Konten dari Pengguna

Bisnis Bukan Hanya Soal Untung: Mengapa Manajemen Risiko Tidak Boleh Diabaikan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi keuntungan dari menganalisis risiko bisnis (pixabay.com/geralt)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi keuntungan dari menganalisis risiko bisnis (pixabay.com/geralt)

Ketika seseorang ingin membuka bisnis, biasanya hal pertama yang dipikirkan adalah modal, produk, lokasi, dan bagaimana mendapatkan pelanggan. Setelah itu, pemilik usaha mulai menghitung berapa besar keuntungan yang mungkin diperoleh.

Namun, ada satu pertanyaan yang terkadang terlupakan:

“Bagaimana kalau rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan?”

Bagaimana jika penjualan turun? Bagaimana jika harga bahan baku naik? Bagaimana jika pelanggan tidak membayar tepat waktu? Bagaimana jika akun bisnis terkena masalah? Atau bagaimana jika terjadi gangguan operasional yang membuat usaha tidak dapat berjalan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan dengan risiko.

Menurut saya, dalam menjalankan bisnis, kita tidak boleh hanya memikirkan peluang keuntungan. Kita juga perlu memahami kemungkinan kerugian dan mempersiapkan cara menghadapinya. Di sinilah manajemen risiko memiliki peran penting.

Manajemen risiko bukan berarti membuat perusahaan menjadi takut mengambil keputusan. Justru, manajemen risiko membantu perusahaan mengambil keputusan dengan lebih terukur.

Tidak Ada Bisnis yang Benar-Benar Bebas Risiko

Setiap bisnis memiliki risiko, baik usaha kecil maupun perusahaan besar.

Pedagang makanan dapat menghadapi risiko bahan baku rusak. Toko online dapat menghadapi risiko barang rusak saat pengiriman. Perusahaan manufaktur dapat mengalami kerusakan mesin. Bank menghadapi risiko kredit ketika debitur tidak mampu membayar pinjaman.

Bahkan bisnis yang terlihat sukses pun tetap memiliki risiko.

Perbedaannya adalah bagaimana setiap bisnis menghadapinya.

Bisnis yang tidak memiliki manajemen risiko cenderung hanya bereaksi ketika masalah sudah terjadi. Sementara itu, bisnis yang memiliki pengelolaan risiko yang baik berusaha mengenali potensi masalah sejak awal dan menyiapkan langkah untuk menguranginya.

Menurut saya, pola pikir seperti ini penting terutama bagi calon pengusaha muda. Jangan sampai kita hanya bertanya “Berapa keuntungan yang bisa saya dapatkan?”, tetapi tidak pernah bertanya “Berapa besar kerugian yang sanggup saya tanggung?”

Risiko Bukan Alasan untuk Tidak Berbisnis

Mendengar kata risiko, sebagian orang mungkin langsung berpikir tentang kerugian atau kegagalan.

Padahal, risiko tidak selalu berarti sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya.

Dalam bisnis, mengambil risiko merupakan bagian dari proses untuk mendapatkan peluang. Ketika perusahaan membuka cabang baru, meluncurkan produk baru, menggunakan teknologi baru, atau memasuki pasar baru, selalu ada ketidakpastian.

Masalahnya bukan apakah perusahaan berani mengambil risiko atau tidak.

Masalah yang lebih penting adalah apakah risiko tersebut sudah diperhitungkan?

Misalnya, seorang mahasiswa ingin membuka usaha minuman dengan modal Rp10 juta. Ia memperkirakan usahanya akan menghasilkan keuntungan Rp3 juta per bulan.

Perhitungan tersebut terlihat menarik. Namun, sebelum mengeluarkan modal, ia seharusnya mempertimbangkan beberapa kemungkinan.

Bagaimana jika penjualan hanya mencapai setengah dari target? Bagaimana jika harga bahan baku naik? Bagaimana jika lokasi usaha ternyata kurang ramai? Berapa lama modal masih dapat bertahan jika bisnis belum menghasilkan keuntungan?

