Konten dari Pengguna

Memahami Tradisi Galungan Masyarakat Bali, Perayaan Kemenangan Dharma

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah umat Hindu mengikuti upacara persembahyangan perayaan Hari Raya Galungan di Pura Amerta Jati, Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (19/11/2025).  Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah umat Hindu mengikuti upacara persembahyangan perayaan Hari Raya Galungan di Pura Amerta Jati, Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (19/11/2025). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Setiap 210 hari, masyarakat Hindu Bali merayakan Galungan sebagai hari raya besar yang menandai kemenangan dharma atas adharma. Perayaan ini berlangsung selama 10 hari sebelum Hari Raya Kuningan dengan rangkaian ritual sarat makna filosofis dan spiritual. Lebih dari sekadar upacara keagamaan, Galungan menjadi momen untuk memperkuat nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan.

Daftar isi

Pengertian dan Makna Galungan

Galungan merupakan perayaan yang melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan dalam kehidupan manusia. Menurut I Made Titib dalam buku Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu, perayaan ini termasuk dalam kategori upacara yadnya yang bertujuan menghormati Sang Hyang Widhi dan para leluhur. Umat Hindu Bali percaya bahwa pada periode ini, roh para leluhur turun ke dunia untuk memberkati keturunannya.

Tradisi Galungan dikaitkan dengan kisah kemenangan Raja Dharma Wangsa atas Raja Mayadenawa yang melarang rakyatnya beribadah. Legenda ini menjadi pengingat akan pentingnya menegakkan kebenaran dalam bermasyarakat.

Perhitungan Waktu Pelaksanaan

Penentuan hari raya Galungan menggunakan sistem kalender pawukon yang terdiri dari 30 wuku dengan setiap wuku berdurasi 7 hari. Galungan jatuh pada hari Budha Kliwon Wuku Dungulan dan berulang setiap 210 hari. Sistem ini menciptakan siklus spiritual yang terus menerus sepanjang tahun, sehingga umat Hindu Bali merayakan Galungan setidaknya dua kali dalam setahun.

Rangkaian Upacara dan Ritual

Persiapan dimulai dari hari Penyekeban dengan membuat tape ketan hingga buah-buahan. Umat membersihkan rumah, pekarangan, dan pura sebagai bentuk penyucian lahir batin. Kemudian membuat penjor sebagai hiasan depan rumah, aktivitas ini biasanya melibatkan seluruh anggota keluarga.

Pada puncak perayaan, umat melakukan persembahyangan di pura keluarga dan pura desa sejak pagi hari dengan mengenakan pakaian adat lengkap. Mereka membawa sesajen sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Kunjungan ke rumah kerabat juga menjadi tradisi untuk mempererat tali kekeluargaan.

Penjor sebagai Simbol Utama

Penjor merupakan bambu melengkung yang dihias dengan janur, buah-buahan, dan berbagai ornamen. Penjor melambangkan gunung sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan simbol kesejahteraan. Setiap elemen dalam penjor memiliki makna filosofis yang mendalam tentang hubungan manusia dengan alam semesta.

Penutup dengan Hari Kuningan

Kuningan jatuh 10 hari setelah Galungan sebagai penutup rangkaian perayaan. Pada hari ini, umat melakukan persembahyangan terakhir sebelum para leluhur kembali ke alam sana. Tradisi Galungan terus dilestarikan oleh generasi muda Bali sebagai warisan budaya yang kaya nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal.