa tidak ambil jalan tengah? Kita butuh keseimbangan. Dunia kerja butuh soft skill (komunikasi, kerja tim) yang didapat dari organisasi, tapi juga butuh hard skill (kompetensi teknis) dan kedisiplinan yang dimiliki mahasiswa fokus akademik.

Kesiapan kerja tidak ditentukan oleh seberapa sering kamu pulang malam dari kampus. Kesiapan kerja ditentukan oleh seberapa baik kamu mengenal potensimu, seberapa disiplin kamu mengasahnya, dan seberapa adaptif kamu terhadap perubahan.

Jadi, mau Kura-Kura atau Kupu-Kupu, kalau mentalmu cuma "mengalir seperti air" tanpa tujuan, dua-duanya sama-sama bakal hanyut. Pilih jalurmu, dan bertanggungjawablah atas pilihan itu.