Bisnis Viral Belum Tentu Untung

Mahasiswa Manajemen Keuangan Universitas Pamulang
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Risqi Meilani Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah gerai minuman yang selalu ramai setiap sore. Antrean pembeli terlihat panjang, unggahan di media sosial dipenuhi komentar positif, dan banyak orang mulai tertarik membuka usaha serupa. Sekilas, bisnis tersebut tampak seperti peluang yang sayang untuk dilewatkan.
Namun, ada satu pertanyaan yang sering terlupakan: apakah ramai pembeli selalu berarti untung?
Di tengah perkembangan media sosial, tren bisnis dapat menyebar dengan sangat cepat. Produk yang awalnya hanya dikenal oleh sebagian orang bisa mendadak populer setelah muncul di berbagai unggahan. Kondisi ini membuat banyak orang tertarik mencoba peruntungan dengan membuka usaha serupa. Sayangnya, keputusan bisnis yang hanya didasarkan pada tren berisiko mengabaikan hal yang paling mendasar, yaitu apakah usaha tersebut benar-benar layak dijalankan.
Bisnis bukan hanya tentang seberapa banyak produk terjual atau seberapa ramai tempat usaha dikunjungi. Di balik penjualan, terdapat biaya bahan baku, sewa tempat, listrik, kemasan, gaji karyawan, promosi, hingga biaya tak terduga. Jika seluruh biaya tersebut tidak diperhitungkan dengan baik, usaha yang terlihat menjanjikan justru dapat mengalami kesulitan keuangan.
Karena itu, sebelum mengikuti tren dan mengeluarkan modal, calon pengusaha perlu memahami pentingnya studi kelayakan bisnis.
Ketika Tren Menjadi Alasan Membuka Usaha
Media sosial memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk kepada lebih banyak orang. Sebuah produk bisa dikenal luas dalam waktu singkat melalui video, ulasan pelanggan, atau rekomendasi kreator konten. Bagi pelaku usaha, kondisi ini tentu membuka peluang untuk menjangkau pasar baru.
Masalahnya muncul ketika popularitas dianggap sebagai bukti bahwa sebuah bisnis pasti menguntungkan.
Ketika suatu produk sedang viral, banyak orang melihat peluang yang sama. Akibatnya, persaingan dapat meningkat karena semakin banyak penjual menawarkan produk serupa. Pada awalnya, penjualan mungkin terlihat menjanjikan. Namun, ketika konsumen mulai bosan atau beralih ke tren berikutnya, jumlah pembeli bisa menurun.
Misalnya, seseorang melihat usaha minuman kekinian yang selalu ramai di media sosial. Ia kemudian memutuskan membuka gerai serupa karena menganggap produk tersebut mudah dijual. Ia membeli peralatan, menyewa tempat, menyiapkan bahan baku, dan mengeluarkan biaya promosi.
Pada bulan pertama, penjualannya cukup baik. Akan tetapi, setelah beberapa waktu, jumlah pembeli berkurang. Di sisi lain, biaya sewa tempat dan operasional tetap harus dibayar. Jika sejak awal ia tidak menghitung kebutuhan modal, memperkirakan permintaan pasar, dan menyiapkan strategi menghadapi persaingan, usaha tersebut akan lebih sulit bertahan.
Contoh tersebut bukan berarti semua bisnis yang mengikuti tren pasti gagal. Tren justru dapat menjadi peluang apabila didukung oleh perencanaan yang tepat. Persoalannya bukan terletak pada mengikuti tren, melainkan pada keputusan untuk berbisnis tanpa memahami kondisi usaha yang akan dijalankan.
Mengenal Studi Kelayakan Bisnis Sebelum Memulai Usaha
Studi kelayakan bisnis merupakan proses untuk menilai apakah suatu rencana usaha layak dijalankan berdasarkan berbagai aspek yang relevan. Penilaian ini membantu calon pengusaha memahami peluang, kebutuhan sumber daya, potensi keuntungan, dan risiko yang mungkin dihadapi.
Dalam praktiknya, studi kelayakan bisnis tidak harus selalu dimulai dengan laporan yang rumit. Pengusaha pemula dapat memulainya dengan mengumpulkan informasi sederhana, melakukan pengamatan pasar, membandingkan harga, menghitung biaya, serta menguji minat calon konsumen.
