Konten dari Pengguna

Bisnis Tanpa Strategi Hanya Mengandalkan Keberuntungan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi strategi perencanaan bisnis (pixabay.com/Peggy_Marco)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi strategi perencanaan bisnis (pixabay.com/Peggy_Marco)

Pernahkah kita melihat sebuah bisnis yang awalnya ramai, tetapi beberapa waktu kemudian mulai kehilangan pelanggan? Produk yang ditawarkan sebenarnya masih bagus. Promosinya juga tetap dilakukan. Namun, entah mengapa bisnis tersebut perlahan tertinggal dari pesaing.

Di sisi lain, ada bisnis yang mampu bertahan bahkan ketika tren pasar berubah. Mereka dapat menyesuaikan produk, memanfaatkan teknologi, memperbaiki pelayanan, atau menemukan pasar baru ketika kondisi tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Menurut saya, perbedaannya tidak selalu terletak pada modal atau keberuntungan. Salah satu faktor yang cukup menentukan adalah manajemen strategi.

Dalam dunia bisnis yang terus berubah, perusahaan tidak cukup hanya bekerja keras. Perusahaan juga perlu mengetahui ke mana arah yang ingin dituju dan bagaimana cara mencapainya. Kerja keras tanpa arah dapat membuat sumber daya habis, sedangkan strategi membantu perusahaan menentukan prioritas.

Bisnis Tidak Bisa Selamanya Mengandalkan Cara Lama

Dunia bisnis berubah dengan cepat. Perubahan teknologi, perilaku konsumen, kondisi ekonomi, hingga munculnya pesaing baru dapat membuat strategi yang sebelumnya berhasil menjadi kurang efektif.

Contohnya dapat kita lihat dari perubahan cara masyarakat berbelanja. Konsumen sekarang tidak hanya datang langsung ke toko, tetapi juga menggunakan marketplace, media sosial, dan berbagai platform digital.

Bagi perusahaan, perubahan tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang.

Bisnis yang mampu beradaptasi dapat menemukan cara baru untuk menjangkau pelanggan. Sebaliknya, bisnis yang terlalu nyaman dengan cara lama berisiko kehilangan relevansi.

Menurut saya, inilah alasan mengapa strategi bisnis tidak boleh dibuat sekali lalu dilupakan. Strategi perlu dievaluasi ketika lingkungan bisnis berubah.

Perusahaan harus terus bertanya: Apakah kebutuhan konsumen masih sama? Apakah pesaing sudah berubah? Apakah teknologi menciptakan peluang baru? Dan apakah cara kita menjalankan bisnis masih efektif?

Strategi Dimulai dari Menentukan Arah

Manajemen strategi pada dasarnya berkaitan dengan bagaimana organisasi menentukan arah, merumuskan strategi, melaksanakan strategi tersebut, kemudian mengevaluasi hasilnya.

Salah satu langkah awal yang penting adalah menentukan visi dan tujuan.

Tanpa tujuan yang jelas, perusahaan akan kesulitan menentukan prioritas. Semua peluang mungkin terlihat menarik sehingga perusahaan mencoba melakukan terlalu banyak hal sekaligus.

Misalnya, sebuah usaha makanan ingin meningkatkan penjualan. Pemiliknya kemudian mencoba membuka cabang, membuat produk baru, melakukan promosi besar-besaran, masuk marketplace, dan bekerja sama dengan banyak influencer dalam waktu yang bersamaan.

Sekilas terlihat agresif.

Namun, jika modal dan tenaga kerja terbatas, terlalu banyak strategi justru dapat membuat perusahaan kehilangan fokus.

Karena itu, strategi bukan tentang melakukan sebanyak mungkin hal. Strategi adalah tentang memilih apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan.

Kenali Kekuatan dan Kelemahan Bisnis

Sebelum menentukan strategi, perusahaan perlu memahami kondisi internalnya.

Salah satu alat yang sering digunakan adalah analisis SWOT, yaitu Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats.

Strengths menunjukkan kekuatan yang dimiliki perusahaan. Weaknesses menunjukkan kelemahannya. Opportunities menggambarkan peluang dari lingkungan eksternal, sedangkan Threats menunjukkan ancaman yang mungkin dihadapi.

