Konten dari Pengguna

GERECEP UNPAM: Gerakan Cerdas dan Cepat Pilah Sampah Dimulai dari SDN Ciputat 05

Reza Maulana

Reza Maulana

Lecturer di Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reza Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

GERECEP UNPAM: Gerakan Cerdas dan Cepat Pilah Sampah Dimulai dari SDN Ciputat 05
zoom-in-whitePerbesar

TANGERANG SELATAN — Kebiasaan menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Dari sebuah tempat sampah, kebiasaan memilah, dan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, perubahan dapat ditanamkan sejak usia sekolah. Semangat itulah yang dibawa Mahasiswa/i Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang (UNPAM) melalui GERECEP (Gerakan Cerdas dan Cepat Pilah Sampah) di SDN Ciputat 05, Tangerang Selatan, pada 2 Oktober 2026.

Menurut Reza Dosen PGSD "Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus praktik bagi siswa sekolah dasar untuk mengenal pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Para siswa diajak memahami bahwa sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari memiliki jenis dan karakteristik berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Melalui GERECEP, Mahasiswa/i PGSD UNPAM mengajak siswa tidak berhenti pada pemahaman bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya. Lebih dari itu, siswa/i diperkenalkan pada kebiasaan mengenali, memilah, dan bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan."

Kegiatan dikemas secara interaktif agar siswa dapat terlibat secara langsung. Berbagai jenis sampah yang biasa ditemukan di lingkungan sekolah dikenali bersama, kemudian dipilah berdasarkan karakteristiknya. Siswa diperkenalkan pada beberapa kategori sampah yang sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka.

Pertama, sampah organik, yaitu sampah yang berasal dari makhluk hidup dan relatif mudah terurai secara alami. Contohnya adalah sisa nasi dan makanan, kulit pisang, kulit jeruk, sisa buah dan sayuran, serta daun kering. Sampah jenis ini dapat dikembangkan untuk pengolahan organik, seperti kompos.

Kedua, sampah anorganik yang dapat didaur ulang, seperti botol plastik, gelas plastik, kertas, kardus, dan kaleng. Siswa diperkenalkan bahwa sampah tersebut tidak selalu harus langsung dibuang. Apabila dikumpulkan dalam kondisi yang sesuai, sebagian dapat digunakan kembali atau disalurkan untuk proses daur ulang.

Ketiga, sampah residu, yakni sampah yang sulit atau tidak ekonomis untuk didaur ulang melalui pengelolaan sederhana di sekolah. Contohnya tisu bekas, sampah yang sudah tercampur atau sangat kotor, serta sejumlah kemasan yang sulit dipisahkan. Sampah tersebut perlu dibuang sebagai residu melalui sistem pengelolaan sampah yang tersedia.

Sementara itu, siswa juga dikenalkan secara sederhana dengan sampah B3 atau bahan berbahaya dan beracun, seperti baterai bekas, lampu tertentu, dan bahan yang memiliki sifat berbahaya. Untuk kategori ini, siswa tidak diarahkan menangani secara langsung, melainkan belajar bahwa sampah tersebut harus dipisahkan dan dilaporkan kepada guru atau orang dewasa untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Pendekatan konkret tersebut membuat siswa tidak sekadar menghafal istilah organik dan anorganik. Mereka belajar melalui benda yang benar-benar mereka temui. Ketika menemukan kulit pisang, misalnya, siswa belajar mengenalinya sebagai sampah organik. Ketika menemukan botol plastik kosong, siswa belajar bahwa benda tersebut termasuk material yang dapat dikumpulkan untuk didaur ulang. Sementara ketika menemukan tisu bekas, siswa belajar bahwa benda tersebut termasuk residu.

Dengan demikian, prinsip yang dibangun melalui GERECEP sederhana: “Kenali, Pilah, dan Buang pada Tempatnya.”

Bagi siswa sekolah dasar, kebiasaan memilah sampah memiliki nilai pendidikan yang lebih luas. Mereka belajar tentang kebersihan, tetapi pada saat yang sama juga belajar mengenai disiplin, tanggung jawab, kepedulian, kerja sama, dan pengambilan keputusan.

Ketika seorang siswa berhenti sejenak sebelum membuang sampah untuk menentukan tempat yang tepat, sesungguhnya ia sedang belajar membangun kebiasaan bertanggung jawab. Kebiasaan kecil tersebut apabila dilakukan berulang dan konsisten dapat berkembang menjadi karakter peduli lingkungan.

