Konten dari Pengguna

Mengapa Sholat Gagal Mencegah Kemungkaran?

Nanda Riswanda Pohan

Nanda Riswanda Pohan

Alumni IAT UIN Sultan Syarif Kasim Riau

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nanda Riswanda Pohan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Umat muslim melaksanakan sholat.  Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Umat muslim melaksanakan sholat. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dalam hiruk pikuk dan riuhnya kehidupan di dunia, kita dituntun untuk tetap mempertahankan ibadah yang sudah menjadi kebutuhan dan kewajiban. Namun, Pernahkah kita merenungkan kembali esensi dari dari ibadah kita terutama sholat lima waktu. Ada satu janji indah dalam Al-Qur’an “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar” (QS. Al-‘Ankabut (29): 45). Jika dipahami sekilas ayat ini seharusnya membuat kita percaya diri bahwa setiap kali usai shalat, semestinya kita menjelma menjadi manusia yang lebih bersih dan terjaga.

Keadaannya berbeda saat ini, sholat dilakukan sera rutin lima waktu, tetapi korupsi tetap berjalan, lisan masih berkata kotor, dan masih suka berbohong. Ada sesuatu yang janggal di sini yaitu: Mengapa janji Ilahi dalam ayat tersebut serasa tidak nyambung dengan keseharian kita? Apakah ada yang rusak dalam shalat kita, ataukah kita yang belum paham cara kerjanya?

Delapan abad lalu ternyata, Fakhruddin Al-Razi dalam Mafatih Al-Ghayb telah menyadari persoalan ini. Dalam tafsirnya beliau mengutip hadis:

“Barang siapa shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan maksiat, maka ia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan semakin jauh.”

Melalui hadist ini Al-Razi tidak membaca ayat ini sebagai sebuah jaminan yang instan, melainkan peringatan bahwa shalat bisa saja gagal total. Maka, fenomena muslim saleh yang masih bermaksiat bukan sebuah anomali, melainkan sudah diantisipasi khazanah tafsir klasik.

jika menelisik pada pendapat Al-Razi beliau meyakini bahwa Akar kegagalan pertama terletak pada niat. Al-Razi menekankan Al-Ṣalah Al-Ṣahiḥah Shar‘an, shalat yang sah dan murni itu dilandasi karena Allah semata, tanpa campuran riya. (الباحث القرآي نتفسري الرازي) Jika shalat dilakukan demi pencitraan, kekuatan spiritualnya akan lenyap. Hal ini sejalan dengan kajian psikologi yang menyebut istilah self-presentation motivation, bahwa energi mental akan tersedot untuk tampil saleh, bukan untuk berubah. Maka akibatnya, shalat hanya menjadi topeng, bukan transformasi diri menjadi lebih baik.(Leary & Kowalski, 1990, 37)

kemudian Al-Razi mengurai empat mekanisme (wujuh) bagaimana shalat seharusnya mencegah keburukan yaitu, 1. loyalitas kepada Raja Agung (Allah Swt), 2. Pakaian takwa, 3. Maqam (kedudukan mulia), dan 4. Elevasi bertahap. Keempatnya adalah metafora tajam yang menggambarkan proses psikospiritual. Dengan meminjam sains perilaku modern, kita dapat menguji di mana letak celah yang membuat mekanisme ini kerap gagal dalam keseharian.

Loyalitas dan Identitas yang Terpecah

Saat shalat, kita seperti pelayan setia di hadapan Raja Agung yang tak mungkin tunduk pada musuh-Nya. Identitas “hamba Allah” sedang aktif penuh. Dalam Psikologi ini disebut social identity theory, identitas yang aktif akan memandu perilaku.(Tajfel & Turner, 1979) Sayangnya, begitu salam terucap, identitas itu sering mati. Kita kembali menjadi pengusaha pragmatis atau profesional dengan standar moral berbeda. Mengapa Loyalitas Itu Gagal? Kita mahir melakukan selective morality, yaitu menyimpan nilai suci di kotak ibadah, dan standar lain di kotak bisnis. Pikiran merasionalisasi, “Di dunia kerja aturannya beda,” atau “Semua orang juga melakukannya.” Ini yang disebut moral disengagement, kopling moral yang lepas. (Bandura, 1999, 194) Akibatnya, loyalitas kepada Allah hanya tinggal di atas sajadah, tak terbawa ke ruang rapat atau transaksi harian.

