Artificial Intelligence (AI) dan Kebiasaan Baru dalam Kehidupan Kita
Tulisan dari Riky Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dulu, ketika kita ingin mencari jawaban atas sesuatu, pilihan yang tersedia cukup sederhana. Kita bisa bertanya kepada orang lain, membuka buku, mencari informasi di internet, atau mencoba mencari jawabannya sendiri. Sekarang, ada satu kebiasaan baru yang perlahan semakin sering dilakukan: “tanya AI .”

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun, di baliknya terdapat perubahan yang cukup besar dalam cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Artificial Intelligence (AI) yang awalnya dianggap sebagai teknologi masa depan kini sudah masuk ke berbagai aktivitas sehari-hari.
Mulai dari mahasiswa yang menggunakan AI untuk memahami materi kuliah, pekerja yang memanfaatkannya untuk membantu pekerjaan, kreator yang mencari ide konten, hingga masyarakat yang menggunakannya untuk menerjemahkan teks, membuat gambar, menyusun tulisan, atau sekadar mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam pikiran.
Fenomena tersebut bukan sekadar kesan bahwa AI semakin populer. Data menunjukkan bahwa penggunaannya di Indonesia memang berkembang cukup cepat.
Dalam laporan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 yang dirilis PwC pada 2026, 69% responden di Indonesia mengatakan mereka telah menggunakan generative AI dalam satu tahun terakhir, sementara 16% menggunakannya setiap hari. Angka penggunaan harian Indonesia bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan angka global sebesar 14%.
Artinya, AI tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang kita dengar dari berita tentang perkembangan teknologi. Bagi sebagian masyarakat, AI sudah mulai menjadi bagian dari rutinitas.
Dari Mencari Informasi hingga Meminta Jawaban
Salah satu perubahan yang sangat terlihat itu cara manusia mencari informasi.
Sebelum AI menjadi populer, ketika seseorang ingin mengetahui sesuatu, biasanya mereka akan memasukkan kata kunci ke mesin pencari, membuka beberapa situs, membaca informasi, lalu membandingkannya untuk mendapatkan jawaban yang dianggap paling sesuai.
Sekarang proses itu bisa terasa jauh lebih sederhana. Kita cukup menuliskan pertanyaan menggunakan bahasa sehari-hari dan AI dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik.
Kemudahan ini tentu membawa manfaat. Orang tidak perlu selalu memahami cara mencari informasi yang tepat terlebih dahulu. AI juga dapat membantu menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang lebih sederhana sesuai kebutuhan penggunanya.
Namun, kemudahan tersebut juga melahirkan kebiasaan baru.
Ketika seseorang terbiasa mendapatkan jawaban secara instan, muncul kemungkinan bahwa proses untuk mencari tahu secara mandiri menjadi semakin jarang dilakukan.
AI Mulai Menjadi Bagian dari Rutinitas
Perubahan akibat AI sebenarnya tidak hanya terjadi dalam aktivitas mencari informasi.
AI mulai digunakan dalam berbagai aktivitas yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga manusia. Mahasiswa menggunakannya untuk mencari ide dan memahami materi. Pekerja memanfaatkannya untuk membantu membuat dokumen atau menganalisis informasi. Kreator menggunakan AI untuk membuat konsep visual dan mencari inspirasi.
Bahkan dalam aktivitas sederhana, AI mulai digunakan sebagai tempat bertanya.
Ketika bingung memilih sesuatu, seseorang bisa meminta rekomendasi AI. Ketika tidak memahami sebuah istilah, AI bisa diminta menjelaskannya. Ketika kesulitan menyusun kalimat, AI dapat membantu memperbaikinya.
Survei Ipsos AI Monitor 2025 juga menunjukkan tingginya tingkat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap AI. Sebanyak 91% responden Indonesia mengatakan mereka memiliki pemahaman yang baik mengenai AI, menjadi angka tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara yang disurvei.
Angka tersebut menunjukkan bahwa AI semakin dikenal oleh masyarakat, bukan hanya sebagai istilah teknologi, tetapi sebagai sesuatu yang mulai dipahami dan digunakan.
Tanpa disadari, AI mulai berubah dari sekadar alat yang digunakan ketika dibutuhkan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Inilah fenomena yang menarik. Teknologi tidak hanya mengubah apa yang bisa dilakukan manusia, tetapi juga mengubah cara manusia melakukan sesuatu.
Dari Alat Bantu Menjadi Kebiasaan
Perubahan tersebut semakin terlihat di dunia kerja.
Dalam Work Trend Index 2026, Microsoft melaporkan bahwa 33% pekerja Indonesia termasuk dalam kategori “Frontier Professionals”, yaitu pekerja yang menggunakan AI secara lebih maju dan strategis. Angka tersebut lebih dari dua kali rata-rata global yang berada di angka 16%.
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak berhenti pada aktivitas sederhana seperti bertanya atau membuat tulisan. Sebagian pekerja mulai menggunakan AI sebagai bagian dari cara mereka menyelesaikan pekerjaan.
AI dapat membantu membuat rangkuman, mengolah informasi, menyusun ide, membantu analisis, hingga menangani pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan lebih banyak waktu.
Dengan kata lain, perubahan yang terjadi bukan hanya “manusia menggunakan AI”, tetapi mulai bergeser menjadi “manusia bekerja bersama AI.”