Tujuannya bukan untuk memastikan bahwa sebuah bisnis tidak akan pernah mengalami kerugian. Tidak ada perencanaan yang dapat menjamin keberhasilan sepenuhnya. Sebaliknya, studi kelayakan membantu pengusaha mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang lebih rasional, bukan hanya karena tergoda oleh popularitas suatu produk.
Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan sebelum memulai usaha.
1. Kelayakan Pasar: Apakah Produk Benar-Benar Dibutuhkan?
Hal pertama yang perlu dipahami adalah kondisi pasar. Calon pengusaha perlu mengetahui siapa target konsumennya, apa kebutuhan mereka, berapa kemampuan belinya, dan bagaimana kebiasaan mereka dalam membeli produk.
Produk yang ramai dibicarakan belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat di setiap lokasi. Minuman yang populer di kawasan kampus, misalnya, belum tentu memiliki jumlah pembeli yang sama apabila dijual di kawasan permukiman dengan karakteristik konsumen berbeda.
Selain itu, calon pengusaha perlu mengenali pesaing. Jika sudah banyak penjual menawarkan produk serupa, apa yang membuat konsumen memilih produk yang akan dijual? Apakah dari segi harga, rasa, kualitas, pelayanan, kemasan, atau kemudahan pemesanan?
Pertanyaan tersebut penting karena konsumen memiliki banyak pilihan. Jika suatu usaha tidak mempunyai keunggulan yang jelas, bersaing hanya dengan mengandalkan harga murah dapat membuat keuntungan semakin tipis.
Oleh karena itu, pengamatan terhadap calon konsumen dan pesaing perlu dilakukan sebelum menentukan produk dan strategi pemasaran. Pengusaha tidak cukup hanya bertanya apakah produk tersebut sedang populer, tetapi juga perlu mencari tahu apakah ada konsumen yang bersedia membelinya secara berkelanjutan.
2. Kelayakan Keuangan: Penjualan Tinggi Belum Tentu Menguntungkan
Aspek keuangan menjadi salah satu bagian terpenting dalam studi kelayakan bisnis. Banyak orang lebih mudah memperhatikan omzet daripada menghitung keuntungan yang benar-benar diperoleh.
Omzet merupakan total nilai penjualan, sedangkan keuntungan diperoleh setelah pendapatan dikurangi biaya yang relevan. Artinya, omzet yang besar tidak otomatis menunjukkan bahwa kondisi keuangan usaha sehat.
Sebagai ilustrasi, sebuah usaha minuman menjual 50 gelas per hari dengan harga Rp15.000 per gelas. Jika penjualan tersebut tercapai setiap hari selama 30 hari, omzet bulanannya mencapai Rp22.500.000.
Angka tersebut memang terlihat besar. Namun, omzet itu belum dikurangi biaya bahan baku, kemasan, sewa tempat, gaji karyawan, listrik, biaya promosi, dan pengeluaran lainnya. Karena itu, angka penjualan saja belum cukup untuk menilai keberhasilan usaha.
Calon pengusaha juga perlu membedakan modal awal dan biaya operasional. Modal awal digunakan untuk kebutuhan seperti peralatan dan persiapan tempat, sedangkan biaya operasional dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan usaha sehari-hari.
Selain menghitung biaya, pengusaha perlu memperkirakan berapa banyak produk yang harus terjual agar pendapatan mampu menutup biaya. Perhitungan titik impas atau break-even point dapat membantu menjawab pertanyaan tersebut.
Dengan perhitungan yang realistis, pengusaha dapat menilai apakah target penjualannya masuk akal. Jika jumlah penjualan yang dibutuhkan terlalu tinggi dibandingkan dengan potensi pasar, rencana usaha perlu dievaluasi sebelum modal dikeluarkan lebih jauh.
3. Kelayakan Operasional: Bisakah Usaha Dijalankan dengan Baik?
Ide bisnis yang menarik tetap membutuhkan kesiapan operasional. Pengusaha harus memastikan bahwa bahan baku tersedia, proses produksi dapat dilakukan secara konsisten, peralatan memadai, dan kualitas produk tetap terjaga.
Sebagai contoh, usaha makanan yang mendadak populer mungkin menerima pesanan dalam jumlah besar. Jika kapasitas produksi tidak disiapkan, pesanan dapat terlambat, kualitas produk menurun, dan pelanggan merasa kecewa.
Lokasi usaha juga perlu dipertimbangkan. Tempat yang strategis dapat membantu konsumen mengakses produk, tetapi biaya sewanya mungkin lebih tinggi. Sementara itu, lokasi yang lebih murah belum tentu menjadi pilihan terbaik apabila sulit dijangkau target pasar.
