Konten dari Pengguna

Sepele, Tetapi Bisa Membuat Salah Paham

Rizka Anindita

Rizka Anindita

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Anindita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
sumber: pixabay

Saat mengirim pesan, kita sering merasa tanda baca tidak terlalu penting. Apalagi kalau hanya sedang chat dengan teman. Menulis tanpa titik, koma, atau tanda tanya terasa lebih cepat dan santai. Karena sifatnya informal, aturan bahasa sering kali dianggap tidak perlu terlalu diperhatikan.

Padahal kebiasaan kecil seperti itu kadang bisa menimbulkan salah paham. Satu kalimat yang sama dapat memiliki maksud yang berbeda hanya karena tanda bacanya berbeda. Misalnya kalimat “kamu datang kan” dapat dibaca sebagai pertanyaan biasa. Namun bisa tidak ada konteks atau intonasi, orang lain bisa saja menganggapnya sebagai pernyataan atau bahkan merasa sedang ditekan untuk datang.

Hal yang sama terjadi ketika kita menggunakan koma atau tidak menggunakannya. Dalam tulisan, tanda baca membantu pembaca mengetahui bagian mana yang harus berhenti dan bagaimana sebuah kalimat sebaiknya dipahami. Ketika tanda baca dihilangkan begitu saja, pembaca harus menebak sendiri maksud dari tulisan tersebut.

Masalahnya, kita tidak bisa mendengar nada suara atau melihat ekspresi wajah seseorang ketika membaca chat. Kalimat yang sebenarnya biasa saja bisa terasa dingin, marah, atau menyindir. Misalnya, pesan “yaudah terserah” dapat memiliki banyak makna tergantung keadaan dan cara orang membacanya. Jika disampaikan langsung, kita masih bisa melihat ekspresi dan mendengar nada suara. Dalam chat, semua petunjuk itu tidak ada, yang mana akan menyebabkan kesalahanpahaman antara marah atau tidak.

Memang, kita tidak harus menulis chat kepada teman dengan gaya yang sama seperti menulis surat resmi. Bahasa santai, singkatan, dan penggunaan tanda baca yang lebih bebas merupakan bagian dari kebiasaan berkomunikasi. Namun, bukan berarti tanda baca boleh dianggap tidak penting sama sekali.

Tanda baca sebenarnya membantu kita menyampaikan maksud dengan lebih jelas. Bahkan dalam percakapan yang santai, kita tetap perlu memperhatikan apakah pesan yang kita tulis bisa dipahami dengan benar oleh orang lain. Tidak perlu selalu sempurna, tetapi setidaknya jangan sampai tulisan kita membuat orang lain harus menebak-nebak maksudnya.

Jadi, tanda baca bukan hanya milik tulisan formal. Ia hadir untuk membantu bahasa menyampaikan pesan. Mau menulis tugas, membuat pengumuman, atau hanya sekadar mengirim pesan kepada teman.

Jadi, mungkin selama ini kita terlalu menganggap tanda baca sebagai sesuatu yang merepotkan. Padahal, satu titik, satu koma, atau satu tanda tanya bisa menjadi pembeda antara pesan yang jelas dan pesan yang membuat orang bertanya-tanya, “Maksudnya apa, ya?”