Konten dari Pengguna

Pengasuhan Anak ala Film A Shop for Killer

RISNAWATI RIDWAN

RISNAWATI RIDWAN

Writerpreneur yang nyambi jadi ASN

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari RISNAWATI RIDWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : https://www.pexels.com/id-id/foto/surat-huruf-tajuk-mesin-tik-12210668/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : https://www.pexels.com/id-id/foto/surat-huruf-tajuk-mesin-tik-12210668/

“Aku bukan orang tuamu, Aku tidak akan melakukan apa yang dilakukan oleh orang tuamu.” Jeong Jin Man berucap kepada keponakannya, Jeong Ji An, gadis cilik berumur 8 tahun. Merupakan salah satu scene dalam serial A Shop for Killer yang dibintangi oleh Lee Dong Wook dan Kim Hye Jun yang berperan sebagai Jeong Ji An. Ji An kecil jatuh saat melewati gerbang dan tersungkur di tanah. Ia menatap pamannya dan menunggu pamannya membantunya. Sang Paman sudah mendekati pintu rumah dan hanya berpaling sambil mengungkapkan hal itu. Dengan perlahan, Ji An kecil bangun.

Ji An hidup bersama pamannya sampai usia 21 tahun sejak orang tuanya meninggal di rumah duka bersamaan dengan wafatnya sang nenek. Seorang laki-laki dewasa yang bergelar paman harus mengasuh keponakan perempuan yang masih berusia 8 tahun. Tentu tidak mudah bagi Jeong Ji Man yang telah lama hidup di luar lingkungan keluarganya. Banyak hal yang harus Ji An kecil pelajari secara mandiri. Namun, naluri, pemahaman yang peka terhadap sekitar, dan kemampuan untuk cepat memahami kondisi merupakan privilege yang dimiliki oleh Ji An. Serial ini telah tayang dalam 2 season sejak 2024. Namun, setiap episodenya sampai akhir mengajarkan kepada kita tentang pengasuhan ala Jeong Jin Man.

Teori pengasuhan anak telah berkembang dengan pesat. Dari segala sudut pandang, satu kesamaan semua teori tersebut, yaitu, mempersiapkan anak menghadapi kehidupannya sendiri, tanpa ada orang tuanya yang akan selalu ada di sisinya. Tetapi menjadi orang tua di zaman sekarang tidaklah mudah. Tantangan yang dihadapi orang tua saat ini berbeda dengan masa sebelumnya.

Beberapa dekade lalu, pengasuhan anak bersifat komunal. Seorang anak diurus oleh orang sekampung. Hal ini dikarenakan masih adanya ikatan emosional yang kuat di dalam hubungan antarindividu pada suatu wilayah. Hubungan juga bersifat personal, mereka saling mengenal secara mendalam. Dan adanya tradisi serta nilai bersama yang diatur oleh adat istiadat, norma tidak tertulis dan konsensus bersama yang dijaga secara turun-temurun dalam menjaga seorang anak.

Sedangkan di zaman 5.0 sekarang, nilai-nilai tersebut menghilang tanpa disadari. Sehingga penjagaan dan pengasuhan seorang anak murni menjadi tugas dan tanggung jawab orang tuanya sendiri. Orang tua sekarang harus ekstra dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anak mereka. Seorang anak yang lahir tidak hanya diberikan makan secara fisik untuk tumbuh besar, tetapi juga dipersiapkan mental saat orang tuanya tidak berada di sisinya.

Rumah yang nyaman adalah impian semua orang. Mempersiapkan seorang anak untuk bertarung dengan kehidupannya di luar rumah. Bukan berarti kenyamanan tersebut dihilangkan. Ada masanya, kenyamanan tersebut dicabut agar anak mampu belajar mempersiapkan diri dan diberi bekal “senjata” sebagai amunisi dalam menghadapi pertarungan di luar sana.

Bahkan seekor elang pun, diajarkan terbang oleh induknya dengan mencabut kenyamanan rumah agar si anak elang bisa mulai belajar terbang. Elang adalah hewan yang selalu terbang tinggi dan tidak terlihat oleh manusia. Butuh bekal dan kemampuan yang mumpuni untuk bisa terbang tinggi.

Secara ilmiah, induk elang mengajari anaknya terbang dengan cara-cara tertentu. Induk elang mengajari anaknya terbang melalui proses alami yang terlihat tegas dan adaptif, yaitu dengan merusak atau mengikis kenyamanan sarang secara perlahan agar anak elang terdorong untuk keluar dan mengepakkan sayapnya. Induk elang mencabuti lapisan rumput, atau bahan lembut di dalam sarang. Sarang menjadi berduri dan tidak nyaman, sehingga anak elang terpaksa berdiri di pinggiran atau mencoba terbang keluar. Dari serial A Shop for Killer, dalam salah satu adegan, ada penjahat yang mengatakan rumah adalah medan perang, tetapi di luar sana adalah neraka. Bahkan seorang penjahatpun mengatakan rumah adalah tempat yang tidak nyaman.

Ada beberapa hal yang bisa ditiru oleh orang tua dari pola pengasuhan anak dalam serial film ini. Jin Man mempersiapkan Ji An untuk memiliki “senjata” agar mampu bertahan hidup saat Jin Man pergi dan tidak lagi berada di sisinya. Pertama, orang tua wajib mengajarkan anaknya untuk mampu berpikir kritis dan tidak mudah percaya. Saat Jin Man dan Ji An sedang menonton film action di televisi, Ji An meremehkan akting tembak-menembak aktornya. Ji An berpendapat bahwa melesetnya tembakan tersebut adalah akibat dari kurang telitinya si penembak. Jin Man mengatakan, “Kau bukan capung. Kau tidak bisa melihat semua dengan sempurna. Selalu ada titik buta yang tidak terlihat.” Dan Ji An menyadari ajaran pamannya saat mereka terpojok oleh sniper yang menembaki rumah mereka dan langsung menerapkan teori tersebut.

