Inflasi Melonjak di 2024: Penyebab, Dampak, dan Solusi yang Bisa Dilakukan

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi (S1)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rina Sari Ayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik sepanjang awal 2024. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan Indonesia menyentuh 5,2% pada Mei 2024, angka tertinggi dalam dua tahun terakhir. Lonjakan ini terutama didorong oleh kenaikan harga beras, cabai, dan minyak goreng yang mencapai 10-25%. Gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem El Niño yang mengurangi panen beras nasional menjadi salah satu pemicu utamanya. Selain itu, kenaikan harga energi global menyusul konflik geopolitik turut mendorong biaya transportasi dan produksi. Melemahnya nilai tukar rupiah ke level Rp 16.200 per dolar AS juga membuat harga impor menjadi lebih mahal.
Dampaknya langsung terasa di kehidupan sehari-hari masyarakat. Upah buruh harian nyatanya turun 2,3% karena kenaikan harga lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan. Pedagang kecil pun mengeluh margin untung mereka menyusut akibat melambungnya harga bahan baku. Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia merespons dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 6,25%, sementara pemerintah menggelontorkan subsidi tambahan Rp 30 triliun untuk BBM dan listrik. Namun, para ekonom menyarankan solusi jangka panjang seperti modernisasi sektor pertanian untuk mencegah krisis serupa di masa depan.
Beberapa faktor struktural menjadi penyebab inflasi kali ini. Di tingkat global, harga minyak mentah dunia yang mencapai US$95 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi domestik. Di sisi pasokan, produksi beras nasional turun 1,5 juta ton akibat dampak El Niño yang mengganggu pola tanam. Masalah logistik dan distribusi di beberapa daerah turut memperparah situasi, dengan biaya transportasi meningkat 15% sejak awal tahun. Nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp16.200/USD juga berkontribusi pada kenaikan harga barang impor, termasuk bahan baku industri.
Dampak inflasi ini sangat terasa di tingkat rumah tangga. Survei BPS menunjukkan daya beli masyarakat menurun, dengan 72% responden mengaku mengurangi konsumsi beberapa barang. Upah riil pekerja formal hanya tumbuh 2,1%, jauh di bawah inflasi, sementara pekerja informal justru mengalami penurunan pendapatan riil sebesar 3,5%. Sektor UMKM juga terkena dampak signifikan, dengan 65% pelaku usaha melaporkan penurunan margin keuntungan akibat kenaikan biaya produksi. Bank Indonesia merespons dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 6,25%, langkah yang diharapkan dapat meredam tekanan inflasi namun berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit.
Pemerintah telah mengambil beberapa langkah darurat, termasuk memperpanjang subsidi BBM senilai Rp30 triliun dan menyalurkan bantuan pangan untuk 20 juta keluarga miskin. Namun, ekonom menyarankan perlunya reformasi struktural seperti peningkatan produktivitas pertanian melalui mekanisasi, perbaikan sistem logistik nasional, dan diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Tanpa langkah-langkah fundamental ini, Indonesia berisiko menghadapi stagflasi di mana inflasi tinggi beriringan dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat.
