Pengelolaan Keuangan Bank Sampah: Langkah Karang Taruna 03 Menuju Kemandirian

Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Riris Tirani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Riris Tirani, Andira Aprilyanti, Nanda Azhari – Universitas Pamulang
Bekasi — Bagaimana bank sampah bisa bertahan tanpa terus bergantung pada bantuan pemerintah? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal menarik dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan pada 11 Oktober 2026 di Pos Sekretariat RW 04, Kota Bekasi. Kegiatan ini melibatkan 15 peserta dari mitra Karang Taruna 03 Jatiranggon dan membahas penguatan pengelolaan bank sampah dari sisi sumber daya manusia, pemasaran, hingga keuangan.
Kegiatan PKM ini mengangkat tema besar “Penguatan Manajemen Bank Sampah Karang Taruna Melalui Peningkatan Kapasitas SDM, Pengelolaan Keuangan dan Strategi Pemasaran Berkelanjutan.” Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya memberikan pemahaman dan pendampingan yang dapat diterapkan dalam aktivitas bank sampah sehari-hari.
Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi tiga kelompok pemateri. Kelompok pertama membahas pengelolaan sumber daya manusia (SDM), kelompok kedua menyampaikan strategi pemasaran, sedangkan kelompok ketiga membahas pengelolaan keuangan bank sampah.
Riris Tirani bersama Andira Aprilyanti dan Nanda Azhari tergabung dalam kelompok ketiga yang berfokus pada pengelolaan keuangan. Kami membawakan materi berjudul “Pendampingan Pengelolaan Keuangan Bank Sampah bagi Karang Taruna 03 melalui Perbaikan Administrasi dan Sistem Pencatatan Kas yang Transparan.”
Mengapa Pengelolaan Keuangan Bank Sampah Penting?
Ketika mendengar istilah bank sampah, sebagian orang mungkin langsung membayangkan kegiatan mengumpulkan, menimbang, dan menjual sampah kepada pengepul. Padahal, ada proses administrasi dan pengelolaan uang yang juga perlu diperhatikan agar kegiatan tersebut bisa berjalan secara berkelanjutan.
Dalam materi yang kami sampaikan, terdapat beberapa persoalan administrasi yang perlu diantisipasi dalam pengelolaan bank sampah, seperti pencatatan uang masuk dan keluar yang belum teratur, penyusunan laporan yang membutuhkan waktu, serta belum adanya format pencatatan yang seragam.
Pemisahan dana juga menjadi hal penting. Uang yang menjadi hak nasabah perlu dibedakan dari dana operasional bank sampah agar pengurus dapat mengetahui jumlah dana yang tersedia dan penggunaannya dengan lebih jelas.
Dari persoalan tersebut, kami memperkenalkan sistem pencatatan keuangan yang sederhana, rapi, dan transparan. Tujuannya bukan membuat pekerjaan pengurus menjadi lebih rumit, melainkan membantu mereka mengelola keuangan dengan lebih mudah dan terarah.
Dari Catatan Manual Menuju Pencatatan yang Lebih Teratur
Salah satu materi utama yang kami bawakan adalah perubahan dari pencatatan yang tidak terstruktur menuju sistem administrasi yang lebih tertata dengan bantuan template Excel.
Kami menjelaskan bahwa pencatatan keuangan dapat dimulai melalui tiga instrumen utama, yaitu daftar harga sampah, catatan setoran nasabah, dan buku kas.
Daftar harga digunakan untuk mencatat jenis sampah beserta harga pembelian dari nasabah dan harga penjualan kepada pengepul. Catatan setoran berisi informasi tanggal, nama nasabah, jenis sampah, berat, serta nilai setoran. Sementara itu, buku kas digunakan untuk mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran agar saldo dapat dipantau.
Sebagai contoh, ketika nasabah menyetorkan botol plastik atau kardus, pengurus perlu mencatat berat sampah dan harga per kilogram yang berlaku. Nilai setoran kemudian dihitung berdasarkan berat dikalikan harga per kilogram.
Ketika sampah dijual kepada pengepul, hasil penjualan tersebut dicatat sebagai pemasukan. Pengeluaran untuk pembayaran nasabah maupun kebutuhan operasional juga harus dicatat berdasarkan transaksi yang sebenarnya.
Melalui cara ini, pengurus dapat menelusuri perjalanan uang sejak sampah disetorkan hingga hasil penjualannya digunakan. Bukti transaksi seperti nota juga perlu disimpan sebagai pendukung pencatatan.
Kami turut memperkenalkan konsep laporan bulanan yang berisi total sampah terkumpul, nilai setoran nasabah, pemasukan, pengeluaran, dan saldo kas. Dengan bantuan Excel, perhitungan dapat dibuat lebih praktis selama data transaksi dimasukkan dengan benar.
