Ketika Mimpi Tidak Cukup: Belajar tentang Kesabaran dari Ranah 3 Warna

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rhaisya Nuridha Mahpuzh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kalanya seseorang mempunyai mimpi yang besar, tetapi keadaan justru memintanya untuk berjalan lebih pelan. Keinginan kuliah, merantau, mendapatkan kehidupan yang lebih baik, atau sekadar membuktikan bahwa diri sendiri mampu, tidak selalu berjalan sesuai rencana. Hal seperti inilah yang membuat Ranah 3 Warna karya A. Fuadi terasa dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Novel yang menjadi buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara ini mengikuti perjalanan Alif Fikri setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Madani. Alif mempunyai keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita. Namun, keinginannya tidak langsung berjalan mulus. Ia harus berhadapan dengan persoalan ijazah, keadaan ekonomi keluarga, persaingan, kehilangan, pekerjaan, hingga berbagai kegagalan yang membuatnya mempertanyakan kembali kemampuan dirinya.
Dari sinilah menurut saya Ranah 3 Warna menjadi lebih dari sekadar novel tentang orang yang mengejar cita-cita. Novel ini seperti mengajak pembaca bertanya: seberapa kuat seseorang mempertahankan mimpinya ketika keadaan tidak berpihak kepadanya?
Bukan Hanya Tentang Alif, tetapi Juga Tentang Lingkungannya
Kalau hanya dilihat dari tokoh utamanya, perjuangan Alif memang terlihat seperti perjuangan pribadi. Ia mempunyai cita-cita, kemudian berusaha mencapainya. Namun, ketika novel ini dibaca melalui pendekatan sosiologi sastra, persoalannya menjadi lebih luas.
Sosiologi sastra memandang karya sastra dalam hubungannya dengan masyarakat. Sapardi Djoko Damono menjelaskan bahwa hubungan antara sastra dan masyarakat merupakan bagian penting dalam memahami karya sastra. Dengan pendekatan ini, karya sastra dapat dibaca bukan hanya dari cerita dan tokohnya, tetapi juga dari persoalan sosial yang muncul di dalamnya.
Dalam Ranah 3 Warna, kehidupan Alif tidak berdiri sendiri. Ada keluarga yang menjadi tempat ia mendapatkan dorongan, teman yang terkadang mendukung sekaligus meragukannya, lingkungan pendidikan yang membentuk cara berpikirnya, serta kondisi ekonomi yang ikut menentukan langkahnya.
Artinya, keberhasilan seseorang tidak selalu hanya ditentukan oleh seberapa keras ia bekerja. Ada lingkungan yang ikut membentuk perjalanan tersebut.
Ketika Pendidikan Menjadi Jalan untuk Mengubah Hidup
Salah satu persoalan yang menarik dari novel ini adalah pendidikan. Alif melihat pendidikan sebagai jalan untuk mencapai kehidupan yang ia impikan. Namun, untuk sampai ke sana, ia harus melewati berbagai keterbatasan.
Pada awal cerita, Alif bahkan menghadapi persoalan karena tidak memiliki ijazah SMA yang dibutuhkan untuk melanjutkan rencana pendidikannya. Padahal sebelumnya ia telah mendapatkan pendidikan di Pondok Madani. Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan pendidikan seseorang tidak selalu sesederhana “belajar lalu berhasil”.
Ada aturan, persyaratan, keadaan ekonomi, dan berbagai kondisi sosial yang dapat menjadi penghalang.
Hal tersebut terasa cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Tidak semua mahasiswa memulai perjalanan dari titik yang sama. Ada yang mempunyai fasilitas belajar lengkap, ada yang harus menghemat, ada yang harus bekerja sambil kuliah, dan ada pula yang harus membagi perhatian antara pendidikan dengan persoalan keluarga.
Karena itu, perjuangan Alif bisa dibaca sebagai gambaran bahwa pendidikan memang dapat membuka kesempatan, tetapi perjalanan untuk mendapatkan kesempatan tersebut juga dipengaruhi oleh keadaan sosial seseorang.
“Sampai Kapan Aku Harus Teguh Bersabar?”
Salah satu bagian yang menurut saya paling kuat dalam novel ini adalah ketika Alif mulai merasa lelah menghadapi berbagai persoalan. Ia sampai mempertanyakan, “Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini?”
Kalimat tersebut menarik karena Alif tidak digambarkan sebagai tokoh yang selalu kuat. Ia juga mempunyai titik lelah.
Menurut saya, justru di sinilah karakter Alif terasa manusiawi. Sering kali cerita tentang perjuangan dibuat seolah-olah tokohnya tidak pernah ragu. Padahal dalam kehidupan nyata, orang yang sedang mengejar sesuatu juga bisa merasa bosan, kecewa, takut, bahkan ingin berhenti.
Alif pun mengalami hal tersebut.
Namun, ia kemudian kembali mengingat prinsip yang pernah dipelajarinya di Pondok Madani: “man shabara zhafira”, yang dalam novel dimaknai sebagai siapa yang bersabar akan memperoleh keberuntungan. Prinsip itu kemudian menjadi semacam pegangan Alif ketika menghadapi persoalan.
Menurut saya, pesan yang bisa diambil bukan berarti seseorang cukup diam dan menunggu keadaan berubah. Kesabaran dalam perjalanan Alif justru berjalan bersama usaha. Ia tetap belajar, bekerja, mencoba kesempatan baru, dan menghadapi kegagalan.
Jadi, sabar bukan berarti tidak melakukan apa-apa.
Keluarga yang Tidak Banyak Bicara, tetapi Berarti
Hal lain yang menarik adalah hubungan Alif dengan keluarganya. Keluarga tidak hanya menjadi latar belakang kehidupan tokoh utama, tetapi menjadi salah satu alasan mengapa ia terus berusaha.
Daftar Pustaka :
Fuadi, A. Ranah 3 Warna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
