Film Sebagai Perkembangan dari Karya Sastra

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizka Anindita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kalian membaca sebuah novel, kemudian melihat ceritanya hadir dalam bentuk film? Tokoh yang sebelumnya hanya kita bayangkan melalui tulisan tiba-tiba memiliki wajah, suara, gerak, dan lingkungan yang dapat kita lihat secara langsung. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebuah cerita dapat hadir dalam bentuk yang berbeda. Salah satunya melalui proses yang dikenal sebagai adaptasi atau alih wahana karya sastra ke dalam film.
Karya sastra dan film pada dasarnya memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikan cerita. Novel menggunakan bahasa sebagai alat utama untuk menggambarkan tokoh, suasana, konflik, dan peristiwa. Pembaca membangun gambaran tersebut melalui imajinasi. Sementara itu, film menggunakan gambar bergerak, suara, dialog, musik, ekspresi, serta sinematografi untuk menyampaikan cerita kepada penonton.
Perbedaan medium tersebut membuat film yang diadaptasi dari karya sastra tidak selalu sama persis dengan sumber aslinya. Beberapa adegan dapat diubah, dipersingkat, bahkan dihilangkan. Dialog juga dapat mengalami perubahan agar lebih sesuai dengan kebutuhan visual dan durasi film. Perubahan seperti ini sering kali membuat penonton membandingkan film dengan novel dan mempertanyakan apakah film tersebut masih sesuai dengan cerita aslinya.
Padahal, kesamaan secara keseluruhan bukan satu-satunya ukuran dalam melihat sebuah adaptasi. Novel dan film memiliki keterbatasan sekaligus kekuatan masing-masing. Sebuah novel dapat menjelaskan pikiran tokoh secara panjang melalui narasi, sedangkan film dapat memperlihatkan perasaan tokoh melalui ekspresi wajah, gerak tubuh, musik, dan suasana adegan. Dengan demikian, perpindahan cerita dari novel ke film bukan hanya memindahkan kata-kata ke layar, tetapi juga mengubah cara sebuah cerita disampaikan.
Dalam konteks ini, film dapat menjadi salah satu jalan bagi karya sastra untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Tidak semua orang memiliki kebiasaan membaca novel, tetapi mereka mungkin tertarik menonton film. Ketika sebuah karya sastra diadaptasi menjadi film, cerita yang sebelumnya hadir dalam bentuk teks dapat dikenal oleh penonton dengan latar belakang dan kebiasaan yang berbeda.
Adaptasi juga dapat membuat sebuah karya lama kembali diperbincangkan. Cerita yang sebelumnya hanya dikenal oleh pembaca dapat memperoleh perhatian baru setelah diangkat ke layar. Penonton yang tertarik dengan film tersebut bahkan dapat mencari karya sastra yang menjadi sumber ceritanya. Dengan demikian, hubungan antara sastra dan film tidak selalu bersifat persaingan, tetapi juga dapat menjadi hubungan yang saling memperkenalkan.
Meski seperti itu, perkembangan teknologi dan industri film juga membuat hubungan tersebut semakin kompleks. Saat ini, film tidak hanya ditayangkan di bioskop, tetapi juga dapat diakses melalui berbagai platform digital. Kondisi ini membuat karya yang berasal dari sastra memiliki kesempatan untuk menjangkau penonton yang lebih luas, bahkan lintas wilayah dan negara.
Pada akhirnya, film yang berasal dari karya sastra dapat dipandang sebagai bentuk baru dari perjalanan sebuah cerita. Cerita yang awalnya hidup melalui kata-kata kemudian memperoleh bentuk melalui gambar dan suara. Perubahan tersebut tidak berarti karya sastra kehilangan nilainya. Justru, adaptasi menunjukkan bahwa sebuah cerita dapat terus hidup ketika berpindah dari satu medium ke medium lainnya.
Karena itu, ketika sebuah film tidak sepenuhnya sama dengan novel yang menjadi sumbernya, perbedaan tersebut tidak selalu berarti kegagalan. Film memiliki bahasa dan cara bercerita sendiri. Yang menarik justru bagaimana sebuah cerita mengalami perubahan ketika berpindah medium dan bagaimana perubahan tersebut menghasilkan pengalaman yang berbeda bagi pembaca maupun penonton.
