Dari Kebun ke Cangkir : Cerita di Balik Kopi Silalabak Pangandaran

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran K. Pangandaran
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rizky Ardian Tuhuleley tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“One more cup of coffee for the road, one more cup of coffee ’fore I go, to the valley below.” One more cup of coffee- Bob Dylan
Di Pangandaran, kopi bukan hanya soal minuman pagi. Bagi sebagian petani, kopi adalah cara membaca waktu, menakar kesabaran, dan bertahan di tengah perubahan. Di antara kebun kebun kopi yang dirawat perlahan, Silalabak tumbuh sebagai usaha kopi lokal yang dibangun bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan proses panjang yang dijalani hari demi hari.
Silalabak berangkat dari kebun kopi di wilayah Pangandaran, tepatnya di Desa Sidamulih, Kecamatan Sidamulih. Usaha ini dikelola dengan pendekatan perawatan jangka panjang, menyesuaikan dengan karakter alam dan kemampuan pengelolanya. Nama Silalabak diambil dari ungkapan bahasa Sunda yang bermakna bangkit dari keterpurukan. Bagi Suparman, pendiri Silalabak, makna itu tidak dimaksudkan sebagai simbol dagang, melainkan sebagai refleksi perjalanan hidup yang ia jalani.
“Kalau orang Sunda, Silalabak itu artinya bangkit dari keterpurukan,” ujar Suparman. “Buat saya, ini bukan slogan. Ini pengingat proses hidup dan usaha yang memang tidak selalu mulus.”
Pandangan tersebut menjadi dasar cara Silalabak dijalankan. Tidak ada target pertumbuhan agresif atau ekspansi cepat. Perawatan kebun, pengolahan biji kopi, hingga pemasaran dilakukan secara bertahap dan realistis. Suparman memilih menjaga ketahanan proses dan konsistensi kualitas, meski konsekuensinya adalah pertumbuhan yang lambat.
Ketertarikan Suparman pada kopi berawal dari latar belakangnya sebagai petani. Pada 2015, sebuah pengalaman sederhana memicu rasa ingin tahunya. Ia membeli secangkir kopi seharga Rp10 ribu di sebuah pameran pertanian. Harga tersebut membuatnya berpikir tentang nilai sebuah komoditas dan peluang yang mungkin ada di dalamnya.
“Saya mikir, saya ini orang tani. Kalau beras bisa, kopi kenapa enggak?” katanya.
Berangkat dari pertanyaan itu, Suparman mulai merawat tanaman kopi peninggalan orang tuanya. Pada awalnya, perawatan dilakukan tanpa pemahaman teknis yang memadai. Banyak hal dilakukan dengan mencoba dan mengamati hasilnya. Titik balik terjadi ketika ia bertemu dengan seorang petani kopi asal Lampung yang telah lebih dulu mengelola kebun secara mandiri dan berpengalaman.
“Saya dekati beberapa bulan, ngulik cara perawatan. Dari pembersihan tunas, daun yang enggak produktif, sampai cabang,” ujarnya. “Belajarnya hampir setahun.”
Proses belajar tersebut membentuk cara pandang Suparman terhadap kopi. Ia menyadari bahwa kopi bukan tanaman yang memberi hasil cepat. Dibutuhkan waktu bertahun tahun sebelum pohon berbuah optimal. Setelah masa belajar dan perawatan yang panjang, hasil panen mulai bisa dinikmati. Namun, tantangan tidak berhenti di situ.
Pandemi menjadi ujian besar bagi Silalabak. Rencana pemasaran ke luar daerah terhenti akibat pembatasan aktivitas. Sementara itu, kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Kondisi tersebut memaksa Suparman mengambil keputusan penting dalam waktu singkat.
“Mamang bingung. Anak harus sekolah, kebutuhan jalan terus,” tuturnya.
Dalam situasi tersebut, Suparman bersama istrinya, Iis Sunisih, memutuskan untuk mengolah dan memasarkan kopi secara mandiri. Proses sangrai dilakukan dengan peralatan sederhana. Pemasaran dimulai dari lingkungan terdekat, mengandalkan relasi personal dan kepercayaan.
“Istri yang banyak bantu promosi. Sampai sekarang juga masih,” kata Suparman.
Peran Iis Sunisih dalam Silalabak berkembang seiring waktu. Tidak hanya mengurus pemasaran, ia juga aktif mengikuti berbagai program dan kegiatan yang berkaitan dengan pertanian dan pengembangan UMKM. Keterlibatannya dalam jejaring petani dan pelaku usaha membuka akses relasi yang lebih luas, mulai dari promosi produk hingga pertukaran pengetahuan dan pasokan bahan baku kopi.
