Memahami Uji PCR untuk Hewan Ternak: Cara Kerja hingga Tips Pelaksanaannya

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan salah satu teknik terpenting dalam biologi molekuler modern. PCR digunakan untuk memperbanyak bagian DNA spesifik, hingga jumlahnya jutaan kali lipat dari sampel yang sangat sedikit. Dengan ini, analisis DNA pada manusia, hewan maupun tumbuhan menjadi jauh lebih mudah.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Sejarah Singkat PCR dalam Biologi Molekuler
Penemuan PCR oleh Kary Mullis pada tahun 1983 membawa revolusi besar dalam bidang genetika dan diagnostik molekuler. Teknologi ini memudahkan identifikasi gen atau patogen langsung dari darah, air liur, hingga jaringan tumbuhan dan hewan, bahkan jika jumlah DNA-nya sangat terbatas.
Menurut Tom Strachan dan Andrew Read dalam buku Human Molecular Genetics, PCR sangat efektif untuk mendeteksi DNA virus dalam diagnosis infeksi akut pada manusia, seperti HIV dan SARS-CoV-2, yang penting dalam pelayanan kesehatan saat ini.
2. Prinsip Dasar Uji PCR
Cara Kerja PCR
Prinsip utama PCR adalah menyalin bagian DNA tertentu secara berulang menggunakan enzim DNA polimerase dan primer yang menentukan target penggandaan. Proses ini terdiri dari beberapa komponen penting:
DNA target: bagian DNA yang ingin diperbanyak.
Primer: dua potongan pendek DNA untuk menandai awal (forward) dan akhir (reverse) proses penggandaan.
DNA polimerase: enzim yang memperbanyak DNA baru.
Nukleotida: bahan pembentuk rantai DNA baru.
Tahapan Siklus PCR
Teknik PCR bekerja melalui tiga tahap siklus utama, yakni:
Denaturasi: pemisahan dua untai DNA pada suhu tinggi (sekitar 94-98°C).
Annealing: penempelan primer pada daerah target DNA, biasanya pada suhu 50-65°C.
Elongasi: perpanjangan rantai DNA oleh DNA polimerase dengan mempertautkan nukleotida, umumnya pada suhu 72°C.
Setiap siklus PCR dapat menggandakan jumlah DNA dua kali lipat, sehingga setelah 30-40 siklus, satu molekul DNA bisa menjadi jutaan salinan.
3. Prosedur Pelaksanaan Uji PCR
Langkah-Langkah Standar Uji PCR
Langkah-langkah standar untuk melaksanakan PCR di laboratorium meliputi:
Mempersiapkan campuran reaksi yang terdiri atas DNA target, primer, DNA polimerase, nukleotida, dan buffer.
Menggunakan termal sikler, yaitu alat yang mampu mengatur suhu secara presisi sesuai dengan siklus PCR.
Menempatkan campuran ke dalam tabung PCR khusus yang tahan panas, kemudian menjalankan program siklus sesuai kebutuhan target DNA.
Tips agar Hasil PCR Optimal
Agar hasil PCR optimal, berikut ini tips-tips yang sebaiknya diperhatikan:
Pastikan seluruh alat steril, serta gunakan mikropipet dengan filter untuk mencegah kontaminasi silang.
Gunakan primer yang spesifik untuk target DNA agar tidak terjadi amplifikasi yang salah.
Pantau kebersihan lingkungan kerja karena kontaminasi menjadi sumber utama kesalahan PCR.
4. Manfaat Pengaplikasian Uji PCR pada Hewan Ternak
Merujuk jurnal Penerapan Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam Mendeteksi Bakteri Patogen pada Sektor Peternakan dan Kesehatan Masyarakat susunan Made Dwi Ambara Putra, berikut ini manfaat pengaplikasian PCR pada hewan ternak:
Mampu mendeteksi lebih awal penyakit infeksi pada ternak, sehingga peternak bisa mengambil langkah cepat dalam mengisolasi hewan terinfeksi dan mencegah penyebaran penyakit.
Instrumen diagnostik yang efektif untuk mendeteksi dan memonitor patogen pada hewan.
Dapat mendeteksi penyakit zoonotik yang dapat berpindah dari hewan ke manusia.
