Bukan Hanya Soal Target: Pentingnya Perilaku Organisasi di Dunia Kerja

saya adalah mahasiswa dari universitas pamulang angkatan 2023
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membicarakan sebuah perusahaan, hal pertama yang sering muncul dalam pikiran kita mungkin adalah target penjualan, keuntungan, strategi bisnis, atau jumlah karyawan. Namun, ada satu hal yang terkadang terlupakan, yaitu manusia yang menjalankan semua aktivitas tersebut.
Sebuah perusahaan bisa memiliki modal yang besar, teknologi yang canggih, dan strategi bisnis yang bagus. Tetapi jika orang-orang di dalamnya tidak mampu bekerja sama, komunikasi buruk, dan sering terjadi konflik, apakah perusahaan tersebut dapat berjalan dengan baik?
Menurut saya, jawabannya cukup sulit.
Karena pada akhirnya, perusahaan bukan hanya kumpulan angka dan target. Perusahaan adalah kumpulan manusia yang memiliki karakter, cara berpikir, emosi, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda-beda.
Di sinilah pentingnya memahami perilaku organisasi.
Bekerja Bersama Tidak Berarti Selalu Mudah
Secara sederhana, perilaku organisasi membahas bagaimana individu dan kelompok berperilaku di dalam sebuah organisasi.
Kelihatannya sederhana, tetapi praktiknya tidak selalu mudah.
Bayangkan sebuah tim yang terdiri dari lima orang. Ada anggota yang sangat aktif memberikan ide, ada yang lebih suka bekerja sendiri, ada yang selalu tepat waktu, dan ada juga yang baru bekerja ketika mendekati deadline.
Perbedaan seperti ini sangat mungkin terjadi di tempat kerja.
Masalahnya bukan karena setiap orang memiliki karakter berbeda. Justru, perbedaan merupakan sesuatu yang wajar.
Yang menjadi tantangan adalah bagaimana perbedaan tersebut dapat dikelola sehingga tidak menghambat tujuan organisasi.
Menurut Robbins dan Judge (2022), perilaku organisasi membantu memahami bagaimana individu, kelompok, dan struktur memengaruhi perilaku dalam organisasi. Artinya, memahami perilaku organisasi dapat membantu perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang lebih efektif.
Karyawan Bukan Robot
Menurut saya, salah satu kesalahan dalam mengelola organisasi adalah menganggap karyawan hanya sebagai sumber daya untuk mencapai target.
Karyawan tentu memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan. Namun, mereka juga memiliki kondisi emosional, kebutuhan pribadi, harapan terhadap karier, dan kehidupan di luar pekerjaan.
Misalnya, seorang karyawan mengalami masalah pribadi yang membuat konsentrasinya menurun. Jika perusahaan hanya melihat angka produktivitas tanpa memahami kondisi tersebut, masalah mungkin justru menjadi lebih besar.
Bukan berarti perusahaan harus membiarkan karyawan bekerja tanpa target.
Target tetap diperlukan.
Namun, pemimpin juga perlu memahami bahwa manusia tidak selalu dapat bekerja dalam kondisi yang sama setiap hari.
Menurut saya, memahami manusia bukan berarti memanjakan karyawan. Memahami manusia berarti mengetahui cara mengelola mereka secara lebih tepat.
Komunikasi yang Buruk Bisa Menjadi Masalah Besar
Banyak masalah dalam organisasi sebenarnya berawal dari sesuatu yang sederhana: komunikasi.
Instruksi yang tidak jelas dapat menyebabkan pekerjaan salah. Informasi yang terlambat dapat menghambat pekerjaan. Komunikasi yang terlalu keras dapat menimbulkan konflik.
Sebaliknya, komunikasi yang baik dapat membuat pekerjaan menjadi lebih terarah.
Contohnya ketika seorang manajer memberikan tugas kepada karyawan. Tidak cukup hanya mengatakan, “Tolong selesaikan laporan ini secepatnya.”