Di sinilah pengusaha perlu membandingkan manfaat dan biaya dari setiap pilihan. Tidak semua bisnis harus memiliki gerai fisik yang besar. Beberapa jenis usaha dapat dimulai dari rumah, menggunakan sistem pemesanan daring, atau memanfaatkan layanan pengiriman untuk menguji pasar terlebih dahulu.
Keputusan operasional yang sesuai dengan kapasitas usaha dapat membantu mengurangi pengeluaran yang belum diperlukan.
4. Kelayakan Pengelolaan dan Risiko: Siapa yang Menjalankan Usaha?
Menjalankan bisnis membutuhkan lebih dari sekadar produk yang bagus. Pengusaha juga harus mampu mengelola persediaan, melayani konsumen, mencatat transaksi, mengatur keuangan, dan mengambil keputusan ketika menghadapi masalah.
Pada usaha kecil, satu orang mungkin menjalankan beberapa fungsi sekaligus. Hal ini tidak selalu menjadi masalah, tetapi pembagian waktu dan tanggung jawab tetap perlu diperhatikan agar kegiatan usaha tidak berantakan.
Selain pengelolaan, calon pengusaha perlu memikirkan berbagai risiko. Harga bahan baku bisa meningkat, pemasok dapat mengalami keterlambatan, jumlah pembeli bisa menurun, dan pesaing dapat menawarkan produk yang lebih menarik.
Risiko tersebut tidak selalu bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui persiapan. Pengusaha dapat menyiapkan pemasok alternatif, menjaga pencatatan keuangan, mengevaluasi stok, dan menyediakan dana cadangan sesuai kemampuan usaha.
Legalitas usaha dan ketentuan yang berlaku juga perlu diperiksa sesuai jenis serta skala bisnis. Dengan begitu, pengusaha tidak hanya berfokus pada cara mendapatkan pelanggan, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.
Media Sosial Penting, tetapi Tidak Bisa Menggantikan Perencanaan
Di era digital, media sosial dapat menjadi sarana promosi yang efektif. Pengusaha dapat memperkenalkan produk, berinteraksi dengan konsumen, menerima masukan, dan memantau respons pasar dengan biaya yang relatif terjangkau.
Namun, keberhasilan promosi tidak selalu sejalan dengan keberhasilan keuangan. Banyaknya penonton, tanda suka, komentar, atau pengikut belum tentu menghasilkan pembelian yang cukup untuk menutup biaya usaha.
Karena itu, pelaku usaha perlu melihat hasil promosi secara lebih menyeluruh. Berapa banyak orang yang benar-benar membeli? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pelanggan? Apakah pelanggan melakukan pembelian ulang? Apakah pendapatan yang diperoleh sebanding dengan biaya yang dikeluarkan?
Pertanyaan tersebut membantu pengusaha menilai apakah strategi pemasaran benar-benar memberikan manfaat bagi usaha.
Kajian Guandalini (2022) mengenai transformasi digital dan keberlanjutan menunjukkan pentingnya memahami hubungan antara pemanfaatan teknologi dan tujuan bisnis yang lebih luas. Dalam konteks usaha kecil, teknologi sebaiknya digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan, bukan hanya untuk mengejar popularitas.
Artinya, media sosial tetap penting, tetapi penggunaannya perlu dihubungkan dengan tujuan yang jelas. Promosi yang baik seharusnya membantu usaha mengenali konsumen, membangun hubungan dengan pelanggan, dan mendukung penjualan secara berkelanjutan.
Usaha yang Bertahan Lebih Penting daripada Sekadar Viral
Salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan bisnis adalah menjaga agar usaha tetap berjalan setelah perhatian konsumen mulai berkurang. Popularitas mungkin membantu mendatangkan pembeli pada awal usaha, tetapi keberlanjutan membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi.
Pelaku usaha perlu terus mengevaluasi kualitas produk, pelayanan, harga, dan kebutuhan konsumen. Masukan pelanggan dapat digunakan untuk memperbaiki produk, sedangkan pencatatan keuangan membantu pengusaha memahami bagian usaha yang perlu diperbaiki.
Keberlanjutan juga berkaitan dengan kemampuan mengelola sumber daya secara efisien. Bahan baku yang terbuang, stok yang berlebihan, dan penggunaan energi yang tidak terkendali dapat meningkatkan biaya operasional. Pengelolaan yang lebih baik bukan hanya berpotensi mengurangi pemborosan, tetapi juga membantu usaha menggunakan sumber dayanya secara lebih bertanggung jawab.
