Konten dari Pengguna

Spiritual Capitalist: Ketika Tiket Kajian Berubah Jadi Simbol Status

riski nasution

riski nasution

mahasiswa ekonomi syariah di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari riski nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(sumber:usnplash/aboodi vesakaran)
zoom-in-whitePerbesar
(sumber:usnplash/aboodi vesakaran)

Agama dan keimanan belakangan ini tampil dengan wajah yang makin klimis, estetis, dan modern. Di kota-kota besar, kita menyaksikan menjamurnya seminar parenting islami, bootcamp self-improvement berbasis spiritual, hingga tiket kajian yang dibanderol dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Ilmu agama, yang secara historis merupakan barang publik dan hak mendasar setiap manusia, kini dikemas rapi dalam bingkai lifestyle eksklusif.

Fenomena ini melahirkan apa yang bisa kita sebut sebagai Spiritual Capitalism. Nilai-nilai spiritualitas tidak lagi hanya menjadi kompas moral, melainkan telah bertransformasi menjadi komoditas bisnis berprofit tinggi. Untuk mendapatkan "akses pencerahan" atau menghadiri sesi tatap muka dengan tokoh agama populer, seseorang harus merogoh kocek cukup dalam.

Tentu, ada argumen pragmatis: akomodasi gedung mewah, sistem audio berkualitas, serta operasional acara memang membutuhkan biaya. Namun, ketika harga tiket menjadi benteng pemisah antara mereka yang berkantong tebal dan mereka yang kurang mampu, di situlah letak masalah sosialnya.

Dalam Fiqih Muamalah, penimbunan atau pembatasan akses terhadap kebutuhan dasar publik—termasuk ilmu (Ichtikar al-'Ilm)—adalah praktik yang bermasalah. Ketika ajaran yang mengusung pesan keadilan dan inklusivitas justru dipasarkan secara eksklusif, agama perlahan kehilangan taring sosialnya dan bergeser menjadi sekadar penanda status sosial (prestige symbol) bagi kelas menengah urban.

Kesalehan tidak seharusnya diukur dari seberapa mahal tiket acara keagamaan yang sanggup kita beli. Jika pencerahan spiritual hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu membayar mahal, kita patut mempertanyakan: apakah kita sedang sungguh-sungguh mencari ilmu, atau sekadar membeli kepuasan ego yang dibungkus stempel agama?