Konten dari Pengguna

Menjadi Siswa Sempurna dalam Budaya “Prestasi”

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Richelle Felicia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi prestasi. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi prestasi. Foto: Unsplash

Pendidikan sangat sering dikaitkan dengan prestasi, seolah menjadi standar utama. Berhasil atau tidaknya pendidikan sering diukur secara kuantitatif, seperti nilai rapor, peringkat kelas, atau jumlah medali dalam berbagai lomba. Hal ini membuat banyak pelajar, bahkan orang tua, akhirnya mengukur prestasi sebagai harga diri yang tercantum dalam dokumen tertulis. Apakah pendidikan masih sehat saat kompetisi dan pengakuan sosial menjadi tujuannya?

Dari situ, terbentuk gambaran tentang sosok "siswa ideal" yang tanpa sadar jadi beban. Pelajar tidak cukup hanya pintar di kelas, tapi juga harus kreatif, disiplin, aktif berorganisasi, dan punya banyak pencapaian di luar jam sekolah. Standar setinggi itu lama-lama menanamkan satu keyakinan yang berbahaya, bahwa seseorang baru pantas dianggap berhasil kalau bisa unggul di semua hal sekaligus. Tidak heran kalau banyak yang akhirnya merasa gagal, meski sudah berusaha sekuat tenaga.

Tuntutan itu kemudian melahirkan pola hidup yang sangat sibuk. Banyak siswa merasa harus terus bergerak agar tidak tertinggal, dan kondisi inilah yang dikenal sebagai toxic productivity (Rabbani et al., 2026). Jadwal penuh dianggap tanda sukses, istirahat dianggap malas. Ditambah lagi media sosial yang setiap hari menyajikan pencapaian teman-teman, dari sertifikat lomba sampai kabar lolos universitas impian. Tanpa sadar, siswa mulai merasa dirinya tidak pernah cukup, padahal sudah banyak yang dilakukan.

Budaya prestasi memang bisa mendorong kemajuan, tapi kalau tekanannya sudah berlebihan, dampaknya tidak bisa diabaikan. Stres, kecemasan akademik, sampai kelelahan emosional bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan kenyataan yang dialami banyak pelajar (Tita, 2026). Pada titik itulah prestasi tidak lagi terasa seperti pencapaian. Ia berubah jadi beban.

Standar Siswa Berprestasi yang Sempit

Masalah ini berakar dari cara kita mengukur keberhasilan yang terlalu sempit. Nilai ujian, sertifikat lomba, pengalaman organisasi, nama universitas, hampir semuanya jadi patokan utama menilai seorang pelajar. Sistem seperti itu berbahaya karena memaksa siswa terus mengejar angka sempurna, bahkan ketika pengejaran itu mulai merusak kesehatan mental mereka sendiri. Mereka bukan lagi belajar untuk berkembang, tapi belajar demi mempertahankan angka agar tidak dianggap gagal.

Kondisi itu makin berat karena ada persaingan tidak langsung antarsiswa yang disebut silent competition. Persaingannya tidak terang-terangan, tapi sangat terasa dalam obrolan sehari-hari soal nilai, magang, atau kabar masuk universitas. Media sosial memperparah semua itu karena pencapaian teman-teman terpampang jelas setiap hari. Bagi siswa yang merasa prestasinya biasa saja, paparan seperti itu bukan motivasi, melainkan tekanan yang pelan-pelan menggerus rasa percaya diri.

Satu hal lain yang jarang disadari adalah bagaimana bakat non-akademik hampir tidak punya tempat dalam sistem ini. Siswa yang jago melukis, bermain musik, atau olahraga sering tidak mendapat pengakuan setara kalau tidak menghasilkan medali atau sertifikat resmi. Sekolah masih cenderung mengukur kemampuan siswa dari hal-hal yang bisa dinilai secara formal, sementara bakat yang tidak menghasilkan penghargaan tertulis dianggap kurang penting. Padahal kemampuan seseorang jauh lebih luas dari apa yang bisa dicantumkan di lembar prestasi.

Akibat dari semua itu cukup dalam. Siswa yang tidak masuk kategori "ideal" mulai melabeli diri sendiri sebagai orang gagal, rasa percaya diri terkikis, dan motivasi belajar menurun. Sebaliknya, siswa yang berada pada posisi teratas pun tidak jauh lebih baik karena harga diri mereka jadi sangat rapuh dan bergantung penuh pada pengakuan dari luar. Ketika semua fokus hanya tertuju pada standar dan perbandingan sosial, proses mengenal jati diri pun terlupakan begitu saja karena mereka lebih sibuk menjadi orang lain yang dianggap lebih sempurna di mata masyarakat.

