Konten dari Pengguna

Salatiga Festival Digital Ruang Inovasi Mahasiswa dan Komunitas Kreatif

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ricky Arnold tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Atrraksi pemukulan Taiko saat pembukaan Salatiga Digital Festival 2026, dihalaman Politeknik Bhakti Semesta, Jumat (18/9). (Foto: Dokumentasi Panitia)
zoom-in-whitePerbesar
Atrraksi pemukulan Taiko saat pembukaan Salatiga Digital Festival 2026, dihalaman Politeknik Bhakti Semesta, Jumat (18/9). (Foto: Dokumentasi Panitia)

Gemuruh tabuh alat musik tradisional Jepang, Taiko, menggema memecah keramaian kota Salatiga. Dentuman bertenaga dari Pusat Studi Jepang Udinus itu menandai dibukanya Salatiga Festival Digital 2026 dengan tema From Potential To Impact. Jumat, 18 September 2026, lapangan Politeknik Bhakti Semesta Salatiga mendadak menjelma menjadi episentrum kreativitas anak muda. Pemukulan Taiko bersama oleh perwakilan Walikota Salatiga, Kepala Dinas Pendidikan, Wakil Rektor 1 dan 3 Universitas Dian Nuswantoro, serta Direktur Politeknik Bhakti Semesta menjadi simbolisasi kuat. Sebuah kolaborasi lintas sektor siap menghentak kota.

Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, festival rutin garapan Politeknik Bhakti Semesta ini mengusung misi besar. Mereka ingin menampilkan produk digital mahasiswa sekaligus merekatkan kolaborasi dengan komunitas kreatif lokal. Di bawah tenda-tenda stan, deretan inovasi digital karya mahasiswa dipamerkan dengan apik. Produk fotografi, film pendek, gameboard hingga digital game menjadi isi tiap stan untuk dinikmati para peserta festival. Pengunjung awam sekalipun bisa merasakan langsung bagaimana teknologi masa depan dirancang oleh tangan-tangan lokal Salatiga.

Sejak pukul 09.00 WIB, atmosfer kompetisi sudah terasa panas. Ruang aula Politeknik Bhakti Semesta yang telah diambil kelola oleh Udinus diisi dengan 16 tim siswa dan mahasiswa yang beradu taktik dalam turnamen Mobile Legends. Suporter tiap tim riuh mendukung dengan menyaksikan pertarungan tim debutannya di layar monitor besar.

Tak jauh dari sana, kilatan lampu kilat ponsel tak henti-hentinya mengabadikan momen. Puluhan peserta asyik berburu sudut terbaik dalam kompetisi fotografi ponsel, membingkai keelokan para model dan dinamika event yang estetik. Keseruan makin pecah saat sore menjelang. Arena festival mendadak penuh warna oleh kehadiran sekitar 200 lebih pelajar dan mahasiswa pecinta budaya Jepang menyaksikan kompetisi cosplay kostum anime. Dipandu oleh komunitas lokal Shasimi, para cosplayer dengan kostum anime andalan mereka sukses menyedot perhatian warga.

Pose beberapa peserta lomba cosplay anime di Salatiga Digital Festival 2026. (Foto: Dokumentasi Panitia)

Saat jarum jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, ruang diskusi kreatif mulai dipadati massa. Di sinilah ruang peleburan ide terjadi. Mahasiswa dan masyarakat umum duduk bersama, bertukar gagasan dengan beragam motor kreatif Salatiga. Mulai dari komunitas gameboard, fotografi, standup comedy, insan perfilman dari Maja Picture, hingga pegiat tradisi Salatiga Etnik (SAE). Diskusi hangat ini mengalir seru hingga malam, membuktikan bahwa teknologi dan seni tradisi bisa berjalan beriringan.

Peserta Salatiga Digital Festival bergoyang mengikuti alunan lagu band sebagai penutup kegiatan. (Foto: Dokumentasi Panitia)

Puncaknya terjadi pada pukul 20.00 WIB. Dinginnya malam berganti dengan kehangatan saat band dari SMA Kristen 1 Salatiga naik ke atas panggung. Kemeriahan itu mencapai klimaksnya ketika guest star Happy April menghentak panggung utama. Seluruh siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum yang hadir larut dalam harmoni, bernyanyi dan bergoyang bersama di bawah langit malam. Salatiga Festival Digital 2026 sukses memberikan wajah baru bagi geliat kreativitas kota. Lebih dari sekadar hiburan, festival ini membawa pesan penting bagi kita semua. Di era modern ini, inovasi digital tidak akan bermakna apa-apa tanpa adanya semangat kolaborasi yang nyata.

Kolaborasi ini secara langsung merangsang lahirnya produk-produk kreatif berbasis digital yang kompetitif secara ekonomi. Lewat produk digital, produk seni lokal, jasa kreatif, hingga industri hiburan khas Salatiga dapat dipasarkan secara lintas batas tanpa sekat geografis. Selain membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda, sinergi ini juga mengubah wajah Salatiga menjadi kota yang dinamis, adaptif, dan mandiri secara ekonomi. Melalui pemanfaatan teknologi yang tepat guna dan jejaring komunitas yang solid, ekonomi kreatif Salatiga tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga siap bersaing di kancah nasional maupun global.