Laba Bank Woori Saudara Melonjak 7 Kali Lipat, Tapi Benarkah Kinerjanya Pulih?
Tulisan dari Rima Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Analisis perubahan kinerja keuangan Bank Woori Saudara Indonesia Tbk ditinjau dari laporan laba rugi dan kualitas kredit
Bayangkan sebuah bank yang tahun lalu rugi lebih dari Rp1 triliun, lalu enam bulan kemudian mencatat laba Rp594 miliar. Headline-nya terdengar seperti kisah comeback. Tapi sebelum ikut bersorak, kita bedah dulu apa yang sebenarnya terjadi di balik angkanya.
Cerita 2025: Laba Terkikis, Lalu Berbalik Rugi
Perjalanan Bank Woori Saudara (BWS) sepanjang 2025 cukup dramatis. Pada semester I, menurut Kompas.com, laba tahun berjalan tercatat Rp82,67 miliar. Memasuki kuartal III, Bloomberg Technoz melaporkan laba bersih anjlok 96,8% menjadi Rp14,69 miliar, dipicu lonjakan beban operasional dan biaya pencadangan.
Di tengah itu, muncul kabar kurang sedap. Katadata melaporkan bahwa pada pertengahan 2025, Woori Bank Korea mengungkap dugaan penipuan kredit di BWS yang melibatkan letter of credit senilai US$78,5 juta, sekitar Rp1,28 triliun, dengan kerugian sebenarnya masih diselidiki. Kita tidak bisa memastikan seberapa besar kasus ini memengaruhi angka tahunan, tapi waktunya patut dicatat.
Hasil akhirnya terlihat di laporan keuangan audit. Menurut laporan keuangan BWS 2025, bank mencatat rugi bersih Rp1,06 triliun. Penyebab utamanya ada di dua pos. Cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan membengkak menjadi Rp1,26 triliun, dan ada kerugian penurunan nilai goodwill Rp366 miliar. Pendapatan bunga bersihnya sendiri masih Rp1,64 triliun, jadi bisnis inti tidak ambruk. Yang menggerus adalah biaya "bersih-bersih" kredit dan goodwill.
Fakta: Semester I 2026, Laba Rp594 Miliar
Masuk 2026, kuartal I masih tertekan. Menurut Kontan, pendapatan bunga bersih turun 10,51% dan laba bersih turun sekitar 30,8% dibanding setahun sebelumnya. Tapi pada semester I, laba bersih BWS melonjak menjadi Rp594,09 miliar dari Rp82,67 miliar setahun sebelumnya, naik sekitar 7 kali lipat (laporan keuangan BWS, Juni 2026).
Menurut Investortrust, rasio BOPO membaik ke 88,42%, ROA naik jadi 0,87%, dan ROE jadi 11,52%. Dari sisi permodalan, CAR tercatat 32,03% pada Juni 2026.
Opini: Hati-hati, Lonjakan Ini Bukan Murni dari Bisnis
Di sinilah menurut saya angkanya perlu dibaca lebih jeli. Lihat laba rugi semester I 2026 lebih rinci. Laba sebelum pajak hanya Rp233,7 miliar, sementara laba bersihnya Rp594,1 miliar. Selisihnya karena ada manfaat pajak Rp360,4 miliar, yang di laporan keuangan dicatat sebagai manfaat pajak tangguhan (Catatan 22).
Artinya sekitar 61% laba bersih semester I berasal dari pos pajak, bukan dari bisnis perbankan sehari-hari. Penjelasan rincinya ada di catatan atas laporan keuangan, jadi saya tidak mau menebak penyebabnya. Tapi pesan buat pembaca jelas: laba bersih Rp594 miliar tidak sama dengan kinerja operasional yang melonjak 7 kali lipat.
Yang tetap positif adalah laba sebelum pajak yang memang naik lebih dari dua kali lipat, dari Rp110,4 miliar menjadi Rp233,7 miliar. Penyebabnya terutama biaya yang turun. Beban umum dan administrasi turun dari Rp567,8 miliar menjadi Rp414,0 miliar, dan beban pencadangan turun dari Rp130,7 miliar menjadi Rp86,9 miliar. Di sisi lain, pendapatan bunga bersih justru turun sekitar 9% menjadi Rp789,8 miliar.
Fakta: Kualitas Kredit, Kredit Susut dan Cadangan Ikut Turun
Sekarang bagian yang menurut saya paling penting dalam analisis bank: kualitas kredit. Menurut Kontan, sampai September 2025 rasio NPL bruto BWS 2,35% dan NPL neto 1,28%. Namun menurut Stockwatch yang mengutip laporan keuangan, NPL bruto per Maret 2026 naik ke 3,93%, dan NPL neto ke 2,45%. Dengan kata lain, rasio kredit bermasalah tampak lebih tinggi dibanding sebelum 2026.
Menurut Febriyanti dan Nurhamdi (2024), yang meneliti bank konvensional di BEI periode 2016–2023, NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Semakin tinggi NPL, semakin kecil peluang bank menghasilkan laba. Jadi NPL yang naik adalah sinyal yang wajar untuk diwaspadai, walaupun penelitian lain yang mereka kutip menemukan hasil berbeda (Setyarini, 2020).
Dari neraca resmi Juni 2026, kredit bruto BWS turun dari Rp43,41 triliun (Desember 2025) menjadi Rp40,34 triliun, atau sekitar 7,1%. Cadangan kerugian atas kredit juga turun dari Rp2,59 triliun menjadi Rp2,00 triliun. Kalau dihitung, rasio cadangan terhadap kredit bruto turun dari sekitar 5,96% menjadi 4,96%. Total aset pun menyusut dari Rp56,88 triliun menjadi Rp49,13 triliun.
Opini: Perbaikan Ada, Tapi Belum Bisa Disebut Pulih
Menurut saya, gambaran besarnya begini. Bank sedang mengecilkan neraca dan memangkas biaya. Hasilnya, laba sebelum pajak memang membaik. Ini selaras dengan arah yang dijelaskan manajemen kepada Kompas.com, yaitu pertumbuhan kredit selektif, pemantauan kredit, dan penyelesaian kredit bermasalah.
Tapi ada tiga hal yang membuat saya belum berani menyebutnya pulih. Pertama, laba semester I banyak ditopang pajak, bukan bisnis inti. Kedua, pendapatan bunga bersih masih turun, padahal itu sumber pendapatan utama bank, seperti dijelaskan dalam materi dasar laporan laba rugi bank. Ketiga, kredit susut dan NPL tampak lebih tinggi dibanding 2025, sementara rasio cadangannya turun. Turunnya cadangan memang bisa berarti kredit macet sudah dihapusbukukan, bukan cadangannya kurang. Tapi itu hipotesis saya, dan jawabannya perlu dicek di catatan atas laporan keuangan.
Satu catatan lain: CAR 32% menunjukkan modal bank sangat tebal, jadi ruang bernapasnya besar. Itu kabar baik, karena bank punya bantalan untuk menyerap kerugian sambil membersihkan kreditnya.

