Mengapa Sastra Masih Penting di Tengah Maraknya AI?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rizka Anindita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membuat banyak hal yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga manusia kini dapat dilakukan dengan lebih cepat. Menulis, menerjemahkan, mencari informasi, bahkan membuat cerita kini dapat dibantu oleh teknologi. Kehadiran AI tentu memberikan banyak kemudahan, tetapi dari perkembangan tersebut juga menimbulkan pertanyaan,
Jika mesin semakin mampu menghasilkan tulisan dan cerita, apakah sastra masih penting?
Jawabannya bukan sekadar karena sastra sudah ada sejak lama. Sastra tetap penting karena yang dibicarakan dalam sastra bukan hanya rangkaian kata, melainkan manusia dan kehidupannya. Melalui novel, cerpen, puisi, drama, atau bentuk sastra lainnya, pembaca dapat menemukan berbagai pengalaman manusia, seperti kehilangan, cinta, kesepian, konflik keluarga, ketidakadilan, harapan, dan perjuangan. Sastra membuat pengalaman tersebut dapat dilihat dari sudut pandang orang lain.
Di sinilah sastra memiliki ruang yang tidak mudah digantikan oleh AI. AI dapat menghasilkan sebuah cerita berdasarkan perintah yang diberikan, tetapi pengalaman manusia yang menjadi dasar lahirnya karya sastra memiliki konteks yang jauh lebih kompleks. Seorang penulis tidak hanya menyusun kata-kata. Ia membawa pengalaman, pengamatan, lingkungan sosial, ingatan, nilai, dan cara pandangnya terhadap kehidupan ke dalam sebuah karya.
Sastra mengajarkan sesuatu yang penting di tengah perkembangan teknologi, yaitu kemampuan memahami manusia. Ketika membaca cerita tentang seseorang yang kehilangan keluarganya, misalnya, pembaca tidak hanya mengetahui bahwa tokoh tersebut sedang mengalami kehilangan. Pembaca diajak mengikuti pikiran, perasaan, konflik, dan perubahan tokoh tersebut. Proses membaca seperti ini dapat memperluas cara seseorang melihat pengalaman orang lain.
Karena itu, perkembangan AI seharusnya tidak membuat sastra merasa harus bersaing dengan teknologi. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, sedangkan sastra memberikan ruang untuk memahami pengalaman manusia secara lebih mendalam. Teknologi dapat membantu menghasilkan teks, tetapi nilai sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan kalimat.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan apakah AI dapat menulis sastra, melainkan apakah manusia masih mau membaca, memahami, dan menciptakan sastra. Selama manusia masih mengalami kehilangan, mencintai, berharap, bertanya, berkonflik, dan mencari makna dalam kehidupannya, sastra masih memiliki alasan untuk tetap hidup.
Di tengah maraknya AI, sastra justru dapat mengingatkan manusia pada sesuatu yang tidak boleh hilang, kemampuan untuk melihat manusia bukan sekadar sebagai data, tetapi sebagai makhluk yang memiliki pengalaman, perasaan, dan cerita.