Keaktifan tersebut membawa Silalabak terhubung dengan berbagai pendampingan di tingkat daerah hingga nasional. Usaha ini mendapatkan perhatian dari dinas terkait di Pangandaran, serta terhubung dengan program program di bawah Kementerian Pertanian. Salah satu capaian penting adalah masuknya Silalabak dalam jajaran 50 besar Petani Milenial tingkat nasional, sebuah program yang mendorong regenerasi petani dan penguatan usaha pertanian berbasis inovasi.
Keaktifan Iis dalam berbagai kegiatan resmi turut memperkuat posisi Silalabak di tingkat kelembagaan. Usaha kopi ini mendapatkan pendampingan dan pengakuan dari dinas terkait di daerah, hingga terhubung dengan program-program di bawah Kementerian Pertanian. Salah satu capaian yang menonjol adalah masuknya Silalabak dalam jajaran 50 besar Petani Milenial tingkat nasional, sebuah program yang bertujuan mendorong regenerasi petani dan penguatan usaha pertanian berbasis inovasi.
Kopi Silalabak sendiri dikenal sebagai salah satu kopi khas Pangandaran yang diproduksi oleh Kelompok Tani (Poktan) Silalabak di Desa Sidamulih, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran. Kelompok tani ini dikomandani oleh Suparman, yang juga tercatat sebagai Young Ambassador for Agriculture Kementerian Pertanian. Status tersebut memperluas ruang gerak Silalabak, tidak hanya sebagai usaha lokal, tetapi juga sebagai bagian dari jejaring pertanian nasional.
Melalui peran Suparman dan Iis, Silalabak berkembang sebagai usaha yang tidak berdiri sendiri. Selain memproduksi kopi, Poktan Silalabak juga menjadi ruang berbagi bagi petani dan pegiat kopi lokal, mulai dari diskusi budidaya, pengolahan pascapanen, hingga pengenalan kopi kepada pelaku kedai dan konsumen. Pendekatan ini membuat Silalabak tidak semata berorientasi pada penjualan, tetapi juga pada penguatan ekosistem kopi di Pangandaran.
Dengan skala yang masih terbatas, Silalabak menunjukkan bahwa pengembangan usaha kopi dapat dilakukan secara bertahap dan terukur. Dukungan keluarga, keterlibatan aktif dalam jejaring, serta pengakuan dari lembaga pemerintah menjadi fondasi yang menjaga keberlanjutan usaha ini. Dari Desa Sidamulih, Silalabak hadir sebagai representasi kopi Pangandaran yang tumbuh dari kebun, dikelola dengan proses, dan dibangun melalui kerja sama.
Seiring waktu, Silalabak tidak hanya berfungsi sebagai usaha penjualan kopi, tetapi juga menjadi ruang belajar dan berbagi. Suparman membuka ruang bagi barista dan pegiat kopi lokal untuk belajar bersama, mulai dari roasting hingga cupping.
“Semua head bar di Pangandaran pernah kumpul di sini. Sharing, belajar bareng,” ujarnya.
Pendekatan tersebut membuat Silalabak dikenal melalui relasi dan rekomendasi dari mulut ke mulut. Hingga kini, pemasaran Silalabak masih didominasi jaringan lokal dan rekanan di beberapa daerah, tanpa strategi promosi besar-besaran.
Dalam perjalanan usahanya, Suparman menyadari bahwa persaingan di dunia kopi semakin ketat. Namun, ia memilih untuk tidak melihat kompetitor sebagai ancaman langsung.
“Kita dituntut untuk tidak menyerang. Jangan sampai nyerah,” katanya. “Orang hidup itu jangan putus asa.”
Kerja sama Suparman dan Iis membuat Silalabak tetap bertahan meski dikelola dalam skala terbatas. Dengan pembagian peran yang saling melengkapi, usaha ini berjalan lebih tertata dan berorientasi pada keberlanjutan.
Dari Pangandaran, Silalabak hadir sebagai gambaran usaha kopi lokal yang dibangun dari kebun, dijaga lewat proses, dan dijalankan dengan kesadaran bahwa pertumbuhan tidak selalu harus cepat asal tetap bergerak.
Di tengah dinamika usaha kopi yang semakin kompetitif, Silalabak memilih bertahan dengan cara yang sederhana: merawat proses, menjaga relasi, dan bergerak sesuai kemampuan. Dari kebun di Pangandaran hingga jejaring nasional yang kini terbuka, Silalabak tumbuh bukan sebagai usaha yang mengejar kecepatan, melainkan ketahanan. Bagi Suparman dan Iis Sunisih, kopi bukan sekadar produk yang dijual, tetapi hasil dari perjalanan panjang yang dikerjakan bersama, pelan, dan penuh kesadaran. Dari Sidamulih, Silalabak menjadi bukti bahwa usaha lokal dapat melangkah jauh tanpa harus meninggalkan akar tempat ia bermula
