Konten dari Pengguna

Dunia Membuatmu Hancur, Mengapa Tuhan yang kau jauhi?

Rival Syahdan

Rival Syahdan

Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Pamulang

·waktu baca 11 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rival Syahdan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Take By: Rival Syahdan
zoom-in-whitePerbesar
Take By: Rival Syahdan

Ada satu hal yang sering kali luput dari kesadaran kita ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan: kita terlalu sibuk menyalahkan Tuhan atas luka yang sebenarnya diberikan oleh dunia. Kita kecewa karena dikhianati seseorang yang kita percaya. Kita kehilangan arah karena kenyataan tidak sesuai dengan rencana. Kita merasa tertinggal ketika melihat orang lain melangkah lebih jauh, sementara kita masih berjuang menyelesaikan persoalan yang bahkan tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun. Kita lelah berpura-pura baik-baik saja, tetapi juga tidak tahu kepada siapa harus mengadu.

Pada akhirnya, kita mulai mempertanyakan segalanya. Mengapa hidup begitu berat? Mengapa orang baik justru sering terluka? Mengapa doa-doa yang kita panjatkan seolah tidak pernah menemukan jawaban? Perlahan, tanpa kita sadari, kita mulai menjauh dari Tuhan.

Kita berhenti berdoa karena merasa doa tidak lagi berguna. Kita mulai meninggalkan ibadah karena menganggapnya tidak mengubah apa-apa. Kita merasa Tuhan tidak adil hanya karena kehidupan tidak memberikan apa yang kita inginkan. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: jika dunia yang membuat kita terluka, mengapa Tuhan yang justru kita tinggalkan?

Kita Terlalu Sibuk Menyalahkan Tuhan

Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa kehidupan tidak selalu sesederhana teori yang kita pelajari di ruang kelas. Ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika. Tentang seseorang yang sudah berusaha keras, tetapi tetap gagal. Tentang mereka yang terlihat bahagia di media sosial, padahal sedang berjuang menghadapi masalah yang tidak diketahui siapa pun. Tentang seseorang yang selalu berusaha menjadi baik, tetapi justru berkali-kali diperlakukan dengan buruk. Di tengah kehidupan yang semakin menuntut kita untuk terus berlari, kita sering lupa bahwa setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing.

Kita dituntut untuk berhasil, harus segera lulus, mendapatkan pekerjaan yang layak, membanggakan orang tua, dan membuktikan bahwa segala pengorbanan kita tidak sia-sia. Belum lagi persoalan pertemanan, percintaan, ekonomi, serta ekspektasi masyarakat yang terkadang terasa begitu menyesakkan. Ketika semuanya datang bersamaan, kita merasa tidak sanggup lagi.

Kita mencari sesuatu untuk disalahkan. Dan terkadang, Tuhan menjadi pihak yang paling mudah kita pertanyakan. Bukan karena kita benar-benar ingin membenci-Nya, melainkan karena kita tidak tahu harus meletakkan kekecewaan kita di mana. Kita berkata bahwa Tuhan tidak mendengar doa kita, padahal mungkin kita sedang terlalu kecewa untuk menyadari bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan. Kita merasa ditinggalkan, padahal kita sendiri yang perlahan berhenti mendekat.

Tentu, merasa kecewa, sedih, bahkan mempertanyakan kehidupan bukanlah sesuatu yang membuat seseorang menjadi buruk. Kita manusia, dan manusia memiliki batas kemampuan untuk menanggung beban. Namun, jangan sampai kekecewaan terhadap dunia membuat kita kehilangan tempat untuk kembali.

Kita Berharap Dunia Selalu Adil, Padahal Kenyataannya Tidak Demikian

Salah satu kesalahan terbesar kita adalah berharap dunia akan selalu memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan orang lain. Kita berharap kejujuran dibalas dengan kejujuran. Kebaikan dibalas dengan kebaikan. Kesetiaan dibalas dengan kesetiaan. Kita mengira bahwa selama kita tidak menyakiti orang lain, orang lain juga tidak akan menyakiti kita. Sayangnya, kenyataan tidak selalu bekerja seperti itu.