Kedua, kemampuan mengambil keputusan. Jin Man memberi kesempatan kepada Ji An untuk mengambil keputusannya sendiri. Akan tetapi, setiap keputusan yang telah diambil mempunyai risiko masing-masing. Ibaratnya, orang tua menunjukkan jalan yang baik versi orang tua kepada anaknya. Di setiap jalan yang tampak, akan selalu muncul persimpangan yang akan membawa anaknya untuk memilih jalan mana yang akan mencapai tujuannya. Pada episode akhir, Jin Man menyerahkan panggung kepada Ji An untuk mengambil keputusan yang besar, tentu saja keputusan ini telah melewati semua urutan pemikiran. Dan jin Man yakin kemampuan Ji An dalam mengambil keputusan ini. Butuh waktu, tetapi bukan tidak mungkin.

Senjata ketiga yang wajib diajarkan oleh orang tua adalah kemampuan mengendalikan emosi. Anak adalah peniru ulung. Kemampuan mengendalikan emosi ini sangat tergantung relasi dan komunikasi orang tua dengan anaknya. Anak perlu tahu bahwa panik, marah, dan takut adalah emosi yang wajar. Tetapi keputusan tidak selalu boleh dibuat berdasarkan emosi sesaat. Saat Ji An tahu bahwa pamannya bergelut dengan masalah senjata, Ji An memutuskan untuk pergi dari pamannya karena marah dan takut. Bahkan sang paman pun tidak bisa menahan keputusan Ji An. Nasehat Jin Man agar Ji An berhati-hati dan mampu bertahan hidup tanpa dampingannya. Walaupun pada akhirnya, Ji An memahami bahwa keputusannya telah salah saat dirinya terbelenggu emosi sesaat.

Keterampilan hidup seperti memasak, mengatur keuangan, menjaga diri adalah senjata ke empat yang harus diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Di zaman sekarang, saat pilihan merantau dan jauh dari orang tua, keterampilan dasar ini wajib dimiliki seorang anak. Ditambah lagi dengan kemampuan menggunakan teknologi yang aman, pertolongan pertama dan keterampilan praktis lainnya sangat dibutuhkan pada masyarakat yang cenderung introvert.

Dan yang terakhir, anak harus mempunyai kemampuan menyusun jaringan pertolongan. Mandiri bukan berarti sendirian. Anak harus tahu siapa yang bisa dihubungi saat berada dalam kesulitan. Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak tetap melakukan pengawasan terhadap anak mereka. Anak tetap mempunyai rasa aman karena ada orang tua yang tahu dan mengawasi tindakannya dan akan segera menolongnya saat dibutuhkan.

Orang tua tidak selalu bisa berada di samping anaknya. Tidak bisa selalu menjawab telepon, tidak bisa selalu menyelesaikan konflik, bahkan anak harus hidup tanpa kehadiran orang tua. Ji An kecil kehilangan orang tuanya saat berumur 8 tahun. Dan Jin Man, sebagai orang dewasa terdekat, melakukan yang terbaik yang bisa dilakukannya, mempersiapkan Ji An menghadapi masalah dan mengajarkan tentang mencari solusi dari masalah yang muncul.

Peran utama orang tua berubah dari melindungi menjadi mempersiapkan. Tentu saja argumen ini tidak berlaku sejak seorang anak lahir ke dunia. Ada tahapan dimana orang tua melindungi dan ada tahapan orang tua mempersiapkan kemampuan anak sebagai bentuk perlindungan. Salah satu cara adalah dengan memberikan ruang kepada mereka untuk mencoba dan mengalami kegagalan yang masih aman, mengajarkan cara mengenali bahaya dan membangun keberanian.

Bagi Ji An, pamannya tidak selalu mengungkapkan apa yang harus dilakukan dengan penjelasan yang panjang. Tetapi pamannya menanamkan keterampilan yang menjadi sangat berarti ketika situasi berubah. Artinya, anak membutuhkan orang tua yang sesekali berjalan di sampingnya, kemudian perlahan membiarkannya berjalan sendiri. Ji An mengungkapkan perasaannya kepada Woo Jin tentang pamannya, saat tinggal dengan pamanku, tak sekalipun aku merasa disayang. Aku selalu merasa selalu jadi beban pamanku. Dia tidak tahu kapan dia harus pergi, sehingga aku harus mampu bertahan hidup sendiri. Itu sebabnya dia membesarkanku agak kuat. Namun itu menyebabkan terhapusnya rasa kasihku kepadanya.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menjanjikan kepada anak bahwa dunia akan selalu baik kepadanya. Tetapi kita bisa memastikan bahwa ketika dunia tidak baik, ia memiliki keberanian, keterampilan, dan akal untuk tetap bertahan. Dengan kata lain, jangan hanya ajari anak bagaimana hidup nyaman di rumah, ajari ia bagaimana tetap tegak ketika dunia di luar rumah tidak nyaman. Setiap orang tua berharap anaknya mrnjadi hebat. (rr)

Sumber foto : https://www.pexels.com/id-id/foto/surat-huruf-tajuk-mesin-tik-12210668/