Konten dari Pengguna

Bonus Atlet Asian Games 2026: Cukupkah Rp3 Miliar untuk Hari Tua?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Daniel Reche from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Daniel Reche from Pixabay

Bonus atlet Asian Games 2026 bukan sekadar hadiah atas medali, melainkan juga jawaban atas pendeknya usia produktif seorang atlet. Presiden Prabowo Subianto menjanjikan Rp3 miliar bagi peraih emas perorangan, tiga kali lipat bonus emas SEA Games. Angka itu terdengar besar, tetapi pertanyaannya adalah apakah uang yang diterima sekali cukup untuk puluhan tahun setelah karier berakhir.

Tulisan ini membahas makna bonus bagi masa depan atlet, bukan besaran bonus per cabang olahraga. Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, kenaikan bonus dipertimbangkan karena atlet umumnya berhenti bertanding pada usia sekitar 30 tahun.

Bonus Atlet dan Makna Apresiasi yang Layak

Presiden menyampaikan bonus Rp3 miliar saat melepas kontingen Indonesia pada 9 September, sambil membandingkannya dengan bonus emas SEA Games sebesar Rp1 miliar. Bonus itu ditujukan bagi peraih emas nomor perorangan, sedangkan besaran untuk nomor beregu saat itu masih dalam penghitungan.

Apresiasi sebesar ini patut disambut baik. Atlet menghabiskan bertahun-tahun berlatih dengan penghasilan yang tidak selalu pasti, sehingga penghargaan finansial dapat dibaca sebagai pengakuan atas pengorbanan itu.

Bonus Atlet dan Pendeknya Usia Produktif

Erick menjelaskan bahwa usia produktif atlet pendek, berbeda dengan masyarakat umum yang bisa bekerja lebih lama. Pernyataan itu penting karena mengubah cara memandang bonus, dari sekadar hadiah menjadi bekal.

Bonus yang dibaca sebagai bekal menuntut pengelolaan yang matang. Kemenpora memberikan pendampingan literasi keuangan kepada hampir 400 atlet dan pelatih penerima bonus SEA Games agar uang itu tidak habis untuk kegiatan yang tidak produktif. Menurut Erick, Presiden meminta bonus dipandang sebagai amanah untuk masa depan atlet.

Bonus Atlet dan Mereka di Luar Podium Tertinggi

Pada SEA Games 2025, peraih emas nomor tunggal menerima Rp1 miliar, perak Rp315 juta, dan perunggu Rp157 juta. Selisih antara emas dan perunggu mencapai lebih dari enam kali lipat. Pelatih yang atletnya meraih medali juga ikut menerima bonus.

Penghargaan berjenjang adalah hal wajar, tetapi jurang yang terlalu lebar dapat membuat perak dan perunggu terasa kurang berarti. Padahal, di Asian Games 2026 Indonesia membawa pulang 11 perak dan 23 perunggu, jauh lebih banyak daripada emas. Medali-medali itu juga lahir dari kerja bertahun-tahun.

Bonus Atlet dan Kehidupan setelah Karier Berakhir

Bonus sekali terima belum cukup bila tidak ditopang jalur lain, seperti pendidikan, pelatihan menjadi pelatih, dan kesempatan kerja. Kemenpora menyebut program untuk atlet berprestasi disiapkan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Rincian program itu belum banyak terlihat dalam pemberitaan, padahal publik berhak tahu seperti apa jaminan masa depan yang dijanjikan. Tanpa kejelasan, bonus besar berisiko hanya menjadi kabar gembira sesaat.

Bonus Atlet sebagai Bekal Hari Tua

Bonus Rp3 miliar adalah apresiasi yang layak, tetapi bukan jawaban tunggal bagi masa depan atlet. Nilainya akan terasa penuh jika dikelola dengan baik dan dilengkapi sistem yang menyiapkan atlet untuk hidup setelah panggung olahraga.

Barangkali pertanyaan yang lebih penting daripada seberapa besar bonusnya adalah apa yang tersedia bagi atlet ketika sorak penonton sudah reda.