Toxic Productivity dan FOMO Akademik

Makna produktivitas di kalangan pelajar kini sudah bergeser jauh dari yang seharusnya. Produktif bukan lagi soal bekerja efektif sambil menjaga keseimbangan, melainkan soal selalu terlihat sibuk. Jadwal padat, keanggotaan di banyak organisasi, dan berbagai kegiatan tambahan semuanya jadi bukti bahwa seseorang serius soal masa depan. Pergeseran makna ini berbahaya karena mendorong siswa untuk terus berkegiatan tanpa pernah berhenti bertanya apakah semua itu memang sesuai dengan keinginan mereka sendiri, atau sekadar ikut arus.

Ilustrasi FOMO. Foto: Shutterstock

Cara pandang terhadap istirahat pun ikut berubah dalam budaya seperti ini. Kalimat seperti "istirahat itu untuk orang yang sudah berhasil" yang sesekali terlontar dari orang tua atau guru, meski tidak dimaksudkan serius, pelan-pelan menanamkan rasa bersalah di pikiran siswa setiap kali mereka mencoba berhenti sejenak. Padahal tubuh dan pikiran bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja tanpa henti. Tidur yang cukup dan waktu rehat yang layak adalah kebutuhan biologis yang justru menopang kemampuan berpikir dan kesehatan mental jangka panjang (Hartanti, 2025). Tanpa itu, semua yang sudah dikorbankan untuk berprestasi pun perlahan runtuh dengan sendirinya.

FOMO juga menyentuh keputusan yang dampaknya jauh lebih panjang, yaitu soal memilih jurusan kuliah. Banyak calon mahasiswa memilih jurusan bukan karena minat, melainkan karena jurusan itu sedang populer atau dianggap menjanjikan, seperti teknologi informasi (IT), bisnis, atau teknik. Mereka takut diremehkan kalau memilih jalur yang kurang populer, meski jalur itu justru paling sesuai dengan potensi diri mereka. Hasilnya, sekitar 87% mahasiswa Indonesia merasa tidak cocok dengan jurusan yang mereka pilih (Rahmandita, 2024). Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan betapa banyak orang yang menjalani pendidikan tanpa makna hanya karena takut terlihat ketinggalan. Pada akhirnya, tekanan untuk selalu ikut arus itu tidak berhenti di pintu kampus saja, ia terus terbawa jauh ke dalam kehidupan setelah sekolah.

Tekanan Terhadap Siswa dan Ekspektasi Orang Tua

Tekanan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Jauh sebelum lulus, banyak siswa kelas 12 sudah mencemaskan karier, gaji, dan seperti apa hidup mereka ke depannya. Di tengah persaingan global yang makin ketat, gelar pendidikan saja tidak lagi terasa cukup, sehingga banyak pelajar merasa harus membuktikan diri sejak sangat muda (Achmadiputra, 2025). Beratnya bukan hanya soal persaingan itu sendiri, melainkan karena semua kekhawatiran itu harus ditanggung di usia yang bahkan belum genap delapan belas tahun.

Dari kekhawatiran itu muncul apa yang disebut krisis seperempat abad yang datang jauh lebih awal dari seharusnya. Kalau dulu kebingungan soal arah hidup lebih identik dengan usia dua puluhan, sekarang siswa akhir sekolah menengah atas (SMA) pun sudah mempertanyakan tujuan dan identitas mereka. Melihat teman sebaya yang tampak lebih siap dan sudah punya rencana yang jelas membuat mereka semakin merasa tertinggal. Padahal kenyataannya semua orang pun sedang sama-sama mencari jalan, hanya saja tidak semua orang memperlihatkannya.

Situasi itu makin rumit ketika harapan keluarga ikut masuk ke dalam gambaran itu. Banyak orang tua percaya bahwa perguruan tinggi bergengsi adalah tiket menuju kehidupan yang lebih aman bagi anak mereka. Niatnya tentu baik, tapi ketika harapan itu berubah jadi tuntutan yang tidak pernah diucapkan secara langsung, anak mulai merasakannya dengan cara yang menyakitkan. Mereka merasa dihargai hanya kalau nilainya bagus, hanya kalau lolos universitas yang bergengsi, hanya kalau bisa dibanggakan. Belajar pun tidak lagi terasa seperti proses mengembangkan potensi diri, melainkan kewajiban yang penuh rasa takut mengecewakan orang yang paling mereka sayangi.

Kelompok siswa yang tampak paling ambisius justru sering yang paling kelelahan di dalamnya. Mereka mati-matian menyeimbangkan akademik, kompetisi, organisasi, dan kegiatan relawan sekaligus, semua demi portofolio yang terlihat sempurna di mata orang lain. Mereka sulit berkata "tidak" karena takut mengecewakan siapa pun yang menaruh harapan pada mereka. Akibatnya, tekanan itu menumpuk diam-diam, dan pelan-pelan mengikis kepercayaan diri mereka dari dalam.

