Hati Bahagia, Playlist Galau: Fenomena Gen Z Hobi Denger Lagu Sedih

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang dengan Program Studi Akuntansi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rifdah Salma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu memergoki temanmu—atau malah dirimu sendiri—sedang asyik memejamkan mata sambil mendengarkan lagu galau ber-melodi berat di pojokan kamar? Liriknya bercerita tentang dikhianati, ditinggal tanpa alasan, atau patah hati yang mendalam.
Lucunya, saat ditanya "Kamu lagi ada masalah sama pacar?", jawabannya justru: "Nggak ada kok, hubungan kita lagi romantis-romantisnya." Atau bahkan, "Yaa kan aku jomblo dari lahir!"
Fenomena menikmati lagu-lagu sedih tanpa sedang mengalami masa-masa sulit ini sudah jadi pemandangan lumrah di kalangan Gen Z. Musik galau tidak lagi eksklusif untuk mereka yang hatinya sedang hancur, melainkan sudah berubah fungsi menjadi genre hiburan harian yang disukai semua kondisi suasana hati.
Sad Song, Happy Brain: Estetika Melankolis
Secara psikologis, mendengarkan lagu sedih saat kondisi emosi sedang stabil sebenarnya memberikan efek yang menenangkan. Ada istilah bernama Paradoks Kenikmatan Musik Sedih (Sad Music Paradox).
Ketika kita mendengarkan lagu galau tanpa membawa beban emosional pribadi, otak kita merilis hormon prolaktin dan oksitosin—hormon yang memberikan rasa nyaman dan aman. Karena tidak ada rasa sakit hati yang nyata, kita bisa menikmati keindahan melodi, lirik yang puitis, dan kualitas vokal penyanyi secara murni sebagai sebuah seni.
Bagi Gen Z, lagu galau menyajikan estetika emosional tersendiri. Rasa "galau buatan" itu terasa seru untuk diresapi, mirip seperti efek ketika kita menonton film horor: ingin merasakan sensasi deg-degan atau sedih tanpa harus benar-benar mengalami kejadian menakutkan tersebut di kehidupan nyata.
Bahan Utama Konten dan Simulasi Skenario Fiktif
Selain faktor kenyamanan mendengarkan melodi, ada alasan lain yang lebih praktis di era media sosial hari ini: kebutuhan bahan konten dan daya imajinasi.
Simulasi "Patah Hati Fiktif": Banyak anak muda yang diam-diam suka membayangkan skenario drama di kepalanya sendiri (fake scenarios). Dengerin lagu galau sambil menatap jendela mobil yang kena tetesan air hujan adalah paduan sempurna untuk pura-pura jadi pemeran utama di dalam video musik.
Lirik-lirik lagu galau sering kali sangat quoteable. Menjadikan lagu sedih sebagai backsound Instagram Stories atau TikTok kerap dilakukan hanya karena lagunya lagi tren atau melodi gitarnya enak, bukan karena sedang curhat colongan.
Ketika Musik Galau Jadi Tempat Rehat
Pada akhirnya, kebiasaan mendengarkan lagu galau tanpa sebab ini adalah bentuk hiburan yang tidak merugikan siapa pun. Ini membuktikan bahwa musik memiliki daya sihir unik yang bisa menyentuh empati kita tanpa perlu menunggu rasa sakit yang asli datang.
Jadi, kalau kamu mendapati dirimu atau temanmu sedang galau berat di Spotify padahal hidupnya lagi adem-ayem saja, tidak perlu heran apalagi panik. Mereka tidak sedang butuh bahu untuk bersandar, mereka cuma lagi menikmati lagu!
