Konten dari Pengguna

Berdandan Bukan untuk Orang Lain, tetapi sebagai Bentuk Menghargai Diri Sendiri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ria Gustinah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada masa ketika seorang perempuan terlalu sibuk memikirkan kebutuhan orang lain hingga lupa bahwa dirinya sendiri juga perlu diperhatikan. Pekerjaan, keluarga, dan berbagai tanggung jawab membuat hari-harinya berjalan begitu cepat. Tanpa disadari, ia terbiasa menempatkan dirinya di urutan terakhir. Ketika ia mulai sadar bahwa dirinya juga perlu untuk diperhatikan.

Sampai suatu hari ia sadar penampilannya tidak seperti dulu lagi, ia mulai sadar untuk melakukan hal hal kecil seperti memakai kerudung yang dulu sering ia pakai, baju yang dulu sering ia pakai ketika badan nya masih bagus, memakai make up, dan bercermin sebelum memulai beraktifitas ke kantor.

Mungkin bagi Sebagian orang ini hanya soal penampilan, namun bagi dirinya ada perasaan yang berbeda. Merasa lebih percaya diri dan merasa dirinya berharga, dan bersemangat untuk menjalani hari - hari nya. Tidak sedang berusaha menjadi perempuan paling cantik tetapi sedang belajar untuk menghargai dan memberikan perhatian sedikit untuk dirinya sendiri.

Metafora flamingo memberi arti dan makna yang sangat kuat. Burung berwarna merah muda cerah yang ketika memasuki fase merawat anak, warna bulunya dapat memudar karena nutrisi tubuhnya banyak diberikan kepada anaknya. Analogi ini kerap digunakan untuk menggambarkan perempuan, khususnya seorang ibu. Seorang ibu akan mengalihkan energi, perhatian, dan sumber dayanya demi pengasuhan (nurturing) dan peran relasional. Flamingo juga dikenal sering berdiri dengan satu kaki, sebuah gambaran tentang perempuan yang tetap dituntut berfungsi, menopang banyak peran sekaligus, bahkan ketika dirinya berada dalam kondisi rapuh.

Sumber ilustrasi : Chat gpt

Dimana ia telah kehilangan dirinya ketika seluruh hidupnya ia berikan untuk keluarga, sampai ia lupa untuk memberikan perhatian untuk dirinya sendiri. Kehilangan warna cantiknya saat membesarkan anak, merawat anak. Sebenarnya warna pink nya ini bukan hilang tapi istirahat sejenak.

Banyak perempuan merasa mengalami perubahan setelah punya anak, seperti, tubuh lebih cepat lelah,emosi lebih sensitif,perubahan bentuk tubuh,kehilangan waktu untuk diri sendiri,hingga merasa identitas dirinya berubah. Fase dimana perempuan kewalahan untuk merawat diri dan moodnya sulit untun diprediksi, karena mendedikasikan energinya untuk merawat anak. Namun ingatlah kamu akan mendapatkan dirimu kembali saat waktunya tiba.

Setelah anak flamingo tumbuh mandiri, warna tubuh induknya perlahan kembali cerah. Fenomena ini kemudian dianggap mirip dengan perjalanan seorang ibu. Setelah melahirkan, banyak perempuan merasa tubuh lebih mudah lelah,emosi naik turun,penampilan berubah,kehilangan waktu untuk diri sendiri,hingga merasa identitas lamanya 'menghilang'.

Namun perlahan, saat anak semakin besar ia akan menemukan kembali dirinya sendiri. Perlahan akan meninggalkan flamingo era.

Flamingo Era bukan penanda perempuan harus selalu tangguh dalam peran domestik dan publik. Perempuan tidak perlu meminta izin untuk mencintai dirinya sendiri. Ia berhak menemukan kembali warnanya. Karena perempuan menjadi utuh tidak hanya menjalankan peran nurturing, tetapi juga menumbuhkan proses berdaya diri secara sadar.

Dalam kesehariannya, seorang perempuan bisa menjalankan banyak peran sekaligus. Di kantor, ia memiliki tanggung jawab pekerjaan yang harus diselesaikan. Di rumah, ada keluarga yang membutuhkan perhatian. Belum lagi berbagai urusan lain yang sering kali tidak terlihat oleh orang di sekitarnya.

Seringkali ia mengabaikan dirinya sendiri, padahal meluangkan waktu sejenak untuk dirinya sendiri tidak menjadi masalah. Memberikan ruang untuk diri sendiri bukan berarti mengabaikan kewajibannya. Justru menjadi pengingat bahwa ia juga membutuhkan perhatian kecil untuk dirinya sendiri.

Pergi ke kopi shop mungkin tidak ada salahnya, menikmati secangkir kopi dengan teman - teman kantor, sejenak melupakan rutinitas hanya untuk relax.

Sumber Ilustrasi : Chat gpt

Perempuan tidak harus menunggu sampai semua pekerjaannya selesai untuk mulai memperhatikan dirinya. Sebab, kenyataannya, selalu ada hal lain yang menunggu untuk dikerjakan.

Media sosial menjadi pengaruh untuk memandang kita berpenampilan, kita melihat wajah-wajah yang sempurna sesuai tren kecantikan. Namun tanpa disadari turut mempengaruhi kita untuk menyenangkan diri sendiri. Tanpa kita sadari usaha kita untuk memenuhi standar orang lain bukan untuk diri kita sendiri.

Saat kita mulai membandingkan wajah, tubuh, pakaian, sesuatu yang awalnya kita lakukan untuk diri kita sendiri perlahan menjadi sumber ketidakpuasan. Disinilah pentingnya memahami kembali alasan kita merawat diri.

Kita boleh berdandan, memakai baju yang kita inginkan, mencoba pakaian baru, membeli produk kecantikan yang sesuai kemampuan. Namun hal itu sebagai pilihan tidak menjadi keharusan dan kewajiban. Karena kepercayaan diri muncul bukan untuk kita terlihat harus menjadi sempurna, ia tumbuh ketika berproses merawat diri kita, menerima diri kita apa adanya, dan menikmati proses merawat diri.

Perempuan berdandan maupun yang memilih tampil apa adanya sama sama berhak untuk percaya diri dan cinta dengan dirinya sendiri. Sesekali tidak ada salahnya kita bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat saya nyaman hari ini ? jika jawabannya adalah memakai make up, mengenakan pakaian yang disukai atau meluangkan waktu untuk merawat diri, lakukan lah selama itu sesuai kemampuan dan kebutuhan.

Dan jika suatu pagi kita memilih berdandan sebelum berangkat bekerja, biarlah itu menjadi bentuk perhatian kepada diri sendiri, bukan semata-mata upaya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Kita tidak harus terlihat cantik menurut semua orang untuk merasa berharga. Kita hanya perlu mengingat bahwa di tengah kesibukan memenuhi harapan banyak orang, diri kita sendiri juga layak mendapatkan perhatian.