Konten dari Pengguna

Fatherless dan Tumbuh Kembang Anak: Apa Kata Psikologi Pendidikan?

Rizka Agselia

Rizka Agselia

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Negeri Padang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Agselia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Foto: Lapina/Shutterstock (ID: 572925661)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Lapina/Shutterstock (ID: 572925661)

Fatherless adalah kondisi ketika anak kehilangan kehadiran atau keterlibatan ayah, baik secara fisik maupun emosional, dalam proses pengasuhan dan pendidikan. Ketika membahas tentang fenomena fatherless perhatian publik sering kali tertuju pada dampak emosional yang dialami anak, seperti rasa kesepian, rendahnya kepercayaan diri, atau kesulitan membangun hubungan dengan orang lain. Namun, dari sudut pandang psikologi pendidikan, persoalan ini sebenarnya lebih luas dari sekadar kehilangan figur ayah. Ketidakhadiran ayah berarti hilangnya salah satu sumber belajar utama dalam kehidupan anak.

Belakangan ini, fenomena fatherless kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah unggahan di media sosial viral dan mendapat respons luas dari warganet. Dalam sebuah komentar TikTok yang disukai lebih dari 20 ribu pengguna, akun @nayvalore_ mengaku tumbuh menjadi pribadi yang terlalu mandiri, mudah marah, haus validasi, serta sulit mempercayai orang lain akibat pengalaman fatherless. Pengalaman serupa juga dibagikan akun Threads @muteea.ra. Ia mengungkapkan bahwa dirinya mengalami rasa tidak aman (insecure), kesulitan menjalin hubungan yang sehat, hingga terbiasa hidup dalam "survival mode". Banyaknya respons yang muncul menunjukkan bahwa pengalaman fatherless bukan lagi isu yang dialami oleh segelintir individu, melainkan fenomena yang dirasakan oleh cukup banyak generasi muda saat ini.

Menurut penulis, fenomena ini perlu dipahami bukan hanya sebagai persoalan keluarga, melainkan juga sebagai persoalan pendidikan. Sebab, sebelum anak mengenal guru, ruang kelas, atau buku pelajaran, mereka terlebih dahulu belajar dari lingkungan keluarganya. Dalam konteks tersebut, ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga figur yang berperan dalam membentuk cara anak berpikir, mengelola emosi, menyelesaikan masalah, dan berinteraksi dengan orang lain.

Apa penyebabnya?

Fenomena fatherless di Indonesia menunjukkan tren yang memprihatinkan. Berdasarkan data Litbang Kompas yang dipublikasikan melalui GoodStats, sekitar 15,9 juta anak Indonesia atau 1 dari 5 anak berpotensi tumbuh tanpa peran ayah dalam kehidupannya. Beberapa penyebab utama fenomena fatherless di Indonesia antara lain: perceraian orang tua, ayah bekerja di luar kota atau jauh dari keluarga, minimnya komunikasi dan kedekatan (bonding) antara ayah dan anak, kekerasan dalam rumah tangga, kematian ayah, pola asuh yang kurang melibatkan ayah, jam kerja berlebihan yang membatasi interaksi dengan anak.

Sumber: Litbang Kompas & GoodStats (2025)

Fenomena fatherless bukan hanya persoalan keluarga, tetapi juga persoalan pendidikan. Kondisi keluarga juga merupakan faktor penting yang memengaruhi keberhasilan pendidikan anak. Anak tidak datang ke sekolah sebagai "kertas kosong", melainkan membawa pengalaman, pola pengasuhan, dan kondisi psikologis yang terbentuk dari lingkungan keluarganya.

Fatherless dalam Perspektif Psikologi Pendidikan

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Oleh karena itu, ketidakhadiran ayah tidak hanya memengaruhi kehidupan keluarga, tetapi juga proses belajar dan perkembangan anak secara menyeluruh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang kurang memperoleh keterlibatan ayah lebih rentan mengalami kesulitan mengelola emosi, merasa tidak aman, serta memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental (East et al., 2023).

Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan anak beradaptasi dengan lingkungan sekolah maupun lingkungan sosialnya. Menurut penulis, dampak ini sering kali dianggap sebagai masalah keluarga semata, padahal dapat memengaruhi kesiapan anak dalam menjalani proses pendidikan.

Selain berdampak pada aspek emosional, keterlibatan ayah juga berperan dalam pembentukan kepercayaan diri dan identitas diri anak. Hubungan yang positif dengan ayah membantu anak mengembangkan harga diri serta keyakinan terhadap kemampuan dirinya. Sebaliknya, minimnya keterlibatan ayah dapat membuat anak lebih mudah merasa tidak berharga dan terus mencari pengakuan dari lingkungan sekitar (King & Sobolewski, 2020).

Kehadiran ayah juga membantu anak belajar mempercayai orang lain, membangun relasi yang sehat, dan mengembangkan keterampilan sosial. Karena itu, anak yang tumbuh dalam kondisi fatherless sering kali menghadapi kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal yang positif (Vrolijk et al., 2021).

Dari sisi pendidikan, keterlibatan ayah berkaitan dengan motivasi belajar, prestasi akademik, serta academic self-efficacy atau keyakinan anak terhadap kemampuan belajarnya. Anak yang memperoleh dukungan dan keterlibatan ayah cenderung memiliki kepercayaan diri akademik yang lebih baik, lebih berani menghadapi tantangan, serta lebih terlibat dalam proses belajar. Sebaliknya, kurangnya dukungan emosional dapat membuat anak lebih mudah menyerah dan memiliki motivasi belajar yang lebih rendah (Boonk et al., 2018).

Dengan demikian, fatherless tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan keluarga. Dari perspektif psikologi pendidikan, fenomena ini juga berkaitan dengan kualitas perkembangan peserta didik karena memengaruhi kesehatan mental, pembentukan karakter, kemampuan bersosialisasi, motivasi belajar, dan kesiapan akademik anak. Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di sekolah, tetapi juga oleh kualitas lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak.

Refleksi untuk Orang Tua dan Anak

Pada akhirnya, diskusi mengenai fatherless tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan "siapa yang salah?". Yang jauh lebih penting adalah bagaimana keluarga, sekolah, dan masyarakat mampu menghadirkan lingkungan yang tetap mendukung tumbuh kembang anak. Bagi para ayah, keterlibatan dalam kehidupan anak tidak selalu ditunjukkan melalui materi, tetapi melalui kehadiran, perhatian, dan komunikasi yang konsisten.

Sementara bagi anak-anak yang tumbuh dalam kondisi fatherless, masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang tidak hadir dalam hidup mereka, melainkan oleh dukungan, kesempatan, dan lingkungan yang membantu mereka terus bertumbuh. Dalam perspektif psikologi pendidikan, setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mencapai potensinya, selama mereka memperoleh lingkungan yang aman, suportif, dan penuh penerimaan.