Akan lebih baik jika disampaikan secara jelas mengenai tujuan laporan, batas waktu, format yang dibutuhkan, dan siapa saja yang perlu dilibatkan.
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dapat mengurangi kesalahpahaman.
Di era digital, tantangan komunikasi bahkan semakin besar karena komunikasi tidak selalu dilakukan secara langsung.
Pesan WhatsApp, email, grup kerja, dan berbagai platform digital dapat membuat informasi bergerak lebih cepat. Namun, pesan tertulis juga lebih mudah disalahartikan karena tidak memiliki ekspresi wajah dan intonasi suara.
Karena itu, kemampuan berkomunikasi menjadi bagian penting dalam perilaku organisasi.
Konflik Tidak Selalu Berarti Buruk
Ketika mendengar kata konflik di tempat kerja, kita mungkin langsung berpikir bahwa konflik harus dihindari.
Padahal, menurut saya, tidak semua konflik merupakan sesuatu yang buruk.
Perbedaan pendapat justru dapat menghasilkan ide baru jika dikelola dengan baik.
Misalnya, tim pemasaran memiliki perbedaan pendapat mengenai strategi promosi. Satu orang ingin menggunakan media sosial, sementara yang lain menganggap promosi melalui komunitas lebih efektif.
Perbedaan tersebut tidak harus berakhir dengan pertengkaran.
Jika setiap pihak menyampaikan alasan berdasarkan data dan tujuan yang jelas, konflik tersebut justru dapat membantu tim menemukan keputusan yang lebih baik.
Masalah muncul ketika konflik berubah menjadi serangan pribadi.
Ketika seseorang mulai mengatakan “ide kamu memang selalu buruk” daripada membahas “mengapa ide tersebut kurang sesuai dengan target pasar,” konflik sudah tidak lagi produktif.
Menurut saya, organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah memiliki konflik, tetapi organisasi yang mampu mengelola konflik secara dewasa.
Motivasi Tidak Selalu Berarti Uang
Ketika membahas motivasi kerja, hal pertama yang sering dipikirkan adalah gaji.
Memang, gaji merupakan salah satu faktor penting. Namun, menurut saya, uang bukan satu-satunya alasan seseorang mau bekerja dengan baik.
Penghargaan, kesempatan berkembang, lingkungan kerja, hubungan dengan atasan, rasa dihargai, dan kesempatan mendapatkan tanggung jawab baru juga dapat memengaruhi motivasi.
Bayangkan ada seorang karyawan yang mendapatkan gaji cukup baik, tetapi setiap idenya selalu diabaikan dan tidak pernah mendapatkan kesempatan berkembang.
Apakah ia akan tetap memiliki motivasi yang tinggi dalam jangka panjang?
Belum tentu.
Karena itu, perusahaan perlu memahami bahwa motivasi manusia memiliki banyak aspek.
Pemimpin tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama kepada semua orang.
Ada karyawan yang termotivasi oleh tantangan, ada yang menyukai apresiasi, dan ada yang lebih membutuhkan kesempatan belajar.
Di sinilah kemampuan memahami perilaku individu menjadi penting.
Lingkungan Kerja Bisa Mempengaruhi Kinerja
Pernahkah kita merasa lebih produktif ketika berada di lingkungan yang nyaman?
Saya rasa sebagian besar orang pernah mengalaminya.
Lingkungan kerja memiliki pengaruh terhadap bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya.
Jika lingkungan kerja dipenuhi rasa takut, saling menyalahkan, dan komunikasi yang buruk, karyawan mungkin hanya bekerja sekadar memenuhi kewajiban.
Sebaliknya, lingkungan yang memberikan rasa aman untuk menyampaikan pendapat dapat membuat karyawan lebih berani berinisiatif.
