Seni Menjinakkan Krisis: Cara Cerdas Hindari Keputusan Blunder

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang. Tertarik Membahas isu sosial dan kesehatan mental.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Reyhan Abdul Wahab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana sebuah acara sudah di depan mata, namun tiba-tiba terjadi miskomunikasi fatal di internal panitia yang membuat peserta marah dan menuntut kejelasan di grup chat? Dalam momen krisis seperti itu, seorang pemimpin dituntut untuk berpikir cepat. Menariknya, cara kita mengambil keputusan dalam kondisi tertekan sering kali mengungkap bagaimana anatomi organisasi kita sebenarnya berjalan.
Dalam ilmu Perilaku Organisasi, pengambilan keputusan bukan sekadar 'ketuk palu'. James A.F. Stoner mendefinisikan keputusan sebagai pemilihan satu arah tindakan dari berbagai pilihan yang ada. Proses ini adalah inti dari bagaimana sebuah organisasi, baik itu perusahaan besar, UMKM, maupun unit kegiatan mahasiswa, bertahan dari krisis.
Terjebak pada Keputusan Tidak Terstruktur
Setiap hari, kita mengambil keputusan operasional yang sifatnya rutin atau terstruktur, seperti menyusun jadwal rapat bulanan. Namun, ujian sesungguhnya bagi seorang pemimpin terjadi saat menghadapi Keputusan Tak Terstruktur. Keputusan ini muncul ketika ada masalah baru yang kompleks, di mana banyak aspek yang tidak diketahui atau tidak pasti.
Dalam situasi krisis, manusia sering kali tidak bisa menggunakan Model Rasional yang menuntut pengumpulan data super lengkap. Sebaliknya, kita cenderung jatuh pada Model Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality). Pada model ini, pengambil keputusan menempuh solusi berdasarkan keterbatasan informasi, waktu, dan energi, sehingga solusi yang diambil mungkin bukan yang paling sempurna, namun cukup untuk menyelamatkan keadaan saat itu.
Studi Kasus: Krisis Miskomunikasi Pengumuman Lomba
Mari kita bedah sebuah studi kasus nyata. Sebuah organisasi mahasiswa mengadakan lomba tingkat nasional. Menurut jadwal, pengumuman pemenang seharusnya dirilis pukul 15.00. Namun, karena miskomunikasi antara divisi penjurian dan divisi publikasi, data nilai belum direkap hingga pukul 16.00. Akibatnya, grup komunikasi peserta dipenuhi protes dan kebingungan.
Sebagai ketua pelaksana, apa yang harus dilakukan? Jika ia salah mengambil keputusan (misalnya merespons dengan emosi atau melempar kesalahan ke divisi lain), kredibilitas organisasi akan hancur.
Solusi Menggunakan Teori Herbert A. Simon
Untuk menyelesaikan masalah di atas agar tidak menjadi blunder, kita dapat menerapkan tiga tahapan proses pengambilan keputusan menurut psikolog organisasi Herbert A. Simon:
1. Aktivitas Intelijen (Intelligence Activity): Pemimpin harus melakukan pemeriksaan faktor lingkungan secara cepat untuk mengidentifikasi akar masalah yang sebenarnya. Alih-alih panik melihat grup peserta yang chaos, ketua pelaksana langsung mencari tahu inti masalahnya: "Apakah juri belum menilai, atau humas yang belum membuat desain pengumuman?"
2. Kegiatan Desain (Design Activity): Di tahap ini, pemimpin melakukan langkah-langkah pemecahan masalah dengan mengembangkan beberapa alternatif solusi. Ada dua opsi yang dikembangkan: (A) Meminta peserta menunggu tanpa batas waktu hingga rekap selesai, atau (B) Ketua memberikan klarifikasi resmi di grup yang memohon maaf atas keterlambatan, sembari menjanjikan pengumuman akan dirilis tepat pukul 19.00 malam.
3. Membuat Keputusan (Choice Activity): Tahap akhir adalah memilih satu tindakan. Berdasarkan pertimbangan risiko, ketua memilih opsi (B). Keputusan ini dieksekusi untuk meredam kepanikan massal (faktor eksternal) sambil memberi waktu bagi panitia internal untuk bernapas dan merekap nilai dengan benar.
Kesimpulan
Pengambilan keputusan adalah produk dari pengetahuan, pengalaman, dan budaya lingkungan seseorang. Keputusan yang efektif dalam sebuah krisis tidak selalu membutuhkan data berbulan-bulan, melainkan kemampuan menganalisis dengan kepala dingin, merancang alternatif yang masuk akal, dan mengeksekusinya dengan penuh tanggung jawab. Ingat, pemimpin yang baik bukan mereka yang tidak pernah menghadapi masalah, tetapi mereka yang tahu cara 'menjinakkan' masalah tersebut dengan keputusan yang terukur.
