Tetap Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Global
Tulisan dari Riza Abditya Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dunia sedang bergerak dalam ketidakpastian. Ketegangan geopolitik, perubahan arah kebijakan ekonomi negara maju, hingga gejolak pasar keuangan global membuat prospek perekonomian semakin sulit diprediksi. Harga komoditas berfluktuasi, arus modal bergerak dinamis, dan pelaku usaha harus mengambil keputusan di tengah berbagai risiko yang belum sepenuhnya dapat diperhitungkan. Di tengah situasi tersebut, satu pertanyaan penting muncul, bagaimana Indonesia tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonominya?

Ketidakpastian global memang tidak dapat dihindari. Namun, dampaknya terhadap perekonomian domestik dapat dikelola melalui fondasi ekonomi yang kuat dan kebijakan yang tepat. Tantangannya bukan sekadar bertahan dari tekanan eksternal, melainkan memastikan aktivitas ekonomi tetap bergerak dan peluang pertumbuhan tidak terhenti.
Bank Indonesia dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan III 2026 memprakirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 sekitar 3,0%, dengan inflasi global sebesar 4,6%. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa perekonomian dunia masih menghadapi tantangan. Kebijakan moneter negara maju yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama juga berpotensi memengaruhi arus modal dan stabilitas pasar keuangan negara berkembang.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut tentu perlu dicermati. Sebagai negara yang terhubung dengan perekonomian global melalui perdagangan, investasi, dan pasar keuangan, perubahan kondisi eksternal dapat memengaruhi nilai tukar, biaya pembiayaan, serta aktivitas ekspor dan impor. Ketika investor global mengubah preferensi investasinya, negara berkembang dapat menghadapi tekanan arus modal. Sementara itu, pelemahan permintaan dari negara mitra dagang berpotensi memengaruhi kinerja ekspor nasional.
Meski demikian, Indonesia memiliki sumber kekuatan dari dalam negeri. Konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga, investasi yang menunjukkan perkembangan positif, serta peningkatan ekspor nonmigas menjadi penopang penting perekonomian. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%. Proyeksi tersebut memberikan optimisme bahwa perekonomian nasional masih memiliki ruang untuk tumbuh di tengah perlambatan ekonomi global.
Konsumsi rumah tangga, misalnya, akan lebih berkelanjutan apabila ditopang oleh peningkatan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja. Masyarakat tentu dapat meningkatkan belanja ketika memiliki keyakinan terhadap kondisi ekonomi dan kepastian penghasilan. Karena itu, pertumbuhan ekonomi perlu diterjemahkan menjadi kesempatan kerja yang lebih luas dan peningkatan kesejahteraan yang dapat dirasakan secara nyata.
Begitu pula dengan investasi. Nilai investasi yang besar akan memberikan dampak lebih luas apabila mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat rantai pasok domestik, dan menciptakan kesempatan kerja. Investasi juga perlu diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki potensi nilai tambah, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu mengambil peran lebih besar dalam rantai produksi global.
Di sisi lain, stabilitas makroekonomi menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan. Inflasi yang terkendali membantu menjaga daya beli masyarakat, sementara nilai tukar yang stabil memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam mengambil keputusan bisnis. Ketika harga bergerak terlalu cepat atau nilai tukar mengalami volatilitas berlebihan, dunia usaha akan menghadapi kesulitan dalam menyusun perencanaan biaya dan investasi. Pada akhirnya, ketidakpastian tersebut dapat memengaruhi keputusan produksi maupun ekspansi usaha.
Dalam konteks tersebut, stabilitas bukanlah penghambat pertumbuhan, melainkan prasyarat agar pertumbuhan dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan. Kebijakan yang menjaga stabilitas perlu berjalan beriringan dengan kebijakan yang mendorong aktivitas ekonomi. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan, melainkan dua elemen yang harus dijaga keseimbangannya.
Peran Bank Indonesia melalui bauran kebijakan menjadi penting. Kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah dan mengendalikan inflasi. Sementara itu, kebijakan makroprudensial turut mendukung pertumbuhan melalui penguatan intermediasi perbankan dan pembiayaan sektor produktif. Penguatan sistem pembayaran digital juga menjadi bagian dari upaya menciptakan transaksi ekonomi yang lebih cepat, mudah, efisien, dan inklusif.
Namun, menjaga pertumbuhan bukan hanya tanggung jawab bank sentral. Pemerintah memiliki peran strategis dalam memperkuat daya saing industri, memperbaiki iklim investasi, meningkatkan kualitas infrastruktur, serta memastikan kebijakan fiskal mampu mendukung aktivitas ekonomi secara produktif. Dunia usaha juga perlu terus beradaptasi melalui inovasi, efisiensi, peningkatan kualitas produk, dan perluasan pasar.
Sinergi tersebut menjadi semakin penting ketika melihat potensi ekonomi di berbagai daerah. Setiap wilayah memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda. Daerah dengan potensi pertanian, perikanan, pertambangan, maupun industri pengolahan perlu didorong untuk mengembangkan nilai tambah dan memperkuat keterhubungan dengan pasar. Dengan demikian, sumber pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada wilayah tertentu, tetapi dapat berkembang lebih merata.
Ketidakpastian global mungkin akan terus menjadi bagian dari perjalanan ekonomi dunia. Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya bersikap defensif. Diversifikasi pasar ekspor, penguatan industri pengolahan, peningkatan produktivitas, serta pendalaman pasar keuangan perlu terus dilakukan agar perekonomian tidak terlalu rentan terhadap perubahan eksternal.
Pada akhirnya, tetap tumbuh di tengah ketidakpastian bukan berarti mengabaikan risiko. Justru sebaliknya, pertumbuhan yang berkelanjutan membutuhkan kemampuan membaca risiko, menjaga stabilitas, dan memanfaatkan peluang secara cermat. Indonesia memiliki modal untuk terus tumbuh. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan modal tersebut dikelola melalui kebijakan yang konsisten, sinergi yang kuat, dan fondasi ekonomi yang semakin produktif.
Sebab, ketangguhan sebuah perekonomian bukan diukur dari seberapa sering ia terhindar dari gejolak, melainkan dari kemampuannya untuk tetap bergerak ketika gejolak datang. Dunia boleh dipenuhi ketidakpastian, tetapi masa depan pertumbuhan Indonesia tetap dapat dibangun melalui optimisme yang realistis dan kerja nyata.

