Konten dari Pengguna

Tur Multisensori “Mencari Ganeśa”: Implementasi Nyata Mewujudkan Museum yang Setara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reza Maulana Prayogi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peserta membandingkan arca Ganesha dengan boneka gajah (sumber: istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Peserta membandingkan arca Ganesha dengan boneka gajah (sumber: istimewa)

Depok, Oktober 2026 — Museum memainkan peran penting sebagai ruang belajar yang terbuka dan dapat diakses oleh semua kalangan. Semangat untuk menjadi lebih inklusif tersebut diwujudkan melalui kegiatan Tur Multisensori untuk Anak dengan Disabilitas Intelektual. Program yang diinisiasi oleh dosen dan mahasiswa Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia ini diberi judul “Mencari Ganeśa.” Kegiatan dilaksanakan setiap hari Selasa selama bulan Oktober 2026 dan bertempat di Museum Nasional Indonesia. Kegiatan ini khusus diperuntukkan bagi anak-anak SD dengan disabilitas intelektual dari berbagai SLB C di Jakarta, dan didanai melalui Hibah Kepedulian kepada Masyarakat Universitas Indonesia.

Mengenal Dewa Ganeśa dan keluarganya melalui pengalaman multisensori

Peserta bermain di Taman Arca Museum Nasional Indonesia bersama pemandu museum (sumber: istimewa)

Berbeda dari tur museum pada umumnya, “Mencari Ganeśa” dirancang dengan pendekatan multisensori yang mengajak peserta mengenal beberapa arca koleksi Museum Nasional Indonesia. Ganeśa adalah Dewa Ilmu Pengetahuan berkepala Gajah dan bertubuh manusia, anak dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Melalui tur ini, peserta tidak hanya diajak untuk melihat koleksi tetapi juga diminta untuk menyentuh arca Ganeśa, Siwa, Parwati, dan Kartikeya (kakak Ganeśa) menggunakan sarung tangan. Peserta juga diminta untuk membunyikan lonceng sapi seperti yang dikenakan oleh Nandi (kendaraan Dewa Siwa), memegang bulu burung merak kendaraan Dewa Kartikeya, dan mencium bau manisan yang dibawa oleh Dewa Ganeśa. Setelah mengikuti tur di ruang pamer, kegiatan dilanjutkan di Ruang Anak Museum Nasional Indonesia. Di ruang ini, anak-anak dapat beristirahat sekaligus melanjutkan aktivitas bermain dan mewarnai, serta mencicipi kue kuping gajah.

Pengalaman kunjungan museum kemudian diperkaya melalui activity book yang dibawa pulang. Activity book yang dibuat oleh mahasiswa Universitas Indonesia ini telah dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan anak-anak dengan disabilitas intelektual. Activity book ini juga telah dikonsultasikan kepada psikolog anak dari Parent Thing Centre by Al-Fath School dan konsultan independen Museum Ceria, selaku mitra dari kegiatan pengabdian masyarakat ini. Melalui activity book, anak-anak di rumah dapat bermain dan mengerjakan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan koleksi yang telah mereka temui selama tur di museum.

Kombinasi berbagai pengalaman inderawi dan activity book sebagai post-visit activity menjadi bagian penting dari pengalaman interaktif dalam kegiatan “Mencari Ganeśa.” Dengan demikian, museum tidak hanya diposisikan sebagai tempat untuk melihat benda koleksi, tetapi juga sebagai ruang yang memungkinkan anak-anak belajar, bereksplorasi, dan membangun pengalaman mereka sendiri.

Ibu Ita, selaku pengajar dan pendamping dari SSG SLB B-C Khrisna Murti, mengatakan bahwa aktivitas seperti ini akan membantu anak-anak dengan disabilitas intelektual untuk mengeksplor banyak hal. “Melalui kegiatan ini, anak-anak mempunyai experience/pengalaman yang sangat berguna dan menyenangkan” kata ibu Ita.

Peserta melihat fosil stegodon dan animasi gajah di ruang sejarah awal (sumber: istimewa)

Melalui pengalaman belajar yang terbuka dan ramah bagi semua, museum diharapkan dapat menjadi ruang yang memungkinkan setiap anak untuk bereksplorasi, memperoleh pengetahuan, dan membangun kedekatan dengan warisan budaya tanpa terkecuali. Karena itu, aksesibilitas museum perlu terus dikembangkan melalui penyediaan fasilitas, program, dan metode pembelajaran yang mengakomodasi beragam kebutuhan pengunjung.