Bagi kami, pencatatan yang transparan bukan hanya berkaitan dengan angka. Lebih dari itu, keterbukaan keuangan dapat membantu membangun kepercayaan antara pengurus, nasabah, dan masyarakat.
Pertanyaan Yuda tentang Kemandirian Finansial Bank Sampah
Salah satu momen yang menarik terjadi saat sesi tanya jawab. Seorang peserta bernama Yuda mengajukan pertanyaan yang cukup penting: bagaimana cara membuat bank sampah mandiri secara finansial tanpa terus bergantung pada bantuan pemerintah?
Pertanyaan tersebut membuka pembahasan bahwa keberlanjutan bank sampah tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan mengumpulkan dan menjual sampah. Pengurus juga perlu memikirkan cara meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang terkumpul.
Menanggapi pertanyaan itu, kami menyampaikan bahwa sampah tidak selalu harus berakhir sebagai barang yang dijual kepada pengepul. Sebagian jenis limbah masih dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Sebagai contoh, botol plastik bekas dapat dimanfaatkan menjadi gantungan kunci atau keychain melalui proses pengolahan dan kreativitas. Produk tersebut kemudian bisa dipasarkan kepada masyarakat melalui bazar, kegiatan komunitas, maupun media sosial.
Dengan demikian, bank sampah tidak hanya memperoleh pemasukan dari penjualan sampah mentah, tetapi juga berpeluang mendapatkan tambahan pendapatan dari produk hasil daur ulang.
Namun, upaya tersebut tetap membutuhkan perencanaan. Pengurus perlu memperhitungkan biaya bahan tambahan, waktu produksi, harga jual, serta potensi permintaan pasar agar produk yang dihasilkan benar-benar memberikan keuntungan.
Menurut kami, inilah salah satu cara yang dapat dikembangkan untuk mendorong kemandirian finansial bank sampah. Bantuan pemerintah tetap dapat dimanfaatkan sebagai dukungan, tetapi bank sampah juga perlu membangun sumber pendapatan sendiri agar kegiatan operasionalnya dapat terus berjalan.
Keuangan, Pemasaran, dan SDM Harus Berjalan Bersama
Kemandirian bank sampah tentu tidak bisa dicapai hanya dengan memperbaiki pencatatan keuangan. Pengelolaan sumber daya manusia dan strategi pemasaran juga memiliki peran yang saling berkaitan.
Pengurus perlu memahami tugas masing-masing, memiliki kemampuan mengelola administrasi, dan mampu bekerja sama dalam menjalankan kegiatan. Di sisi lain, strategi pemasaran dibutuhkan agar produk hasil daur ulang dapat dikenal dan dibeli oleh masyarakat.
Sementara itu, pencatatan keuangan membantu pengurus mengetahui apakah kegiatan yang dilakukan menghasilkan keuntungan atau justru menambah pengeluaran.
Ketiga aspek tersebut menjadi alasan mengapa kegiatan PKM ini dirancang melalui tiga kelompok pemateri. Harapannya, materi yang disampaikan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat menjadi bekal bagi Karang Taruna 03 Jatiranggon untuk mengembangkan pengelolaan bank sampah secara lebih terarah.
Belajar Bersama untuk Bank Sampah yang Berkelanjutan
Setelah masing-masing kelompok menyampaikan materi, kegiatan PKM dilanjutkan hingga seluruh rangkaian acara selesai. Dengan melibatkan 15 peserta dari mitra Karang Taruna 03 Jatiranggon, kegiatan yang berlangsung di Pos Sekretariat RW 04, Kota Bekasi, pada 11 Oktober 2026 tersebut berjalan lancar.
Bagi kami, pengalaman menjadi bagian dari kelompok keuangan memberikan pelajaran bahwa mengelola bank sampah bukan sekadar menghitung uang masuk dan keluar. Ada kepercayaan, tanggung jawab, dan keberlanjutan kegiatan masyarakat yang perlu dijaga melalui administrasi yang baik.
Kami juga belajar bahwa solusi tidak selalu harus dimulai dari sistem yang besar atau rumit. Pengurus dapat memulainya dengan mencatat setiap transaksi, menyimpan bukti pembayaran, memisahkan dana sesuai peruntukannya, dan menyusun laporan secara berkala.
Di sisi lain, keberanian untuk mengembangkan sampah menjadi produk bernilai jual dapat membuka peluang usaha baru bagi komunitas.
Pada akhirnya, bank sampah yang berkelanjutan membutuhkan pengelolaan yang saling mendukung, mulai dari SDM yang mampu bekerja sama, pemasaran yang tepat, hingga keuangan yang tertata dan transparan. Melalui pendampingan dan penerapan langkah-langkah sederhana tersebut, Karang Taruna diharapkan dapat mengembangkan bank sampah yang lebih mandiri, produktif, dan dipercaya masyarakat.