Pakaian Takwa yang Mudah Dilepas

Al-Razi menganalogikan orang shalat seperti memakai jubah sutra emas yang membuatnya enggan menyentuh kotoran. Itulah “pakaian takwa”. Dalam Psikologi menyebut dengan istilah state change, perubahan kondisi mental sementara. Pakaian ini hanya bertahan jika shalat terus diulang. Tanpa pengulangan, ia akan terlepas begitu aktivitas shalat usai. Sayangnya, shalat hanya berlangsung beberapa menit saja, sementara 16 jam sisanya kita terpapar lingkungan yang mungkin korup. Habit loops lama seperti menerima suap atau manipulasi sudah menjadi pola otomatis. Psikologi menyebut ini environmental override, isyarat lingkungan jauh lebih kuat daripada nilai yang baru saja dihidupkan shalat. (Wood & Rünger, 2016: 291) Maka Pakaian takwa pun hanya bertahan di masjid saja.

Maqam (Kedudukan) yang Terisolasi

Shalat memberi kita “maqam”, yaitu kedudukan terhormat sebagai milik Allah. Namun, maqam ini sering hanya terasa saat di dalam masjid saja. Begitu keluar, kita merasa “bebas” karena tak ada yang mengawasi. Tanpa sistem akuntabilitas sosial, maqam spiritual ini akan menguap, menjadi sekadar gelar yang kita kenakan di tempat suci. Kita mampu mengkotak kotakkan identitas, di satu saat “hamba bermaqam tinggi”, di saat yang lain “profesional oportunis”, tanpa merasa bertentangan. Self-serving bias memperkuatnya, kita pandai menjaga citra diri positif dan menyalahkan situasi untuk kegagalan moral.(Mezulis et al., 2004: 738) “Saya terpaksa korupsi karena sistemnya busuk,” ini adalah narasi yang menenangkan hati tanpa mengubah perilaku manusia.

Elevasi Bertahap dan Janji Transformasi

Al-Razi bependapat bahwa setiap shalat dan sujud akan menambah “karāmah” (kemuliaan) sedikit demi sedikit. Semakin sering dilakukan dengan khusyuk, tumpukan kemuliaan naik hingga kita jijik pada dosa kecil sekalipun. Hal Ini selaras dengan neuroplasticity, pengulangan aktivasi sirkuit moral di otak akan memperkuat karakter baik.(Davidson & Begley, 2012: 173) Shalat idealnya membentuk “otot moral” yang semakin hari semakin kokoh. Kenapa Elevasi Itu Gagal di Dunia Nyata? Karena syaratnya cukup berat yaitu shalat khusyuk mendalam dan mampu mengintegrasikan nilai shalat ke seluruh kehidupan. Sementara itu, dunia menawarkan imbalan instan yang langsung terasa. Imbalan spiritual seperti pahala dan ketenangan batin bersifat abstrak dan tertunda.

Keempat mekanisme (wujuh) menunjukkan benang merah, shalat seringkali hanya menghasilkan transformasi sementara. Perasaan dekat dengan Allah dan semangat moral muncul saat dan sesaat setelah shalat, lalu memudar begitu saja. Neural circuits lama dari kebiasaan buruk kembali mengambil alih. Pakaian takwa tersimpan di lemari masjid, maqam tertinggal di sajadah. Ini kegagalan kita membawa ruh shalat melampaui batas ritualnya.

Jalan keluar yang dapat ditempuh bukan menambah rakaat, melainkan memperbaiki kualitas khusyuk dan kemurnian niat seseorang. Shalat harus menjadi dialog intim, bukan centangan rutinitas saja. Nilai-nilai shalat terintegritas, kejujuran, rasa diawasi Allah harus dibawa secara sadar ke kantor, ke grup obrolan, ke meja makan dan dalam seluruh lini kehidupan.Jalan keluar yang dapat ditempuh bukan menambah rakaat, melainkan memperbaiki kualitas khusyuk dan kemurnian niat seseorang. Shalat harus menjadi dialog intim, bukan centangan rutinitas saja. Nilai-nilai shalat terintegritas, kejujuran, rasa diawasi Allah harus dibawa secara sadar ke kantor, ke grup obrolan, ke meja makan dan dalam seluruh lini kehidupan.

Shalat adalah anugerah luar biasa dari pencipta, ia adalah momen reset harian yang jujur dan indah. Namun, ia bukanlah tombol sakti yang bekerja otomatis tanpa syarat. Shalat harus menjadi pusat ekosistem spiritual, niat, kesadaran sepanjang hari, lingkungan, dan komunitas harus selaras. Jika kita membangun ekosistem itu, janji Al-Qur’an bahwa shalat mencegah kemungkaran menjadi nyata. Misterinya bukan pada lemahnya shalat, melainkan pada kita yang sering memarkirnya sebagai ritual terpisah dari kehidupan.