Konten dari Pengguna

Sejarah Pemberontakan di Sulawesi Pasca Kemerdekaan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pemberontakan di Sulawesi. Foto: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemberontakan di Sulawesi. Foto: unsplash

Daftar isi

Pemberontakan di Sulawesi pasca kemerdekaan dipicu oleh kekecewaan politik, ketidakadilan ekonomi, dan pertarungan ideologi. Berbagai gerakan perlawanan muncul sebagai respons atas kebijakan pemerintah pusat yang dianggap belum merata.

Pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan

Salah satu babak paling krusial dalam sejarah pemberontakan di Sulawesi pasca kemerdekaan adalah gerakan DI/TII yang dipimpin oleh Abdul Kahar Muzakkar. Pemberontakan ini berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Akar masalahnya berada di integrasi bekas pejuang gerilya ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kekecewaan ini kemudian bertransformasi menjadi sebuah gerakan ideologis yang menantang otoritas Jakarta.

Akar Kekecewaan dan Tuntutan Awal

Pemberontakan ini pada dasarnya berakar dari kekecewaan mendalam terhadap kebijakan pemerintah pusat, terutama terkait reorganisasi tentara. Dalam buku Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII karya Barbara S. Harvey (1989) menjelaskan bagaimana sentimen kedaerahan dan ketidakpuasan atas tuntutan membentuk brigade sendiri yang tidak dipenuhi menjadi fondasi utama gerakan tersebut sebelum akhirnya berafiliasi dengan Darul Islam.

Afiliasi dengan Darul Islam

Dari sebuah protes lokal, gerakan Kahar Muzakkar berevolusi menjadi bagian dari jaringan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang lebih luas.

Meskipun fokus utamanya adalah DI/TII di Aceh, buku Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam Aceh karya Nazaruddin Sjamsuddin (1990) menyoroti bahwa pemberontakan DI/TII sering kali muncul dari ketegangan antara elite agama lokal yang kharismatik dengan otoritas negara modern yang dianggap sekuler, sebuah pola yang juga terlihat jelas dalam gerakan Kahar Muzakkar.

Gerakan Perjuangan Semesta (Permesta)

Berbeda dengan DI/TII, sejarah pemberontakan di Sulawesi pasca kemerdekaan juga mencatat Gerakan Perjuangan Semesta atau Permesta. Gerakan yang berpusat di Sulawesi Utara dan Tengah ini lebih didorong oleh ketidakpuasan terhadap alokasi ekonomi dan sentralisasi kekuasaan. Para tokohnya menuntut otonomi daerah yang lebih luas serta pembangunan yang adil bagi kawasan timur Indonesia.

Protes Terhadap Sentralisasi Ekonomi dan Politik

Permesta bukanlah gerakan separatis murni, melainkan sebuah protes keras terhadap ketidakseimbangan pembangunan antara pusat dan daerah. Dalam konteks nasional yang lebih luas, M.C. Ricklefs (2008) dalam karyanya A History of Modern Indonesia since c. 1200 menempatkan pemberontakan Permesta sebagai bagian dari pergolakan daerah yang lebih besar melawan sentralisasi kekuasaan di bawah Soekarno. Para pemimpinnya merasa sumber daya alam dari daerah mereka dieksploitasi tanpa imbal balik yang setimpal.

Dinamika Pergolakan Regional

Gerakan ini dipimpin oleh tokoh militer dan sipil terkemuka seperti Letkol Ventje Sumual. Mereka mendeklarasikan Piagam Perjuangan Semesta pada tahun 1957. Aksi ini mendapat dukungan dari sebagian masyarakat yang merasakan langsung dampak ketimpangan ekonomi dan politik yang berpusat di Jawa.

Gejolak Lokal Lainnya di Sulawesi

Di luar dua pemberontakan besar tersebut, sejarah pemberontakan di Sulawesi pasca kemerdekaan juga diwarnai oleh berbagai gejolak berskala lebih kecil. Konflik-konflik ini sering kali lahir dari dinamika politik lokal, sisa-sisa sentimen kolonial, dan perebutan pengaruh di tingkat akar rumput. Gejolak ini menunjukkan betapa rumitnya proses transisi kekuasaan di sebuah wilayah yang majemuk.

Konflik Sisa Sentimen Kolonial

Di beberapa daerah, peralihan dari kekuasaan Belanda ke Republik Indonesia tidak berjalan mulus. Sisa-sisa kekuatan pro-Belanda atau kelompok aristokrasi lokal yang kehilangan privilese terkadang memicu perlawanan. Mereka menolak untuk tunduk pada otoritas baru yang dianggap mengancam posisi tradisional mereka.

Kompleksitas Transisi Kekuasaan Lokal

Dinamika pasca-kemerdekaan juga memicu persaingan antar elite lokal yang baru berkuasa. A.B. Lapian dkk. (1996) dalam buku Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Tengah mencatat bahwa di beberapa wilayah Sulawesi, kekecewaan terhadap elite lokal yang baru berkuasa dan sisa-sisa sentimen pro-Belanda menjadi benih konflik. Meski skalanya tidak besar, pergolakan ini menunjukkan kompleksitas transisi kekuasaan di tingkat akar rumput.