Ekonomi Perhatian: Ketika Sensasi Menggeser Edukasi Publik

mahasiswa ekonomi syariah di Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari riski nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam era digital saat ini, komoditas paling berharga di ruang publik bukanlah informasi, melainkan perhatian masyarakat. Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai Attention Economy (Ekonomi Perhatian), di mana platform media sosial merancang algoritma sedemikian rupa untuk memperebutkan dan mempertahankan durasi tatap layar (screen time) pengguna.
Mekanisme kerja algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten-konten yang memicu reaksi emosional yang kuat, seperti amarah, kepanikan, atau rasa penasaran yang berlebihan. Akibatnya, konten yang bersifat sensasional, provokatif, atau memamerkan konflik jauh lebih mudah menjadi tular (viral) dibanding konten edukatif yang membutuhkan pemikiran mendalam.
Kondisi ini menimbulkan dampak sosial yang tidak sederhana pada kualitas literasi publik.
Para pembuat konten (content creator) hingga media massa formal kerap terjebak dalam arus clickbait demi menjaga tingkat keterikatan (engagement rate) dan pendapatan iklan. Ketika kriteria keberhasilan sebuah tulisan atau tayangan hanya diukur dari jumlah klik dan tayangan, nilai kebenaran, akurasi, serta kebenaran fakta sering kali terabaikan.
Dampak panjang dari dominasi ekonomi perhatian ini adalah terjadinya pendangkalan budaya literasi dan polarisasi sosial di tengah masyarakat. Informasi penting mengenai kebijakan publik atau isu-isu strategis justru tenggelam di bawah tumpukan rumor dan hiburan dangkal.
Untuk keluar dari jebakan ini, diperlukan kesadaran bersama. Pengguna media sosial perlu mengasah daya kritis dan selektif dalam mengonsumsi informasi. Di sisi lain, media massa harus tetap konsisten menjalankan fungsi kontrol sosial dan edukasi publik tanpa sepenuhnya terombang-ambing oleh kehendak algoritma pasar.