Perubahan cara bekerja tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi keterampilan yang dianggap penting. Jika sebagian pekerjaan teknis dan berulang dapat dibantu AI, kemampuan untuk memberikan arahan, memeriksa hasil, berpikir kritis, memahami konteks, dan mengambil keputusan justru menjadi semakin penting.
Kemudahan yang Bisa Menjadi Ketergantungan
Tidak ada yang salah dengan menggunakan AI untuk membantu pekerjaan. Justru salah satu tujuan teknologi adalah membuat pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan efisien.
Masalahnya muncul ketika kemudahan tersebut membuat manusia terlalu bergantung.
Misalnya, seseorang yang selalu meminta AI membuat tulisan mungkin lama-kelamaan menjadi kurang terbiasa menyusun ide sendiri. Orang yang selalu meminta jawaban dari AI mungkin menjadi kurang terdorong untuk mencari informasi dari berbagai sumber.
AI dapat memberikan jawaban dengan cepat, tetapi cepat bukan berarti selalu benar.
AI tetap bisa memberikan informasi yang kurang tepat atau bahkan keliru. Karena itu, kemampuan manusia untuk memeriksa informasi, membandingkan sumber, dan berpikir kritis tetap penting.
Menariknya, data PwC juga menunjukkan adanya perbedaan antara pengguna AI yang aktif dan yang jarang menggunakan AI. Di Indonesia, 96% pengguna GenAI harian mengatakan AI meningkatkan produktivitas mereka, dibandingkan 75% pengguna yang jarang menggunakannya. Pengguna harian juga lebih banyak merasa AI membantu keamanan pekerjaan dan potensi peningkatan penghasilan.
Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI secara rutin memang dapat memberikan manfaat. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena seseorang memiliki akses terhadap AI. Cara menggunakan dan mengintegrasikannya ke dalam aktivitas sehari-hari juga menjadi faktor penting.
Pada akhirnya, masalahnya bukan tentang apakah kita menggunakan AI atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakannya.
Generasi yang Tumbuh Bersama AI
Bagi generasi muda, perubahan ini mungkin terasa lebih besar karena AI hadir ketika mereka sedang belajar, kuliah, bekerja, dan membangun karier.
AI bisa menjadi alat belajar yang sangat membantu. Materi yang sulit dapat diminta untuk dijelaskan dengan bahasa sederhana. Ide yang masih berantakan dapat dikembangkan menjadi lebih terstruktur. Kesalahan dalam tulisan dapat diperiksa.
Namun, ada perbedaan antara menggunakan AI untuk belajar dan menggunakan AI untuk menggantikan proses belajar.
Jika AI digunakan untuk memahami sesuatu, teknologi tersebut dapat menjadi alat yang membantu manusia berkembang. Sebaliknya, jika semua proses berpikir diserahkan kepada AI, manusia justru berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuannya sendiri.
Karena itu, kemampuan yang penting di era AI bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan untuk menilai, mempertanyakan, dan mengambil keputusan.
AI Tidak Harus Menjadi Musuh Manusia
Perkembangan AI sering kali menimbulkan kekhawatiran. Ada yang takut pekerjaannya tergantikan, ada yang khawatir manusia menjadi malas berpikir, dan ada pula yang merasa kreativitas manusia akan semakin berkurang.
Kekhawatiran tersebut wajar. Namun, melihat AI hanya sebagai ancaman juga tidak sepenuhnya tepat.
Teknologi pada dasarnya adalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
Kalkulator tidak membuat manusia berhenti belajar matematika. Mesin pencari tidak membuat manusia berhenti belajar. Begitu juga AI seharusnya tidak membuat manusia berhenti berpikir.
Justru di tengah perkembangan AI, kemampuan manusia untuk berpikir kritis, memiliki kreativitas, memahami konteks, dan mengambil keputusan menjadi semakin penting.
Kita Sedang Membentuk Kebiasaan Baru
Mungkin perubahan terbesar dari AI bukanlah kemampuan teknologi itu sendiri, melainkan perubahan kecil yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Dulu kita terbiasa mencari sendiri. Sekarang kita bisa bertanya kepada AI.
Dulu kita mencoba menyusun tulisan dari awal. Sekarang kita bisa meminta AI membantu membuat kerangka.
Dulu ketika menemukan masalah, kita mungkin bertanya kepada teman atau mencari informasi dari berbagai sumber. Sekarang AI menjadi salah satu pilihan pertama.
Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan kecil dapat menjadi bagian dari cara hidup.
Data penggunaan AI di Indonesia menunjukkan bahwa perubahan tersebut bukan lagi sekadar kemungkinan di masa depan. AI sudah mulai menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat saat ini. Dengan 69% responden yang melaporkan pernah menggunakan GenAI dalam setahun terakhir dan 16% yang menggunakannya setiap hari, batas antara “teknologi” dan “kebiasaan sehari-hari” semakin tipis.
AI mungkin belum mengubah seluruh kehidupan manusia. Namun, sedikit demi sedikit, AI sudah mulai mengubah cara kita mencari informasi, belajar, bekerja, menciptakan sesuatu, dan mengambil keputusan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan masuk ke dalam kehidupan kita. AI sudah ada di sana.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita akan menggunakan AI untuk membuat manusia menjadi lebih baik, atau justru membiarkan kemudahan teknologi membuat kita berhenti berkembang?
Karena teknologi boleh menjadi semakin pintar, tetapi manusia tetap harus menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

