Konten dari Pengguna

AI, Ketangkasan, dan Eksekusi: Wajah Baru Manajemen Strategi di 2026

Riris Tirani

Riris Tirani

Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riris Tirani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manajemen strategi dulu identik dengan dokumen rencana lima tahunan yang disusun direksi lalu disimpan di laci. Tahun 2026 gambarnya berbeda. Tiga tema paling ramai dibicarakan saat ini: AI sebagai aset strategis, strategic thinking yang dituntut dari semua level pemimpin, dan kemampuan eksekusi sebagai pembeda pemenang dan pecundang.

1. AI: dari alat bantu menjadi aset strategis

Salah satu kajian yang beredar menyebut bahwa di lanskap bisnis 2026, AI sudah berkembang dari sekadar alat pendukung menjadi aset strategis inti. Angkanya ikut bicara: menurut IMD Business School, perusahaan berencana menggandakan belanja AI pada 2026, dari 0,8 persen menjadi sekitar 1,7 persen dari pendapatan. Pembedanya bukan siapa yang paling banyak membeli teknologi, melainkan siapa yang memakainya dengan terarah. IMD menegaskan bahwa selisihnya terletak pada penerapan yang strategis, bukan eksperimen yang tercecer.

Konsekuensinya, pertanyaan strategis bergeser. Bukan lagi "perlukah kita pakai AI?", melainkan "keputusan mana yang layak didelegasikan ke AI, dan mana yang tetap harus dipegang manusia?"

2. Berpikir strategis bukan lagi monopoli direksi

IMD mencatat bahwa kapabilitas strategis yang dulu hanya dituntut dari level C-suite kini menjadi syarat dasar di berbagai level kepemimpinan. Seorang kepala divisi, manajer cabang, bahkan pemilik usaha kecil perlu bisa membaca perubahan pasar, memilih prioritas, dan menyesuaikan arah dengan cepat.

Kepemimpinan strategis yang baik, menurut IMD, menyeimbangkan visi dengan eksekusi, kreativitas dengan analisis, serta perencanaan jangka panjang dengan kemampuan beradaptasi. Dalam praktik, rencana strategis tidak lagi dikunci setahun penuh. Siklusnya dibuat bergulir dan ditinjau lebih sering.

3. Eksekusi: bagian yang paling sering gagal

Banyak organisasi pandai menyusun strategi tetapi tersendat saat menjalankannya. The KPI Institute menyimpulkan dalam survei strategi 2026 bahwa kemampuan eksekusi akan menentukan keberhasilan organisasi pada 2026. Temuan tahun sebelumnya menunjukkan perencanaan strategis makin formal dan terstruktur, tetapi masih ada kesenjangan kapabilitas dan eksekusi, terutama antara organisasi besar dan UKM.

Alat yang biasa dipakai untuk menjembatani kesenjangan ini adalah indikator kinerja (KPI) yang jelas, dipantau lewat dasbor yang mudah dibaca, dan dikaitkan langsung dengan tujuan strategis. Rencana yang tidak bisa diukur hampir mustahil dieksekusi dengan disiplin.

4. Kepemimpinan yang tetap berpusat pada manusia

Di tengah gelombang otomatisasi, IMD justru menekankan bahwa pendekatan yang berpusat pada manusia menjadikan pemahaman kebutuhan tenaga kerja sebagai imperatif strategis, bukan urusan tambahan HR. Pengelolaan tim jarak jauh pun membutuhkan arahan taktis yang jelas dan pedoman konektivitas yang eksplisit.

Satu istilah yang muncul dalam kajian akademik adalah "Centaur Management", yaitu perpaduan kekuatan analitik AI dengan penilaian, etika, dan empati manusia. Kajian yang sama juga mengingatkan tantangan seperti kebutuhan akan explainable AI: pemimpin sulit mempercayai rekomendasi yang tidak bisa dijelaskan alasannya. Perlu dicatat, sumber ini berupa dokumen akademik yang belum jelas peninjauannya, jadi diperlakukan sebagai gambaran arah diskusi, bukan bukti pasti.

Apa artinya bagi pelaku usaha di Indonesia?

Bagian ini merupakan analisis penulis, bukan kutipan sumber.

• Mulai dari masalah, bukan dari teknologi. Pilih satu proses (misalnya pencatatan keuangan atau peramalan stok) yang paling menyita waktu, lalu uji AI di sana sebelum meluas.

• Pendekatan strategis bisa dilakukan dalam skala kecil. Untuk UMKM, cukup tiga hal: tujuan tahun ini, tiga indikator yang dipantau tiap bulan, dan tinjauan rutin untuk menyesuaikan arah.

• Eksekusi adalah keunggulan yang paling terjangkau. Kesenjangan UKM terhadap perusahaan besar cenderung ada di disiplin menjalankan dan mengukur, bukan di besarnya modal.

• Pertahankan sentuhan manusia. Keputusan yang menyangkut orang, seperti rekrutmen, penilaian kinerja, dan hubungan pelanggan, tetap perlu pertimbangan manusia, dengan AI sebagai pendukung.

Manajemen strategi 2026 bergerak ke arah yang lebih lincah, lebih berbasis data, dan lebih menuntut disiplin eksekusi. Teknologi seperti AI mempercepat, tetapi arah, nilai, dan keputusan akhir tetap berada di tangan pemimpin. Organisasi yang unggul adalah yang bisa menggabungkan keduanya.

Proses manajemen strategi. Sumber: ilustrasi oleh penulis (2026) Dibuat dengan bantuan Claude (Anthropic).