Gischa Zayana: Pesan Ibu, Emas Nagoya, dan Tangga Panjang dari Perak

Student at Pamulang University. Writes about a wide range of topics and current issues with a clear, structured perspective.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kamu pernah pulang dari sebuah lomba dengan medali perak dan diam-diam bertanya apakah emas akan pernah datang, kamu pasti mengerti perasaan itu. Gischa Zayana mengenalnya sejak usia 17 tahun. Pada Oktober 2026, di Nagoya, perempuan muda dari Surakarta itu kembali membuktikan bahwa jawabannya bisa berbeda.
Bukan kisah tentang kemenangan yang datang tiba-tiba. Bukan pula kisah tentang bakat yang langsung meledak. Ini kisah tentang seseorang yang naik tangga dengan sabar, satu anak tangga setiap kali.
Gischa Zayana dan Perak yang Tidak Pernah Hilang.
Pada 2022, di tanah sendiri, Gischa pulang dengan perak. Medali itu bukan kegagalan, tetapi juga bukan yang ia inginkan. Setahun kemudian, di Phnom Penh, ia mendapat kesempatan lagi.
Ketika emas akhirnya datang, pelatih kepala tim boccia Indonesia berteriak menyemangati dari pinggir lapangan, lalu memeluknya berkali-kali sesudah laga. Ia menyebut emas itu mukjizat. