Konten dari Pengguna

Wajah dan Suara Bisa Dipalsukan AI, Manajemen Risiko Digital Semakin Penting

Riris Tirani

Riris Tirani

Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riris Tirani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi belajar AI. Foto: Digineer Station/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi belajar AI. Foto: Digineer Station/Shutterstock

Ditulis oleh: Riris Tirani, Ririn Nafisah, Regina Tiatira Putri S, Rohmat, Sultan Syahriel – Prodi Manajemen, Universitas Pamulang

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang memudahkan pekerjaan manusia. Namun, teknologi ini juga bisa disalahgunakan untuk melakukan penipuan digital, mulai dari meniru suara hingga membuat video palsu yang terlihat nyata.

Bayangkan kamu menerima telepon dari seseorang yang suaranya mirip anggota keluarga dan meminta transfer uang karena keadaan darurat. Karena terdengar meyakinkan, kamu mungkin langsung percaya tanpa menyadari bahwa panggilan tersebut bisa saja merupakan hasil rekayasa AI.

Menurut laporan OJK yang diberitakan ANTARA pada 4 Agustus 2026, Indonesia Anti-Scam Centre menerima 1.379 laporan penipuan keuangan yang terindikasi menggunakan AI hingga akhir Juni 2026. Data ini menunjukkan bahwa penipuan berbasis teknologi perlu mendapat perhatian serius.

Sumber: Tangkapan layar Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan OJK Dicky Kartikoyono memaparkan materi dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juli 2026 secara daring di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Pentingnya Manajemen Risiko Digital

Dalam ilmu manajemen, risiko perlu dikenali dan dikendalikan agar tidak menghambat pencapaian tujuan. Berdasarkan pedoman ISO 31000:2018, manajemen risiko mencakup proses identifikasi, analisis, evaluasi, dan penanganan risiko.

Penerapannya dalam menghadapi penipuan AI dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti memeriksa identitas pengirim, menghubungi kembali pihak yang meminta uang melalui nomor yang sudah dikenal, serta tidak terburu-buru mengambil keputusan karena tekanan.

Bagi perusahaan, pencegahan dapat dilakukan melalui verifikasi transaksi berlapis, pelatihan karyawan, dan perlindungan data pelanggan. Dengan begitu, risiko kerugian keuangan dan rusaknya kepercayaan pelanggan dapat ditekan.

Jangan Hanya Percaya, Biasakan Verifikasi

AI bukan teknologi yang harus dihindari. Teknologi ini tetap memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bertanggung jawab. Masalahnya muncul ketika AI dimanfaatkan untuk memanipulasi kepercayaan orang lain.

Karena itu, manajemen risiko digital bukan hanya tanggung jawab perusahaan atau pemerintah, tetapi juga masyarakat. Membiasakan diri memeriksa informasi sebelum bertindak merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mencegah penipuan.

Di era ketika wajah dan suara bisa ditiru oleh teknologi, kepercayaan saja tidak cukup. Perlu ada verifikasi, kewaspadaan, dan pengendalian risiko agar kemajuan teknologi tidak justru menjadi celah bagi kejahatan.