Dengan memikirkan skenario tersebut, keputusan bisnis menjadi lebih realistis.

Kenali Risiko Sebelum Risiko Mengenali Kita

Menurut saya, langkah awal dalam manajemen risiko sebenarnya cukup sederhana: kenali risikonya terlebih dahulu.

Perusahaan perlu mengidentifikasi berbagai risiko yang mungkin muncul dalam kegiatan bisnis.

Secara umum, risiko dapat berasal dari berbagai sumber, seperti risiko operasional, keuangan, pasar, hukum, teknologi, reputasi, hingga sumber daya manusia.

Contohnya, sebuah bisnis online mungkin memiliki beberapa risiko sekaligus.

Dari sisi operasional, pesanan bisa terlambat diproses. Dari sisi keuangan, arus kas dapat terganggu. Dari sisi teknologi, sistem pembayaran dapat mengalami gangguan. Dari sisi reputasi, keluhan pelanggan dapat menyebar melalui media sosial.

Jika perusahaan sudah mengetahui kemungkinan tersebut, perusahaan dapat mempersiapkan tindakan untuk menghadapinya.

Sebaliknya, jika risiko tidak pernah dipikirkan, perusahaan akan lebih mudah panik ketika masalah benar-benar terjadi.

Risiko Keuangan Sering Kali Menjadi Masalah Besar

Salah satu risiko yang menurut saya paling penting untuk diperhatikan adalah risiko keuangan.

Tidak sedikit bisnis yang sebenarnya memiliki pelanggan, tetapi tetap mengalami kesulitan karena pengelolaan keuangannya kurang baik.

Misalnya, sebuah usaha memiliki penjualan tinggi, tetapi sebagian besar uang masih tertahan dalam piutang. Di atas kertas omzet terlihat besar, tetapi uang tunai yang tersedia tidak cukup untuk membayar pemasok dan biaya operasional.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa omzet tidak selalu sama dengan kondisi keuangan yang sehat.

Pelaku usaha perlu memperhatikan arus kas, utang, piutang, biaya operasional, dan dana cadangan.

Bagi bisnis kecil, pencatatan keuangan sederhana sudah menjadi langkah penting. Pemilik usaha perlu mengetahui berapa uang yang masuk, berapa uang yang keluar, serta berapa dana yang benar-benar tersedia.

Jangan sampai uang usaha tercampur dengan uang pribadi sehingga pemilik usaha sendiri tidak mengetahui apakah bisnisnya benar-benar menghasilkan keuntungan.

Risiko Operasional Juga Tidak Bisa Diremehkan

Selain keuangan, risiko operasional juga dapat mengganggu bisnis.

Risiko operasional muncul ketika proses internal tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penyebabnya dapat berupa kesalahan manusia, kegagalan sistem, kerusakan peralatan, atau proses kerja yang tidak efektif.

Contohnya sederhana.

Sebuah kedai makanan mendapatkan banyak pesanan pada akhir pekan. Karena tidak memiliki pembagian tugas yang jelas, karyawan menjadi kewalahan. Pesanan tertukar dan beberapa pelanggan menerima makanan yang salah.

Jika masalah tersebut terjadi terus-menerus, pelanggan bisa kecewa dan memilih tempat lain.

Padahal, masalahnya bukan karena produknya tidak enak. Masalahnya adalah proses operasionalnya tidak siap menghadapi peningkatan permintaan.

Dari sini kita dapat melihat bahwa manajemen risiko juga berhubungan erat dengan manajemen operasi.

Era Digital Membawa Risiko Baru

Perkembangan teknologi memberikan banyak manfaat bagi dunia bisnis. Namun, di sisi lain, digitalisasi juga membawa risiko baru.

Bisnis sekarang semakin bergantung pada sistem digital, media sosial, marketplace, dan pembayaran elektronik. Ketergantungan tersebut membuat perusahaan harus memperhatikan keamanan data dan sistem.

Bayangkan sebuah bisnis yang sebagian besar penjualannya berasal dari platform digital. Jika akun bisnis mengalami masalah atau sistem mengalami gangguan, kegiatan penjualan dapat ikut terganggu.