Contohnya, sebuah kedai kopi kecil mungkin memiliki kekuatan berupa lokasi yang dekat dengan kampus dan harga yang terjangkau. Kelemahannya adalah tempat yang terbatas. Peluangnya adalah meningkatnya kebiasaan mahasiswa mengerjakan tugas di luar rumah. Sementara ancamannya adalah banyaknya kedai kopi baru di sekitar lokasi.

Dari analisis tersebut, pemilik bisnis dapat menentukan strategi yang lebih sesuai.

Misalnya, daripada bersaing dalam ukuran tempat, kedai tersebut dapat fokus pada harga mahasiswa, koneksi internet yang baik, pelayanan cepat, atau program loyalitas pelanggan.

Artinya, strategi yang baik tidak selalu membutuhkan modal paling besar. Yang lebih penting adalah kemampuan menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang.

Jangan Hanya Mengikuti Tren

Media sosial membuat tren bisnis bergerak sangat cepat.

Hari ini sebuah produk dapat viral dan mendapatkan jutaan penonton. Besok mungkin sudah muncul tren baru.

Situasi tersebut membuat banyak orang tertarik membuka bisnis karena melihat produk tertentu sedang ramai.

Namun, menurut saya, mengikuti tren tanpa strategi merupakan langkah yang cukup berisiko.

Produk yang sedang viral belum tentu memiliki permintaan jangka panjang. Jika semua orang menjual produk yang sama, persaingan juga semakin tinggi.

Pelaku usaha perlu melihat lebih jauh daripada sekadar popularitas.

Apakah konsumen benar-benar membutuhkan produk tersebut? Apakah permintaannya dapat bertahan? Apakah bisnis memiliki keunggulan dibandingkan pesaing? Apakah margin keuntungannya cukup?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar bisnis tidak hanya menjadi “bisnis musiman”.

Strategi seharusnya membuat perusahaan mampu membangun nilai yang bertahan lebih lama daripada sebuah tren.

Digitalisasi Harus Menjadi Bagian dari Strategi

Perkembangan teknologi membuat digitalisasi menjadi salah satu pertimbangan penting dalam strategi bisnis.

Namun, digitalisasi tidak seharusnya dilakukan hanya karena perusahaan ingin terlihat modern.

Penggunaan teknologi harus memiliki tujuan yang jelas.

Misalnya, bisnis dapat menggunakan sistem digital untuk mengelola persediaan, menganalisis perilaku pelanggan, meningkatkan pelayanan, memperluas pemasaran, atau membuat proses transaksi menjadi lebih mudah.

Bagi UMKM, media sosial juga dapat menjadi sarana membangun hubungan dengan pelanggan. Namun, memiliki akun media sosial saja tidak cukup. Konten yang dibuat harus sesuai dengan target pasar dan memiliki tujuan.

Jika target konsumennya mahasiswa, misalnya, gaya komunikasi, waktu publikasi, dan jenis konten dapat disesuaikan dengan karakteristik mereka.

Dengan demikian, teknologi seharusnya menjadi bagian dari strategi, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.

Strategi Bagus Tidak Ada Artinya Jika Tidak Dijalankan

Menurut saya, salah satu masalah dalam manajemen strategi adalah adanya jarak antara rencana dan pelaksanaan.

Perusahaan mungkin memiliki visi yang bagus, target yang jelas, bahkan strategi yang terlihat sempurna di atas kertas. Namun, semuanya tidak akan memberikan hasil jika tidak dilaksanakan dengan baik.

Implementasi membutuhkan sumber daya manusia, anggaran, koordinasi, kepemimpinan, serta pembagian tugas yang jelas.

Misalnya, perusahaan menetapkan target meningkatkan kepuasan pelanggan. Namun, karyawan tidak mendapatkan pelatihan dan tidak memiliki kewenangan untuk menyelesaikan keluhan pelanggan.

Target tersebut tentu akan sulit dicapai.

Karena itu, strategi bukan hanya tugas manajemen puncak. Setiap bagian dalam organisasi perlu memahami apa yang ingin dicapai dan bagaimana perannya dalam mencapai tujuan tersebut.

