Mengapa UMKM Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Harga Murah?

saya karyawan swasta, punya bisnis umkm, sekaligus mahasiswa semester 4 mahasiswa di universitas pamulang, karyawan swasta di PT Ready Indah
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari IKA PURNAMASARI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harga murah hampir selalu menjadi senjata yang menarik dalam persaingan bisnis. Ketika konsumen dihadapkan pada dua produk yang terlihat serupa, harga yang lebih rendah sering kali menjadi alasan untuk memilih salah satunya. Tidak mengherankan jika banyak pelaku usaha berlomba memberikan diskon, potongan harga, hingga berbagai promosi untuk memenangkan perhatian konsumen.
Namun, ada pertanyaan yang sering terlupakan, sampai kapan sebuah bisnis bisa bertahan hanya dengan mengandalkan harga murah?
Dalam perspektif manajemen strategi, persaingan bisnis tidak semata-mata mengenai siapa yang mampu menjual produk dengan harga paling rendah. Perusahaan juga harus memikirkan bagaimana menciptakan nilai yang membuat konsumen memiliki alasan untuk tetap memilih produknya ketika pesaing menawarkan harga yang lebih murah.
Harga murah memang dapat mendatangkan pelanggan. Akan tetapi, jika strategi tersebut tidak didukung oleh keunggulan lain, bisnis dapat terjebak dalam persaingan harga yang melelahkan. Ketika satu usaha menurunkan harga, pesaing dapat melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, keuntungan semakin tipis dan ruang untuk mengembangkan bisnis menjadi semakin terbatas.
Karena itu, pelaku usaha perlu membangun keunggulan kompetitif.
Salah satu caranya adalah melalui diferensiasi. Sebuah bisnis tidak harus menciptakan produk yang sepenuhnya baru untuk terlihat berbeda. Perbedaan dapat muncul dari kualitas produk, pelayanan, kemudahan pembelian, desain kemasan, kecepatan layanan, pengalaman pelanggan, hingga cara sebuah merek berkomunikasi dengan konsumennya.
Kita dapat melihat contoh sederhana dari bisnis makanan. Dua penjual mungkin menawarkan jenis makanan yang sama dan berada di lokasi yang berdekatan. Penjual pertama mengandalkan harga murah, sedangkan penjual kedua menawarkan kualitas yang konsisten, pelayanan cepat, kemasan menarik, serta aktif membangun hubungan dengan pelanggan melalui media sosial.
Jika konsumen memiliki pengalaman positif dengan penjual kedua, keputusan pembelian mereka tidak lagi hanya ditentukan oleh harga. Ada nilai lain yang ikut dipertimbangkan.
Di sinilah manajemen strategi menjadi penting.
Strategi bisnis seharusnya dimulai dengan memahami kondisi perusahaan dan lingkungannya. Pelaku usaha perlu mengetahui siapa target konsumennya, apa kebutuhan mereka, siapa pesaingnya, apa kekuatan bisnisnya, serta kelemahan apa yang harus diperbaiki.
Pendekatan sederhana seperti analisis SWOT dapat membantu pelaku usaha melihat kondisi tersebut. Kekuatan dan kelemahan berasal dari dalam bisnis, sedangkan peluang dan ancaman datang dari lingkungan eksternal. Dengan memahami keempat aspek tersebut, keputusan bisnis dapat dibuat dengan lebih terarah.
Perubahan teknologi juga membuat persaingan semakin dinamis. Media sosial memungkinkan bisnis kecil membangun merek tanpa harus memiliki anggaran promosi sebesar perusahaan besar. Namun, memiliki akun media sosial saja tidak otomatis menjadi strategi.
Pelaku usaha perlu mengetahui siapa yang ingin mereka jangkau, pesan apa yang ingin disampaikan, bagaimana membangun identitas merek, dan apakah aktivitas pemasaran tersebut benar-benar menghasilkan dampak bagi bisnis.
Hal yang sama berlaku untuk inovasi. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru. Mengubah cara pelayanan, memperbaiki proses operasional, menciptakan sistem pemesanan yang lebih mudah, atau memahami kebutuhan pelanggan dengan lebih baik juga merupakan bentuk inovasi.
Masalahnya, sebagian pelaku usaha masih melihat strategi sebagai sesuatu yang hanya diperlukan oleh perusahaan besar. Padahal, semakin kecil sebuah bisnis, semakin penting pula penggunaan sumber daya secara tepat. Modal yang terbatas membuat pelaku usaha tidak bisa mencoba semua hal sekaligus. Mereka harus menentukan prioritas dan memilih strategi yang sesuai dengan kemampuan.
Pada akhirnya, harga murah hanyalah salah satu bagian dari strategi bersaing. Bisnis yang terus menerus mengandalkan harga akan menghadapi tantangan ketika muncul pesaing yang mampu menawarkan harga lebih rendah.
Sebaliknya, bisnis yang mampu memberikan alasan lain bagi konsumen untuk memilih produknya memiliki dasar persaingan yang lebih beragam. Kualitas, pelayanan, inovasi, kepercayaan, dan pengalaman pelanggan dapat menjadi bagian dari nilai yang ditawarkan.
Persaingan bisnis seharusnya bukan hanya tentang menjadi yang paling murah, tetapi tentang menjadi pilihan yang memiliki alasan untuk dipilih.
Bagi pelaku UMKM maupun perusahaan yang sedang berkembang, pertanyaan strategisnya bukan lagi sekadar, “Bagaimana kita bisa menjual lebih murah?” Melainkan, “Apa yang membuat pelanggan memilih kita ketika ada banyak pilihan lain?”
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menjadi awal dari strategi bisnis yang lebih berkelanjutan.
Oleh: Ika Purnama, mahasiswa Program Studi S1 Manajemen, Universitas Pamulang.