Dampak terhadap Kesejahteraan Siswa

Ilustrasi academic burnout. Foto: Unsplash

Ketika tekanan itu terus dibiarkan tanpa ruang untuk bernafas, pada suatu titik tubuh dan pikiran akan menyerah dengan caranya sendiri. Kondisi itu dikenal sebagai academic burnout, kelelahan mendalam yang bersifat kronis dan tidak bisa pulih hanya dengan tidur semalam (Lailla, 2025). Gejalanya tidak selalu terlihat dari luar, bisa berupa sulit fokus saat belajar, mudah tersinggung tanpa sebab yang jelas, atau perasaan kosong yang sulit dijelaskan kepada siapa pun. Banyak siswa bahkan tidak menyadari mereka sudah ada pada titik itu sampai semuanya terasa terlalu berat untuk ditanggung.

Rasa tidak pernah cukup adalah yang paling menyakitkan dari kondisi ini, bukan sekadar kelelahan fisiknya. Setiap pencapaian tidak pernah terasa benar-benar selesai karena selalu ada standar baru yang lebih tinggi menanti di depannya. Lama-lama, identitas seseorang bergantung sepenuhnya pada pencapaian mereka, sehingga satu kegagalan kecil pun bisa terasa seperti kehancuran. Kondisi seperti ini, kalau terus dibiarkan, tidak hanya menggerus semangat belajar, tapi juga membuka jalan menuju kecemasan dan depresi yang jauh lebih serius (Muthmainnah, 2024).

Solusi atas Tekanan Prestasi

Kalau ingin benar-benar ada yang berubah, yang perlu dibenarkan bukan hanya sistemnya, melainkan cara kita memaknai keberhasilan itu sendiri. Selama sukses masih hanya diukur dari rapor dan piala, siswa akan terus mengejar standar yang tidak ada habisnya. Padahal kemampuan berempati, kejujuran, dan kontribusi nyata kepada orang di sekitar juga adalah bentuk keberhasilan yang tidak kalah berarti. Siswa yang rajin membantu teman yang kesulitan, yang terlibat aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya, atau yang tumbuh menjadi pribadi yang bisa dipercaya, juga sedang berprestasi, hanya saja dengan cara yang tidak bisa diukur dengan angka. Sekolah perlu mulai membangun ruang yang aman bagi siswa untuk berbicara jujur tentang apa yang mereka rasakan, bukan hanya melaporkan nilai yang mereka dapat.

Peran orang tua juga tidak kalah penting. Tekanan yang paling berat sering bukan datang dari sekolah, melainkan dari rumah, dari ekspektasi yang mungkin tidak pernah diucapkan tapi sangat terasa dalam keseharian. Orang tua yang mau mendengarkan, yang menghargai proses bukan hanya hasil, dan yang tetap mendukung anaknya bahkan saat gagal, sedang membangun fondasi yang jauh lebih kuat dari nilai sempurna manapun. Anak yang merasa aman di rumah akan lebih berani mencoba, lebih tahan banting saat jatuh, dan lebih mudah bangkit kembali.

Siswa sendiri juga perlu belajar mengenali batas diri, sesuatu yang sering diremehkan dalam budaya yang serba menuntut ini. Tidak semua tawaran harus diambil dan tidak semua kegiatan perlu diikuti hanya karena teman-teman melakukannya. Dengan mengurangi kebiasaan membandingkan diri lewat media sosial, siswa bisa lebih fokus pada perjalanan mereka sendiri, yang jauh lebih penting dari pencapaian siapa pun di luar sana.

Kesimpulan

Budaya prestasi sebetulnya bisa jadi kekuatan besar yang mendorong kemajuan, baik bagi individu maupun bangsa. Tapi ketika ia tidak diimbangi dengan kepedulian terhadap kondisi psikologis siswa, tekanan yang ditimbulkannya justru bisa merusak potensi generasi muda itu sendiri. Standar siswa sempurna yang terlalu sempit sudah terlalu lama membuat pelajar merasa nilai diri mereka hanya ditentukan oleh prestasi yang bisa dilihat orang lain, sementara kesehatan mental dan proses mengenal jati diri pelan-pelan terkikis tanpa ada yang benar-benar memperhatikan.

Sudah waktunya semua pihak mau melihat keberhasilan dari sudut yang lebih luas dan lebih manusiawi. Ambisi tetap penting, tetapi ia harus berjalan beriringan dengan kepedulian yang tulus terhadap kesejahteraan emosional siswa. Dengan keseimbangan itu, generasi muda tidak hanya tumbuh menjadi individu yang tangguh secara intelektual, tapi juga menjadi manusia yang lebih bermakna dan berbahagia.