Layar Besar Cuma Pajangan: Saat TV Kalah Saing dari Ponsel Pintar

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang dengan Program Studi Akuntansi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rifdah Salma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Coba perhatikan suasana di ruang tamu atau kamar tidurmu. Ada sebuah layar hitam berukuran besar yang bertengger rapi di dinding atau di atas meja. Dulu, benda bernama televisi ini adalah pusat gravitasi rumah—tempat seluruh anggota keluarga berkumpul setiap sore dan malam untuk menyaksikan tayangan favorit bersama.
Namun hari ini, fungsinya sudah bergeser drastis. TV tersebut lebih sering dibiarkan mati, berdebu, dan berakhir hanya sebagai elemen dekorasi atau pajangan ruangan.
Bukan karena kita tidak lagi mengonsumsi konten hiburan, melainkan karena layar yang berada di genggaman tangan kita—alias smartphone—sudah resmi merebut takhta tersebut.
Era Konsumsi Konten yang Terpersonalisasi
Mengapa layar TV berukuran puluhan inci bisa dikalahkan oleh layar ponsel yang ukurannya tak seberapa? Jawabannya berakar pada kontrol dan fleksibilitas.
Televisi konvensional menyajikan tayangan yang sifatnya pasif dan terikat jadwal (linear TV). Kita harus menyesuaikan waktu dengan jam tayang acara. Sementara itu, generasi yang tumbuh di era digital menginginkan kendali penuh atas apa yang mereka tonton, kapan mereka menontonnya, dan di mana mereka berada.
Dengan adanya platform streaming, YouTube, hingga TikTok, anak muda bisa menikmati konten yang 100 persen sesuai dengan preferensi pribadi (hyper-personalized). Menonton film sambil rebahan di kasur, menyaksikan konten edukasi di angkutan umum, atau binge-watching serial di kamar jauh terasa lebih praktis dibanding harus duduk tegap di depan TV ruang tamu.
Second Screen dan Menurunnya Rentang Perhatian
Selain masalah kepraktisan, ada juga perubahan dalam cara kita berinteraksi dengan media. Anak muda zaman sekarang adalah penganut budaya multi-screening.
Bahkan ketika TV di rumah dinyalakan, layar besar tersebut sering kali cuma dijadikan background noise atau pemutar musik latar belakang. Atensi utama kita tetap tertuju pada layar ponsel yang sedang menyajikan feed media sosial, obrolan obrolan di aplikasi pesan, atau video pendek.
Kepraktisan layar HP yang bisa disentuh, digulir (scroll), dan dikomentari secara langsung memberikan sensasi interaktif yang tidak bisa ditawarkan oleh remote televisi biasa.
Meski sudah jarang dinyalakan untuk menonton siaran berita atau sinetron, keberadaan TV di rumah tidak serta-merta punah. Fungsinya saja yang berganti.
Kini, TV modern lebih sering dimanfaatkan untuk kebutuhan khusus yang butuh visual ekstra: bermain video game, menonton film bersama saat akhir pekan (movie night), atau sekadar dipasang wallpaper estetik agar ruangan tidak terlihat sepi.
Fenomena TV yang berakhir jadi pajangan ini menjadi bukti nyata bagaimana teknologi personal telah mengubah lanskap budaya kita. Pusat hiburan tidak lagi berada di ruang keluarga tempat orang-orang duduk bersama, melainkan berpindah ke dalam genggaman masing-masing individu.