Martins dan rekan-rekannya (2022) membahas keberlanjutan dalam usaha kecil dan menengah serta pentingnya arah penelitian yang memperhatikan konteks usaha tersebut. Pembahasan ini mengingatkan bahwa keberhasilan usaha tidak seharusnya hanya dinilai dari pertumbuhan sesaat, tetapi juga dari kemampuan bisnis mempertahankan kegiatan dan mengelola sumber dayanya.
Dalam praktiknya, pengusaha dapat memulai dari langkah sederhana, seperti mencatat penjualan harian, mengevaluasi produk yang paling diminati, mengurangi bahan baku terbuang, dan menyesuaikan jumlah produksi dengan permintaan.
Langkah-langkah tersebut mungkin tidak terlihat menarik seperti promosi besar-besaran. Namun, keputusan kecil yang didasarkan pada informasi yang tepat dapat membantu bisnis menjadi lebih terarah.
Studi Kelayakan Bukan untuk Menakut-nakuti Calon Pengusaha
Sebagian orang mungkin menganggap studi kelayakan bisnis terlalu rumit, terutama bagi mahasiswa atau calon pengusaha yang baru ingin memulai usaha dengan modal terbatas. Padahal, penilaian kelayakan justru dapat disesuaikan dengan kondisi usaha.
Usaha kecil tidak selalu membutuhkan analisis yang kompleks. Sebelum menjual produk, seseorang bisa melakukan survei sederhana kepada calon konsumen, membandingkan harga pemasok, menghitung biaya per produk, dan mencoba penjualan dalam jumlah terbatas.
Sebagai contoh, mahasiswa yang ingin menjual makanan di lingkungan kampus dapat memulai dengan mengamati produk yang diminati mahasiswa, memperkirakan harga yang mampu mereka beli, serta menghitung biaya produksi dan kemasan. Ia juga dapat membuka pemesanan awal untuk melihat seberapa besar minat calon pembeli.
Dari hasil percobaan tersebut, ia bisa mengevaluasi apakah harga yang ditawarkan sesuai, apakah produknya diminati, dan apakah penjualannya berpotensi memberikan keuntungan. Jika hasilnya belum sesuai harapan, ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki rencana tanpa harus menanggung pengeluaran yang terlalu besar.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa studi kelayakan bisnis bukan sekadar teori di ruang kuliah. Konsep tersebut dapat digunakan dalam keputusan sehari-hari, termasuk ketika seseorang ingin memulai usaha sampingan dengan modal terbatas.
Sebelum Mengikuti Tren, Hitung dan Pahami Peluangnya
Pada akhirnya, bisnis yang viral memang dapat membuka peluang. Namun, peluang tersebut perlu dinilai dengan cermat sebelum dijadikan alasan untuk menginvestasikan uang, waktu, dan tenaga.
Calon pengusaha sebaiknya tidak hanya bertanya apakah suatu produk sedang ramai, tetapi juga apakah produknya dibutuhkan konsumen, bagaimana tingkat persaingannya, berapa biaya yang diperlukan, dan bagaimana usaha tersebut dapat bertahan ketika tren berubah.
Studi kelayakan bisnis membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui penilaian pasar, keuangan, operasional, pengelolaan, dan risiko. Hasilnya bukan jaminan bahwa usaha pasti berhasil, melainkan dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan.
Menurut saya, keberanian memulai usaha perlu berjalan bersama dengan kemampuan merencanakan dan mengevaluasi. Mengikuti tren tidak selalu salah, tetapi mengeluarkan modal hanya karena takut tertinggal tren merupakan keputusan yang perlu dipertimbangkan kembali.
Sebab, tujuan berbisnis bukan hanya membuat produk dikenal banyak orang dalam waktu singkat. Tujuan yang lebih penting adalah membangun usaha yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen, menghasilkan keuntungan yang wajar, dan bertahan menghadapi perubahan.
Bisnis boleh dimulai dari tren, tetapi keputusan untuk menjalankannya harus didasarkan pada perhitungan. Sebelum mengejar peluang yang terlihat menjanjikan, pastikan terlebih dahulu bahwa bisnis tersebut memang layak dijalankan.
Risqi Meilani Wijaya, Mahasiswi Manajemen Keuangan Universitas Pamulang.