Ada orang yang tulus, tetapi dikhianati. Ada orang yang bekerja keras, tetapi belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Ada orang yang mencintai dengan sepenuh hati, tetapi tetap harus menerima kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk tinggal. Dunia tidak pernah menjanjikan bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai keinginan kita. Namun, ketika kenyataan itu datang, kita sering kali merasa seolah-olah seluruh kehidupan sedang memusuhi kita.

Kita lupa bahwa manusia memiliki kehendak, bahwa keadaan bisa berubah, dan bahwa tidak semua kejadian berada dalam kendali kita. Lalu, mengapa Tuhan yang harus kita salahkan atas segala sesuatu yang dilakukan manusia? Mengapa kita menjadikan kesalahan seseorang sebagai alasan untuk meragukan seluruh kebaikan yang masih ada di kehidupan ini? Barangkali, yang membuat kita semakin terluka bukan hanya peristiwa yang kita alami, melainkan juga harapan kita yang terlalu tinggi terhadap dunia yang memang tidak sempurna.

Kita menginginkan kepastian di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian. Kita menginginkan semua orang memahami kita, sementara kita sendiri belum tentu mampu memahami orang lain. Kita menginginkan kehidupan yang selalu menyenangkan, padahal menjadi manusia berarti juga belajar menghadapi kehilangan, kegagalan, dan kekecewaan. Bukan berarti kita harus menerima segala bentuk ketidakadilan tanpa melakukan apa-apa. Kita tetap perlu berjuang, memperbaiki keadaan, menetapkan batasan, dan menjauh dari hal-hal yang menyakiti kita. Namun, dalam perjuangan itu, jangan sampai kita kehilangan hubungan dengan sesuatu yang selama ini menjadi sumber harapan kita.

Tuhan Bukan Tempat Pelarian yang Hanya Kita Cari Ketika Terdesak

Ada sebuah kebiasaan yang mungkin pernah kita lakukan, bahkan tanpa menyadarinya. Ketika hidup berjalan baik, kita sibuk dengan dunia. Kita merasa mampu melakukan semuanya sendiri. Kita mengejar berbagai keinginan, menikmati pencapaian, dan terkadang lupa meluangkan waktu untuk bersyukur.

Namun, ketika semuanya mulai berantakan, kita mencari Tuhan. Ketika hubungan berakhir, kita berdoa agar seseorang kembali. Ketika menghadapi ujian, kita memohon kemudahan. Ketika kesulitan ekonomi datang, kita berharap ada jalan keluar. Ketika tidak ada lagi orang yang bisa kita percaya, barulah kita merasa membutuhkan-Nya. Tidak ada yang salah dengan datang kepada Tuhan ketika kita sedang kesulitan. Justru, dalam keadaan seperti itulah manusia sering menyadari keterbatasannya. Yang perlu kita renungkan adalah mengapa kita hanya ingin dekat dengan-Nya ketika membutuhkan sesuatu.

Apakah hubungan kita dengan Tuhan selama ini hanya sebatas permintaan dan harapan yang ingin segera dikabulkan? Apakah kita akan tetap berdoa ketika keadaan tidak berubah? Apakah kita akan tetap bersyukur ketika sesuatu yang kita inginkan tidak menjadi milik kita? Apakah kita masih bersedia mendekat ketika hidup terasa begitu melelahkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Saya sendiri menyadari bahwa terkadang kita terlalu sibuk meminta kehidupan yang lebih baik, sampai lupa membangun diri agar mampu menghadapi kehidupan yang tidak selalu baik. Kita ingin semua masalah segera selesai, tetapi tidak selalu bersedia menjalani prosesnya. Kita meminta ketenangan, tetapi terus membiarkan diri terjebak dalam perbandingan. Kita memohon kebahagiaan, tetapi mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian orang lain.

Kita ingin Tuhan mendengarkan semua keluh kesah kita, tetapi sering kali tidak menyediakan waktu untuk mendekat kepada-Nya. Mungkin, sudah saatnya kita memperbaiki cara pandang tersebut. Beribadah bukan berarti kita sedang melakukan transaksi agar kehidupan selalu berjalan sesuai keinginan. Berdoa juga bukan jaminan bahwa kita tidak akan pernah mengalami kesulitan. Bagi saya, mendekat kepada Tuhan adalah tentang menyadari bahwa di tengah kehidupan yang tidak selalu bisa kita kendalikan, kita masih bisa berusaha, berharap, dan belajar menerima kenyataan tanpa harus kehilangan arah.

