'Sumpah Ini Bagus Banget': Saat Belanjaan Kita Tergantung Siapa Influencer-nya

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang dengan Program Studi Akuntansi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rifdah Salma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu berada di kondisi sama sekali tidak berniat membeli barang apa pun, tetapi lima menit kemudian jarimu sudah menekan tombol check-out di aplikasi belanja online?
Alasannya sepele: sebuah video pendek berdurasi 30 detik mendadak lewat di FYP TikTok atau Instagram Stories. Di dalam video itu, content creator favoritmu sedang menggunakan sebuah produk sambil berucap dengan penuh keyakinan, "Sumpah, ini sebagus itu dan kalian wajib punya!"
Seketika itu juga, pertahanan finansial runtuh. Fenomena "terkena racun" ini membuktikan satu hal: keputusan belanja anak muda zaman sekarang tidak lagi didikte oleh iklan resmi brand di televisi, melainkan tergantung siapa sosok influencer yang mengulasnya.
Dari Iklan Kaku ke "Teman Curhat Virtual"
Mengapa kita jauh lebih gampang tergiur oleh rekomendasi influencer dibanding iklan komersial biasa? Jawabannya ada pada rasa percaya dan koneksi emosional (parasocial relationship).
Iklan konvensional kerap terasa kaku, formal, dan jelas-jelas berniat jualan. Sebaliknya, influencer mengemas promosi dengan gaya yang sangat personal, santai, dan seolah-olah sedang berbicara dengan teman sendiri. Ketika mereka memperlihatkan skincare, baju, hingga barang unik kamar tidur dengan latar ruangan rumah yang natural, produk tersebut terasa lebih nyata dan meyakinkan.
Masing-masing dari kita bahkan punya "kategori influencer kepercayaannya" sendiri:
Kalau mau beli skincare atau makeup, percayanya ke Si A karena jenis kulitnya mirip.
Kalau mau beli baju otfit of the day (OOTD), lihatnya ke Si B karena selera estetika tubuhnya sesuai.
Kalau mau beli barang gadget atau alat elektronik, patokannya ulasan Si C yang pembahasannya detail.
Ketika influencer andalan sudah mengeluarkan kalimat "approved", rasa ragu pembeli seolah langsung menguap.
Jebakan FOMO dan Validasi Komunitas
Selain faktor kepercayaan, ada juga dorongan rasa takut ketinggalan tren atau FOMO (Fear of Missing Out). Ketika suatu barang viral karena diulas oleh puluhan influencer secara serentak, barang tersebut mendadak berubah status dari sekadar "keinginan" menjadi "kebutuhan sosial".
Membeli barang yang direkomendasikan influencer memberikan kepuasan emosional tersendiri: kita merasa menjadi bagian dari tren, up-to-date, dan tidak kalah gaul dari orang lain di dunia maya.
Namun, di balik kepraktisannya, kebiasaan ini sering kali menyisakan penyesalan kecil. Tidak sedikit barang hasil racun influencer yang akhirnya cuma berakhir menumpuk di pojokan kamar atau meja rias—entah karena warnanya ternyata kurang pas, tidak cocok di kulit, atau sebenarnya memang tidak pernah kita butuhkan sejak awal.
Membeli barang atas rekomendasi influencer favorit tentu bukan hal yang dilarang. Kehadiran mereka sering kali sangat membantu kita dalam mencari ulasan barang yang praktis tanpa harus repot mencoba sendiri.
Hanya saja, tidak ada salahnya untuk memberi jeda beberapa jam atau menerapkan "aturan 24 jam" sebelum menekan tombol bayar. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku beneran butuh barang ini, atau cuma lapar mata karena yang ngomong orangnya keliatan keren?
Sebab pada akhirnya, sebagus apa pun ulasan dan gaya bicara influencer di layar ponselmu, uang yang terpotong dari rekening tetaplah uangmu sendiri!