Bukan Sekadar Memilah Sampah

Gerakan GERECEP tidak diarahkan hanya untuk menghasilkan lingkungan sekolah yang lebih bersih. Pemilahan sampah juga membuka pemahaman kepada siswa bahwa sebagian sampah masih memiliki nilai guna dan dapat dikelola kembali.

Sampah organik dapat diarahkan untuk pengolahan kompos, sedangkan material anorganik yang masih bernilai dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali atau masuk dalam sistem daur ulang. Dengan pemahaman tersebut, siswa mulai melihat bahwa sampah bukan semata-mata benda yang harus segera dibuang, melainkan sesuatu yang perlu dikelola secara bijak.

Bagi sekolah, gerakan ini juga dapat menjadi bagian dari penguatan budaya sekolah. Lingkungan yang bersih dan tertata dapat menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman sekaligus menjadi media pembelajaran kontekstual bagi peserta didik.

Namun, tantangan terbesar GERECEP justru dimulai setelah kegiatan berakhir.

Antusiasme siswa saat mengikuti kegiatan belum cukup untuk memastikan kebiasaan memilah sampah bertahan dalam jangka panjang. Tanpa pembiasaan dan penguatan secara konsisten, perilaku memilah berpotensi kembali menjadi kebiasaan lama.

Karena itu, keberlanjutan GERECEP membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah. Guru memiliki peran sebagai teladan dan penguat kebiasaan. Sekolah perlu menyediakan tempat sampah yang sesuai dengan kategori, memberikan label tulisan dan gambar yang mudah dipahami anak, serta melakukan pemantauan secara berkala.

Tempat sampah juga tidak cukup hanya dibedakan berdasarkan warna. Bagi siswa sekolah dasar, keberadaan tulisan dan gambar contoh sampah dapat membantu mereka mengambil keputusan secara mandiri. Misalnya, tempat sampah organik diberi keterangan “sisa makanan, kulit buah, dan daun”; tempat sampah daur ulang diberi contoh “botol plastik, kertas, kardus, dan kaleng”; sedangkan residu diberi contoh “tisu dan sampah yang sulit didaur ulang”.

Gerakan tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan sederhana, seperti tantangan kelas terbersih, penghargaan bagi siswa peduli lingkungan, jadwal pemantauan pemilahan sampah, kampanye lingkungan, pengumpulan sampah daur ulang, hingga integrasi pendidikan pengelolaan sampah ke dalam pembelajaran.

Peran keluarga juga menjadi bagian penting. Kebiasaan yang dibangun di sekolah akan lebih kuat apabila dilanjutkan di rumah. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi pelaksana kebersihan di sekolah, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan yang membawa kebiasaan baik tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Dari Sekolah untuk Lingkungan

GERECEP pada akhirnya bukan hanya tentang tempat sampah yang berbeda warna atau kegiatan memilah sampah dalam satu hari. Gerakan ini membawa pesan bahwa pendidikan lingkungan harus bergerak dari pengetahuan menuju kebiasaan, dan dari kebiasaan menuju karakter.

Kegiatan Mahasiswa/i PGSD UNPAM di SDN Ciputat 05 menjadi contoh bahwa perguruan tinggi dapat hadir membawa pengetahuan dan kepedulian akademik ke tengah persoalan nyata masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mengambil peran dalam membangun kesadaran masyarakat melalui kegiatan pengabdian.

Ke depan, GERECEP diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang tidak berhenti pada kegiatan PKM. Sekolah dapat menjadikannya sebagai bagian dari budaya sekolah, sementara mahasiswa dan perguruan tinggi dapat terus memberikan pendampingan, edukasi, serta inovasi pengelolaan lingkungan.

Keberlanjutan gerakan ini dapat diperkuat melalui monitoring berkala, evaluasi kebiasaan siswa, keterlibatan guru dan orang tua, serta sistem pengelolaan sampah yang jelas setelah sampah dipilah. Dengan demikian, siswa tidak merasa bahwa memilah sampah hanya dilakukan ketika ada kegiatan khusus.

Sebab, keberhasilan gerakan memilah sampah bukan hanya ketika tempat sampah terisi sesuai kategorinya. Keberhasilan sesungguhnya terjadi ketika siswa secara sadar dan konsisten memilah sampah meskipun tidak sedang diawasi oleh guru.

Dari SDN Ciputat 05, pesan sederhana itu digaungkan: perubahan lingkungan dimulai dari kebiasaan kecil. Ketika anak belajar memilah sampah hari ini, mereka sedang belajar menjaga bumi untuk masa depan.

GERECEP — Gerakan Cerdas dan Cepat Pilah Sampah.

Kenali sampahnya, pilah dengan benar, jaga lingkungan bersama.