Menjadi Mahasiswa, Menjadi Manusia yang Sedang Berjuang

Sebagai mahasiswa, saya merasa bahwa kita hidup di masa ketika keberhasilan sering kali dijadikan ukuran utama untuk menilai seseorang. Kita melihat teman-teman yang sudah mendapatkan prestasi, memiliki pekerjaan sampingan, merintis bisnis, atau berhasil mencapai sesuatu yang belum mampu kita raih. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan perjalanan orang lain. Kita merasa tertinggal.

Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang mereka hadapi. Kita hanya melihat bagian kehidupan yang mereka perlihatkan, lalu menggunakannya sebagai ukuran untuk menilai kehidupan kita sendiri. Akibatnya, kita menjadi terlalu keras terhadap diri sendiri. Kita merasa gagal hanya karena belum mencapai sesuatu pada usia tertentu. Kita merasa tidak berharga hanya karena belum mampu memenuhi harapan keluarga. Kita bahkan mulai meragukan masa depan karena beberapa kali mengalami kegagalan. Dalam keadaan seperti itu, mendekat kepada Tuhan terkadang terasa sulit. Bukan karena kita tidak percaya, melainkan karena pikiran kita terlalu penuh dengan kecemasan.

Kita takut mengecewakan orang tua. Kita takut tidak menjadi siapa-siapa. Kita takut bahwa semua usaha yang kita lakukan hari ini tidak akan membawa kita ke mana-mana. Namun, bukankah kita juga perlu memahami bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar gelar dan memperoleh pekerjaan? Ada proses pendewasaan yang sedang kita jalani. Ada cara berpikir yang sedang kita bangun. Ada kesalahan yang perlu kita pelajari, dan ada ketahanan diri yang sedang kita bentuk. Kita tidak harus selalu terlihat kuat. Kita tidak harus selalu mengetahui jawaban atas semua persoalan. Kita juga tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja ketika kenyataannya tidak demikian. Kita boleh lelah. Kita boleh menangis. Kita boleh mengakui bahwa ada hari-hari ketika menjalani kehidupan saja terasa begitu berat.

Namun, jangan menjadikan kelelahan sebagai alasan untuk menyerah terhadap diri sendiri, apalagi menjauh dari segala sesuatu yang dapat membantu kita menemukan kembali harapan. Jika hari ini kita belum mampu berlari, berjalanlah perlahan. Jika belum mampu menyelesaikan semua persoalan, hadapi satu per satu. Jika belum menemukan jawaban atas doa-doa kita, bukan berarti kita harus berhenti berharap. Kita masih memiliki waktu untuk belajar, memperbaiki diri, dan mencoba kembali. Dan selama kita masih memiliki kesempatan untuk berusaha, jangan terburu-buru menganggap kehidupan telah berakhir hanya karena satu bagian darinya tidak berjalan sesuai rencana.

Barangkali, Kita Hanya Perlu Kembali

Saya tidak ingin mengatakan bahwa setiap penderitaan pasti memiliki alasan yang dapat kita pahami. Ada pengalaman yang menyakitkan, ada kehilangan yang sulit diterima, dan ada pertanyaan yang mungkin tidak segera menemukan jawaban. Saya juga tidak ingin menganggap bahwa mendekat kepada Tuhan akan membuat seluruh persoalan langsung selesai. Kehidupan tidak sesederhana itu.

Namun, saya percaya bahwa ketika dunia terasa begitu bising, manusia tetap membutuhkan ruang untuk menenangkan diri, merenungkan kehidupan, dan menemukan kembali alasan untuk melanjutkan langkahnya. Bagi sebagian orang, ruang itu ditemukan melalui keluarga. Bagi yang lain, melalui sahabat, atau bantuan profesional ketika beban hidup terasa terlalu berat. Bagi saya, hubungan dengan Tuhan juga dapat menjadi bagian penting dari proses tersebut. Kita tidak harus menunggu menjadi manusia yang sempurna untuk kembali berdoa. Kita tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan sebelum kembali beribadah. Kita tidak harus berpura-pura kuat di hadapan Tuhan ketika kenyataannya kita sedang rapuh.