Selain itu, reputasi juga semakin mudah berubah di era media sosial.

Satu pelanggan yang kecewa dapat membuat unggahan yang kemudian dilihat oleh banyak orang. Jika perusahaan memberikan respons yang buruk, masalah kecil dapat berkembang menjadi masalah reputasi.

Karena itu, manajemen risiko di era digital tidak cukup hanya membahas uang dan operasional. Perusahaan juga perlu memperhatikan data, keamanan digital, dan reputasi.

Jangan Menunggu Masalah Baru Membuat Rencana

Salah satu kesalahan dalam mengelola risiko adalah baru membuat rencana setelah masalah terjadi.

Padahal, perusahaan seharusnya memiliki rencana sebelum menghadapi kondisi darurat.

Misalnya, bisnis perlu memiliki pemasok alternatif jika pemasok utama mengalami gangguan. Perusahaan juga dapat memiliki dana cadangan untuk menghadapi penurunan penjualan. Data penting perlu dicadangkan untuk mengantisipasi kehilangan data.

Langkah-langkah tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan perbedaan besar ketika terjadi masalah.

Menurut saya, manajemen risiko yang baik bukan tentang memprediksi masa depan secara sempurna. Tidak ada perusahaan yang dapat mengetahui semua kejadian yang akan terjadi.

Yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan beberapa kemungkinan dan menentukan apa yang harus dilakukan ketika kemungkinan tersebut benar-benar terjadi.

Mahasiswa Perlu Belajar Mengelola Risiko Sejak Sekarang

Sebagai mahasiswa manajemen, pembelajaran mengenai manajemen risiko sebenarnya tidak hanya berguna untuk perusahaan besar.

Konsep tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mengadakan kegiatan organisasi, misalnya, kita perlu memikirkan risiko kekurangan dana, peserta yang tidak hadir, perubahan jadwal, masalah teknis, hingga pembagian tugas yang tidak berjalan.

Ketika mengerjakan tugas kelompok, kita juga menghadapi risiko anggota tidak menyelesaikan tugas tepat waktu. Solusinya adalah membuat pembagian pekerjaan dan batas waktu yang jelas.

Artinya, manajemen risiko sebenarnya dekat dengan kehidupan kita.

Kita hanya perlu membiasakan diri untuk berpikir lebih terencana: apa yang mungkin salah, seberapa besar dampaknya, dan apa yang bisa kita lakukan untuk menguranginya?

Kemampuan tersebut nantinya akan sangat berguna ketika kita masuk ke dunia kerja atau membangun bisnis sendiri.

Risiko Tidak Harus Dihilangkan, tetapi Harus Dikelola

Pada akhirnya, bisnis tidak mungkin berjalan tanpa risiko.

Setiap keputusan selalu memiliki ketidakpastian. Bahkan keputusan untuk tidak melakukan sesuatu juga memiliki risiko tersendiri.

Karena itu, tujuan manajemen risiko bukan menghilangkan semua risiko. Hal tersebut hampir tidak mungkin dilakukan.

Tujuannya adalah mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan risiko agar dampaknya dapat diterima oleh perusahaan.

Menurut saya, perusahaan yang baik bukanlah perusahaan yang tidak pernah menghadapi masalah. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang mampu mempersiapkan diri, merespons masalah dengan cepat, dan belajar dari kesalahan yang terjadi.

Bagi kita sebagai mahasiswa, pola pikir tersebut juga penting untuk dibangun sejak sekarang.

Jangan hanya belajar bagaimana mendapatkan keuntungan. Belajarlah juga bagaimana mempertahankan bisnis ketika keadaan tidak sesuai dengan rencana.

Sebab, dalam dunia bisnis, keberanian mengambil peluang memang penting, tetapi keberanian tanpa perhitungan dapat berubah menjadi kerugian.

Pada akhirnya, bisnis bukan hanya tentang seberapa besar keuntungan yang bisa kita kejar, tetapi juga seberapa siap kita menghadapi risiko yang datang bersamanya.