Evaluasi Jangan Menunggu Bisnis Gagal

Strategi yang sudah dijalankan juga harus dievaluasi.

Perusahaan perlu melihat apakah strategi tersebut menghasilkan perubahan yang diharapkan. Jika tidak, perusahaan harus berani melakukan penyesuaian.

Evaluasi bukan berarti strategi sebelumnya selalu salah. Kondisi lingkungan bisa saja berubah sehingga strategi yang dulu sesuai menjadi kurang relevan.

Misalnya, sebuah perusahaan mengandalkan penjualan melalui toko fisik. Ketika perilaku konsumen berubah dan transaksi online semakin penting, perusahaan perlu mengevaluasi kembali model bisnisnya.

Perusahaan dapat mempertimbangkan penjualan melalui marketplace, membangun kanal digital sendiri, atau mengembangkan sistem omnichannel.

Menurut saya, kemampuan mengevaluasi dan beradaptasi inilah yang membuat manajemen strategi menjadi proses yang terus berjalan.

Mahasiswa Juga Perlu Belajar Berpikir Strategis

Sebagai mahasiswa manajemen, mempelajari manajemen strategi seharusnya tidak berhenti pada menghafal pengertian, teori, atau jenis-jenis strategi.

Yang lebih penting adalah belajar berpikir strategis.

Berpikir strategis berarti mampu melihat kondisi saat ini, memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi, menentukan prioritas, dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan.

Kemampuan tersebut sebenarnya dapat dilatih melalui hal sederhana.

Ketika mengerjakan tugas kelompok, misalnya, kita perlu menentukan tujuan, membagi pekerjaan, mengatur waktu, dan mencari solusi jika terjadi masalah. Ketika menjalankan kegiatan organisasi, kita juga perlu mempertimbangkan sumber daya yang tersedia dan risiko yang mungkin muncul.

Semua itu merupakan bentuk sederhana dari proses berpikir strategis.

Kemampuan tersebut nantinya akan berguna ketika kita memasuki dunia kerja maupun ketika membangun usaha sendiri.

Strategi Bukan Tentang Menang Hari Ini Saja

Dalam persaingan bisnis, mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek memang penting. Namun, perusahaan juga perlu memikirkan keberlanjutan.

Jangan sampai perusahaan mendapatkan keuntungan besar hari ini tetapi kehilangan pelanggan dalam jangka panjang.

Strategi yang baik seharusnya mampu menciptakan keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang.

Perusahaan perlu mempertahankan pelanggan, menjaga kualitas, membangun reputasi, mengembangkan sumber daya manusia, dan terus berinovasi.

Dengan kata lain, strategi bukan hanya menjawab pertanyaan “Bagaimana kita menang sekarang?”, tetapi juga “Bagaimana kita tetap relevan di masa depan?”

Pada Akhirnya, Bisnis Membutuhkan Arah

Dari pembahasan tersebut, saya melihat bahwa manajemen strategi bukan sekadar teori yang dipelajari di ruang kelas. Konsep ini sangat dekat dengan kehidupan bisnis sehari-hari.

Bisnis membutuhkan tujuan yang jelas, pemahaman terhadap kondisi internal dan eksternal, kemampuan melihat peluang, keberanian mengambil keputusan, serta kemauan untuk mengevaluasi strategi.

Tidak semua strategi akan berhasil. Tidak semua keputusan akan menghasilkan keuntungan.

Namun, perusahaan yang memiliki pola pikir strategis akan lebih siap menghadapi perubahan dibandingkan perusahaan yang hanya mengandalkan keberuntungan.

Bisnis boleh dimulai dari keberanian, tetapi untuk bertahan dibutuhkan strategi.

Karena itu, ketika kita melihat sebuah bisnis sukses, jangan hanya melihat hasil akhirnya. Di balik kesuksesan tersebut biasanya terdapat berbagai keputusan tentang pasar mana yang dituju, pelanggan mana yang dilayani, sumber daya mana yang diprioritaskan, dan bagaimana perusahaan menghadapi perubahan.

Pada akhirnya, manajemen strategi mengajarkan satu hal sederhana: bekerja keras itu penting, tetapi mengetahui ke mana kita harus melangkah jauh lebih penting.