Konten dari Pengguna

Dari Lokal ke Pasar Jepang: Bahan Pangan Sederhana Membutuhkan Strategi Global

Riris Tirani

Riris Tirani

Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riris Tirani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ditulis oleh: Riris Tirani - Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Pamulang

Kasus produk singkong Indonesia yang ingin memasuki pasar Jepang menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk. Perusahaan juga perlu memahami karakteristik pasar, kebutuhan konsumen, budaya, regulasi, hingga persaingan di negara tujuan.

Singkong mungkin terlihat sebagai bahan pangan sederhana yang mudah ditemukan di berbagai daerah Indonesia. Selama ini, singkong lebih banyak dikenal sebagai bahan makanan tradisional atau dijual dalam bentuk bahan mentah. Namun, bagaimana jika bahan pangan sederhana tersebut ingin dibawa ke pasar Jepang?

Pertanyaan tersebut ternyata tidak sesederhana memindahkan produk dari satu negara ke negara lain. Ketika sebuah produk lokal ingin memasuki pasar internasional, perusahaan harus berhadapan dengan perbedaan selera konsumen, standar kualitas, budaya, regulasi, hingga persaingan.

Di sinilah manajemen strategi menjadi penting.

Bayangkan sebuah usaha pangan di Indonesia memiliki akses terhadap singkong dalam jumlah cukup besar. Selama ini singkong dijual sebagai bahan mentah dengan nilai ekonomi yang terbatas. Pemilik usaha kemudian melihat peluang untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan singkong menjadi makanan ringan dan memasarkannya ke Jepang.

Ide tersebut menarik. Namun, produk yang berhasil dijual di Indonesia belum tentu otomatis diterima konsumen Jepang.

Bukan Sekadar Mengirim Produk

Kesalahan yang mungkin terjadi ketika pelaku usaha mulai berpikir tentang ekspor adalah menganggap pasar luar negeri hanya sebagai tempat baru untuk menjual produk yang sudah ada. Padahal, setiap pasar memiliki karakteristik sendiri. Jika produk singkong ingin masuk ke Jepang, pelaku usaha perlu memahami bagaimana konsumen Jepang melihat produk makanan ringan, bagaimana standar keamanan pangan diterapkan, bagaimana produk dikemas, bagaimana informasi produk disampaikan, hingga bagaimana produk tersebut didistribusikan. Dengan kata lain, strategi ekspor tidak dimulai dari pertanyaan “berapa banyak produk yang bisa dikirim?”, tetapi dari pertanyaan “apakah produk ini sesuai dengan kebutuhan pasar yang dituju?”

Mengubah Singkong Menjadi Produk Bernilai Tambah

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah mengubah singkong dari komoditas menjadi produk bernilai tambah. Singkong dapat dikembangkan menjadi berbagai produk seperti cassava chips, cassava crackers, atau makanan ringan berbasis tepung mocaf. Perubahan ini penting karena perusahaan tidak lagi hanya menjual bahan baku. Perusahaan mulai menjual nilai, yaitu rasa, kualitas, kemasan, kepraktisan, dan identitas produk. Dalam perspektif manajemen strategi, langkah tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk diferensiasi produk. Produk dapat tetap membawa identitas Indonesia, tetapi cara penyajiannya dibuat lebih sesuai dengan karakter pasar Jepang.Misalnya, daripada hanya menggunakan label “keripik singkong”, produk dapat diposisikan sebagai makanan ringan berbasis singkong Indonesia dengan kemasan modern dan informasi yang mudah dipahami konsumen Jepang.

Membaca Kekuatan dan Kelemahan

Sebelum melakukan ekspansi, perusahaan juga perlu melihat kondisi internalnya. Singkong Indonesia menjadi salah satu kekuatan karena bahan bakunya tersedia dan dapat diolah menjadi berbagai produk. Selain itu, produk berbasis bahan lokal memiliki cerita yang dapat menjadi bagian dari identitas merek.

Namun, terdapat kelemahan yang perlu diperhatikan. Pelaku usaha mungkin belum memiliki pengalaman ekspor, kapasitas produksi masih terbatas, serta belum memahami secara mendalam karakteristik pasar Jepang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi bukan hanya membutuhkan produk yang bagus, tetapi juga kesiapan organisasi. Peluang Ada, Tantangan Juga Besar Dari sisi eksternal, pasar Jepang dapat memberikan peluang bagi produk pangan yang memiliki keunikan dan nilai tambah. Namun, peluang tersebut datang bersama tantangan. Perusahaan harus menghadapi persaingan, biaya distribusi, perbedaan preferensi konsumen, serta berbagai persyaratan yang berkaitan dengan keamanan dan perdagangan pangan.

Karena itu, analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dapat digunakan untuk membantu perusahaan menentukan strategi. Kekuatan produk digunakan untuk menangkap peluang, kelemahan diperbaiki, sementara ancaman diantisipasi sejak awal.

Strategi Tidak Harus Langsung Besar

Ekspansi ke luar negeri juga tidak harus dimulai dengan mengirim produk dalam jumlah besar.

Strategi yang lebih hati-hati dapat dilakukan melalui uji pasar. Perusahaan dapat memulai dari volume kecil, melihat respons konsumen, mengevaluasi penjualan, kemudian melakukan perbaikan sebelum memperluas distribusi.

Cara ini penting untuk mengurangi risiko. Jika konsumen ternyata lebih menyukai rasa tertentu, kemasan tertentu, atau ukuran tertentu, perusahaan memiliki kesempatan untuk melakukan penyesuaian. Dengan demikian, strategi tidak menjadi keputusan yang kaku. Strategi justru menjadi proses yang terus dievaluasi berdasarkan perubahan lingkungan.

Identitas Lokal, Cara Berpikir Global

Menariknya, ekspansi ke luar negeri tidak berarti produk Indonesia harus kehilangan identitasnya. Justru identitas sebagai produk Indonesia dapat menjadi keunggulan. Singkong yang selama ini dianggap sebagai bahan pangan sederhana dapat memiliki cerita baru ketika dikemas sebagai produk Indonesia yang berkualitas dan mampu bersaing di pasar internasional.

Di sinilah strategi standardisasi dan adaptasi harus berjalan bersama. Identitas dan kualitas utama produk dipertahankan, sementara aspek tertentu seperti kemasan, komunikasi pemasaran, ukuran, dan cara penyajian dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Dari Singkong, Kita Belajar tentang Strategi

Kasus singkong Indonesia ke Jepang menunjukkan bahwa manajemen strategi sebenarnya dekat dengan kehidupan bisnis sehari-hari. Pelaku usaha perlu mengetahui apa yang dimiliki, memahami kekurangan, membaca peluang, mengenali ancaman, kemudian menentukan tindakan yang paling tepat. Ekspansi internasional bukan sekadar persoalan menjual produk ke negara lain. Di dalamnya terdapat proses pengambilan keputusan yang membutuhkan riset, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

Singkong mungkin berasal dari tanah Indonesia. Namun, ketika ingin dibawa ke pasar Jepang, cara berpikir pengusahanya harus berubah. Bukan lagi sekadar “bagaimana menjual singkong?”, tetapi menjadi “bagaimana mengubah singkong menjadi produk yang memiliki nilai dan relevan bagi konsumen global?”

Sumber: Shutterstock