Datanglah dengan segala keresahan yang kita miliki. Jika sedang kecewa, akui kekecewaan itu. Jika sedang takut, akui ketakutan itu. Jika sedang bingung, akui bahwa kita belum memahami apa yang sedang terjadi. Kejujuran terhadap diri sendiri adalah bagian dari proses untuk memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.

Sebab, mungkin yang kita butuhkan bukanlah jawaban instan atas semua persoalan, melainkan keberanian untuk menjalani hari ini tanpa kehilangan harapan terhadap hari esok. Kita tetap perlu berusaha. Kita tetap perlu memperjuangkan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Kita tetap perlu meminta pertolongan ketika tidak sanggup menghadapi semuanya sendirian. Dan di tengah semua itu, kita tidak perlu menjadikan luka sebagai alasan untuk menutup diri dari Tuhan.

Penutup: Dunia Boleh Melukaimu, tetapi Jangan Biarkan Luka Menentukan Arahmu

Pada akhirnya, kita perlu memahami bahwa dunia tidak selalu menjadi tempat yang ramah bagi setiap orang. Akan ada orang yang mengecewakan kita. Akan ada rencana yang gagal. Akan ada harapan yang tidak terwujud, meskipun kita sudah berusaha sebaik mungkin.

Namun, apakah semua itu harus membuat kita kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan?

Apakah karena seseorang mengkhianati kita, kita harus berhenti mempercayai siapa pun? Apakah karena beberapa doa belum terjawab sesuai harapan, kita harus berhenti berdoa? Apakah karena dunia berkali-kali membuat kita kecewa, kita harus menjauh dari Tuhan yang selama ini menjadi bagian dari keyakinan kita?

Saya rasa, kita perlu memikirkan kembali semua itu. Mungkin, kita tidak bisa mengendalikan bagaimana dunia memperlakukan kita. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana kita menanggapinya.

Kita bisa belajar dari kegagalan tanpa harus membenci diri sendiri. Kita bisa meninggalkan hubungan yang menyakiti tanpa kehilangan kemampuan untuk mencintai. Kita bisa menerima kenyataan yang pahit tanpa harus berhenti memperjuangkan masa depan. Dan kita bisa mengakui bahwa hidup sedang tidak baik-baik saja tanpa harus merasa bahwa kita telah kehilangan seluruh harapan. Dunia mungkin menjadi alasanmu terluka, tetapi jangan sampai luka itu membuatmu menjauh dari Tuhan.

Sebab, ketika kita kehilangan sesuatu yang kita cintai, gagal meraih sesuatu yang kita perjuangkan, atau merasa tidak lagi memiliki siapa pun untuk bersandar, kita tetap membutuhkan harapan untuk melanjutkan kehidupan. Jika hari ini kamu sedang kecewa, tidak apa. Jika kamu sedang mempertanyakan banyak hal, berikan dirimu waktu untuk memahami semuanya. Kamu tidak harus menemukan seluruh jawaban hari ini.

Namun, jangan biarkan kekecewaan membuatmu lupa bahwa kamu masih bisa memperbaiki diri, memulai kembali, dan mencari kesuksesan yang di nanti. Barangkali, selama ini kita terlalu sibuk bertanya mengapa Tuhan membiarkan dunia melukai kita, sampai lupa bertanya mengapa kita harus menjauh dari-Nya ketika justru sedang membutuhkan kekuatan.

Jika dunia yang membuatmu hancur, mengapa Tuhan yang kau jauhi?

Pertanyaan itu bukan untuk menghakimi siapa pun. Bukan pula untuk menyederhanakan rasa sakit yang sedang dialami seseorang. Pertanyaan itu adalah pengingat bagi diri saya sendiri, dan mungkin juga bagi kita semua: jangan sampai karena terlalu kecewa dengan kehidupan, kita justru meninggalkan hal yang selama ini memberi kita alasan untuk tetap berharap. Sebab, kita mungkin tidak selalu mampu mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Namun, kita masih bisa belajar menjadi manusia yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dekat dengan Tuhan di tengah segala ketidaksempurnaan hidup.

Dan mungkin, untuk saat ini, itu sudah menjadi langkah awal yang cukup berarti.