Hal ini juga berkaitan dengan apa yang sering disebut sebagai psychological safety, yaitu kondisi ketika seseorang merasa cukup aman untuk menyampaikan pendapat, bertanya, atau mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan.
Menurut saya, perusahaan perlu menciptakan lingkungan yang membuat karyawan berani berkata, “Saya punya ide,” sekaligus berani berkata, “Saya melakukan kesalahan.”
Keduanya sama-sama penting untuk proses belajar organisasi.
Pemimpin Juga Harus Memahami Perilaku Tim
Perilaku organisasi tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan.
Seorang pemimpin mungkin memiliki kemampuan teknis yang sangat baik. Namun, jika tidak mampu memahami anggota tim, kemampuan tersebut belum tentu menghasilkan kinerja organisasi yang optimal.
Pemimpin perlu memahami kapan harus memberikan arahan, kapan harus mendengarkan, kapan harus memberikan kebebasan, dan kapan harus turun tangan menyelesaikan masalah.
Pemimpin juga perlu menyadari bahwa setiap anggota tim memiliki karakter berbeda.
Cara berkomunikasi dengan karyawan yang baru bergabung mungkin berbeda dengan karyawan yang sudah berpengalaman.
Begitu juga dengan pemberian tanggung jawab. Ada orang yang berkembang ketika diberikan tantangan, tetapi ada juga yang membutuhkan pendampingan terlebih dahulu.
Karena itu, menjadi pemimpin bukan hanya tentang memberikan instruksi.
Pemimpin harus mampu membaca situasi dan memahami manusia yang dipimpinnya.
Mahasiswa Perlu Belajar Perilaku Organisasi Sejak Sekarang
Sebagai mahasiswa Manajemen, saya melihat bahwa perilaku organisasi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Ketika mengerjakan tugas kelompok, kita sudah berhadapan dengan pembagian tugas, komunikasi, kepemimpinan, konflik, motivasi, dan tanggung jawab.
Ketika mengikuti organisasi kampus, kita juga belajar bagaimana bekerja dengan orang yang memiliki karakter berbeda.
Bahkan ketika menjadi panitia sebuah acara, kita belajar bahwa rencana yang bagus belum tentu berjalan lancar jika komunikasi antaranggota tidak baik.
Pengalaman tersebut menurut saya merupakan latihan kecil sebelum memasuki dunia kerja.
Karena itu, belajar perilaku organisasi seharusnya tidak berhenti pada menghafalkan definisi dan teori untuk ujian.
Mahasiswa perlu mencoba menghubungkan teori tersebut dengan pengalaman nyata.
Sebab ketika nanti masuk dunia kerja, kita tidak hanya akan berhadapan dengan tugas dan target, tetapi juga dengan manusia.
Organisasi yang Sehat Dimulai dari Cara Memperlakukan Manusia
Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa bagus strategi bisnis yang dibuat.
Strategi memang penting. Teknologi juga penting. Keuangan juga penting.
Tetapi semua itu tetap dijalankan oleh manusia.
Jika manusia di dalam organisasi mampu bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, menyelesaikan konflik, memiliki motivasi, dan merasa dihargai, organisasi memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang.
Sebaliknya, jika masalah manusia terus diabaikan, strategi yang terlihat sempurna di atas kertas pun dapat mengalami kesulitan ketika diterapkan.
Karena itu, menurut saya, mempelajari perilaku organisasi bukan sekadar mempelajari bagaimana karyawan bekerja.
Kita sedang belajar bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.
Dan mungkin, sebelum sebuah perusahaan bertanya, “Bagaimana cara meningkatkan keuntungan?,” ada pertanyaan yang tidak kalah penting untuk dijawab:
“Apakah orang-orang yang menjalankan perusahaan ini sudah diperlakukan dan dikelola dengan baik?”
Sebab organisasi yang kuat bukan hanya dibangun dengan strategi yang hebat, tetapi juga dengan manusia yang mampu tumbuh dan bekerja bersama di dalamnya.
