Mitos atau Metafora: Kenabian Aristoteles dalam Turats Islam

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konstruksi Historis dan Gelar 'Nabi Filsafat'
Secara historis, Aristoteles lahir di Stagira pada 384 SM, menimba ilmu di Akademi Plato, mendidik Alexander Agung, serta mendirikan universitas Lyceum yang menginisiasi tradisi filsafat peripatetik (al-mashsha'iyyah). Dalam diskursus filsafat Islam, posisi Aristoteles dipandangi secara sangat dominan sehingga filsuf peripatetik Muslim seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina meletakkannya sebagai Mu'allim-i Avvel/ al-Mu‘allim al-Awwal (المعلم الأول) (Guru Pertama). Kendati demikian, khazanah teks Islam abad pertengahan merekam wacana unik yang memberikan atribusi kenabian (nabawiyyah) atau kiasan kenabian kepada pemikir Yunani tersebut.
Penelusuran Teks Klasik dan Narasi Hadis Mu’allaq
Rangkaian riwayat klasik yang mengaitkan Aristoteles dengan kenabian dapat dilacak dalam beberapa naskah turats. Dalam kitab Mahbûb al-Qulûb karya al-Daylamî al-Asykûrî, dinukilkan riwayat saat 'Amr ibn al-'Ash kembali dari Iskandariyah (Alexandria) dan melaporkan sekelompok orang yang mengkaji pemikiran Aristoteles. Ketika 'Amr menyampaikan celaan terhadap sang filsuf, Rasulullah SAW bersabda: "Diamlah wahai 'Amr! Sesungguhnya Aristoteles adalah seorang nabi, tetapi kaumnya tidak mengenalnya". Perkataan ini bukan Hadis Otentik. Karena riwayat ini statusnya tidak shahih secara historis, kalimat tersebut bukanlah bentuk ucapan langsung dari Rasulullah SAW maupun cerminan akhlak beliau yang sebenarnya. Penulisan tersebut menggunakan Hikayat Klasik. Dalam tradisi literatur filsafat/irfan abad pertengahan, penulis naskah sering kali menggunakan narasi stilistis dan retorika yang dramatis untuk memberikan penekanan pembelaan terhadap pentingnya ilmu hikmah dan filsafat.
Narasi yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah membicarakan Aristoteles atau menyebutnya sebagai nabi tidak memiliki sanad yang shahih dalam kitab-kitab rujukan hadis utama (Kutubus Sittah seperti Shahih Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll.).
Kutipan tersebut hanya ditemukan dalam naskah-naskah sejarah filsafat dan kitab irfan abad pertengahan, seperti Mahbûb al-Qulûb karya al-Daylamî, Nuzhat al-Arwâḥ karya al-Syahrazûrî, serta Iḥyâ'-yi Ḥikmat.
Konsensus ulama dan mufasir menegaskan bahwa Aristoteles adalah murni seorang filsuf Yunani. Para cendekiawan Muslim yang menukil teks tersebut (seperti Mîr Findiriskî dan al-Thûsî) menggarisbawahi bahwa jika pun istilah "nabi" digunakan untuk Aristoteles, hal itu dipahami secara majazi (kiasan) atas keluhuran ilmunya (al-nabâwah / ketinggian derajat), bukan kenabian formal pembawa wahyu syariat.
Kutipan senada ditemukan dalam Târîkh al-Ḥukamâ' Qabla Ẓuhûr al-Islâm wa Ba'dahu (Nuzhat al-Arwâh) karya al-Syahrazûrî, Syarh al-Manzhûmah karangan Sabzawârî (dengan catatan Hasan Zadeh Amuli), serta Ihyâ'-yi Hikmat karya Ibn Qarchaghây Khân. Selain itu, riwayat dalam Rasâ'il Ikhwân al-Shafâ' dan penjelasan Mulla Sadra (Shadr al-Dîn Syîrâzî) mencatat bahwa apabila seorang sahabat atau keluarga Nabi seperti Ali bin Abi Thalib mencapai keutamaan hikmah yang sempurna, beliau disapa dengan ungkapan pemuliaan: "Wahai Aristoteles umat ini!".
Hermeneutika Majazi dan Diskursus Linguistik
Guna menghindari kerancuan dogmatis, para sarjana Muslim memberikan penafsiran filosofis dan linguistik terhadap riwayat-riwayat ini. Cendekiawan Mîr Findiriskî mengemukakan bahwa penyandaran sebutan nabi kepada Aristoteles bersifat majazi (kiasan) sebagai bentuk pengakuan atas keluhuran ilmunya.
Uraian etnologis al-Thûsî dalam al-Iqtishâd mempertegas bahwa secara bahasa (urf), kata nabi dapat diturunkan dari dua akar kata:
1. Berasal dari al-anbâ' (berita/kabar), yang bermakna penyampai berita hikmah (al-mukhbir).
2. Berasal dari al-nabâwah, yang mengindikasikan ketinggian atau keluhuran kedudukan (al-irtifâ').
Dalam konteks kedua ini, penyebatan "nabi" merupakan metafora atas tingginya pencapaian rasional Aristoteles, bukan menunjukkan fungsi kenabian formal penyampai syariat (nabi mursal).
Pengaruh Korpus Pseudo-Aristoteles
Penguatan aura kenabian Aristoteles dalam peradaban Islam juga dipicu oleh persebaran naskah pseudo-epigrafis. Kitab Sirr al-Asrâr (Secretum Secretorum) melukiskan Aristoteles sebagai figur yang penuh ketakwaan, kerendahan hati, dan penguasa politik ilahi yang menerima wahyu keilahian.
Di samping itu, naskah Uṯûlûjiyâ Arisṭûṭâlîs (Theology of Aristotle), yang sebenarnya merupakan terjemahan Arab abad ke-9 atas karya Plotinus (Enneads IV–VI) oleh lingkaran al-Kindî, dinisbatkan secara keliru kepada Aristoteles. Teks ini memuat pengalaman mistis kontemplatif di mana sang filsuf melepaskan badan jasmani untuk menyatu dengan alam ilahi dan menyaksikan cahaya keindahan transendental. Distorsi atribusi ini membentuk persepsi di kalangan filsuf Muslim bahwa Aristoteles adalah pencerah batin yang mengalami penyingkapan spiritual (kasyf).
