Bukan Sekadar Stiker: Ketika Perempuan Dijadikan Objek

Saat ini sebagai mahasiswa Pendidikan Sosiologi di Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Reyhanun Dzahabiyyah Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi pengguna jalan, melihat berbagai tulisan atau gambar di bagian belakang kendaraan tidak lagi menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat. Berbagai kata-kata motivasi, doa, humor, curhatan dan kalimat yang sengaja dibuat untuk membangkitkan semangat dan mengundang tawa. Namun, tidak semua candaan dapat berhenti sebagai hiburan.
Beberapa tulisan di stiker kendaraan justru menggunakan perempuan, tubuh, status perkawinan dan seksualitas sebagai bahan lelucon. Lebih lagi, tulisan lain yang mengaitkan perempuan dengan istilah seksual dan stigma tertentu. Tulisan tersebut mungkin dianggap sebagai humor biasa oleh sebagian orang. Seseorang bisa saja tertawa dan beranggapan unik, sesudahnya akan melupakan ketika kendaraan berlalu. Namun, apakah dengan dikemas sebagai lelucon, representasi tersebut menjadi tidak bermasalah?
Ketika Perempuan Diperlakukan sebagai Objek
Dalam konsep “Objektifikasi Perempuan”, perempuan dipandang terutama melalui tubuh, penampilan dan seksualitas mereka. Perempuan tidak lagi dilihat sebagai individu tetapi direduksi menjadi bagian tubuh tertentu yang dapat dilihat, dinilai dan dijadikan konsumsi secara sosial.
Pada stiker yang bertuliskan "Butuh pelukan janda SEXY", istilah "janda sexy" mengartikan bahwa perempuan tidak lagi dipandang melalui identitas, kemampuan atau karakter personalnya melainkan identitas "janda" justru digabungkan dengan label sexy dan kebutuhan akan afeksi pelukan. Permasalahannya bukan sekadar pada penggunaan kata sexy tetapi yang perlu dilihat adalah bagaimana perempuan diposisikan dalam pesan tersebut. Perempuan digambarkan sebagai objek yang tubuh dan statusnya dapat dijadikan bahan lelucon.
Selain itu, pada stiker yang bertulisan "Di Chat jual mahal, Di Michat jual diri" dan "Murahan itu soal sifat, bukan penampilan karena zaman sekarang lonte aja pakai jilbab", dengan menggunakan istilah "lonte" atau "jual diri" dapat dipahami sebagai stigmatisasi, stereotip atau penghinaan terhadap perempuan. Bentuk seperti itu memang tidak seluruhnya dapat disebut sebagai objektifikasi. Pembedaan tersebut penting karena tidak semua bentuk seksisme adalah objektifikasi tetapi berbagai bentuk penggambaran tersebut menunjukkan bagaimana perempuan ditempatkan dalam posisi tertentu melalui bahasa dan simbol di ruang publik.
Stiker Bukan Hanya Tulisan
Dalam interaksionisme simbolik oleh George Herbert Mead, manusia berinteraksi melalui berbagai simbol yang memiliki makna. Bahasa, gambar dan tulisan dapat menjadi simbol yang digunakan untuk menyampaikan pesan serta membangun pemahaman bersama.
Stiker pada kendaraan bukan sekadar kumpulan kata yang menempel di kaca atau bagian badan kendaraan tetapi stiker merupakan simbol sosial. Ada gambaran mengenai status perempuan, seksualitas, hubungan antara laki-laki dan perempuan serta anggapan bahwa hal tersebut merupakan bahan yang dapat dijadikan lelucon.
Makna sebuah simbol tidak selalu sama bagi setiap orang. Bagi pembuat atau pemilik kendaraan, tulisan yang tampil di kendaraan mereka mungkin dimaksudkan sebagai humor bagi orang lain juga bisa saja dianggap lucu karena normal melihat bentuk humor yang serupa. Namun, bagi perempuan yang menjadi objek representasi tersebut akan dimaknai sebagai sesuatu yang merendahkan.
Siapa yang menentukan lelucon menjadi lucu?
Candaan muncul dari lingkungan sosial yang memiliki kebiasaan dan kepantasan tertentu. Ketika candaan menjadikan perempuan sebagai objek yang dilakukan secara terus-menerus dan berulang, menjadikan masyarakat semakin tidak asing terhadap representasi tersebut. Sesuatu yang seharusnya sejak awal dianggap tidak biasa dapat perlahan dipandang sebagai hal yang lumrah. Hal tersebut menghadirkan simbol yang berulang dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Oleh karena itu, selain mempertanyakan kelucuan terhadap stiker tersebut, perlu juga dipertanyakan posisi perempuan dalam lelucon tersebut.
Jalanan sebagai ruang belajar sosial
Masyarakat merupakan ruang belajar yang sangat luas. Setiap individu belajar mengenai nilai, norma, peran gender dan cara memperlakukan orang lain mulai dari keluarga, teman sebaya, media sosial hingga berbagai simbol yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam artian, tulisan pada stiker yang menempel di bagian belakang kendaraan juga menjadi bagian dari lingkungan sosial yang diamati dan dimaknai oleh masyarakat.
Kemampuan membaca simbol secara kritis menjadi penting, setiap individu tidak harus memandang setiap humor sebagai sesuatu yang salah. Namun, setiap individu juga harus mampu untuk melihat siapa yang menjadi objek dari humor tersebut, bagaimana mereka direpresentasikan dan nilai apa yang secara tidak langsung disampaikan melalui lelucon tersebut.
Pada akhirnya, permasalahan stiker pada kendaraan menjadi gambaran kecil tentang bagaimana masyarakat memberikan makna terhadap simbol tentang perempuan. Lantaran, ketika sebuah kendaraan berlalu di jalanan, mungkin yang tertinggal bukan hanya suara mesinnya tetapi ada pesan sosial yang ikut terbawa yaitu bagaimana perempuan dipandang, bagaimana tubuh mereka dibicarakan dan apa yang dianggap pantas untuk dijadikan bahan tertawaan.
Mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya apakah sebuah stiker lucu tetapi siapa yang harus menjadi bahan lelucon agar kita dapat tertawa?
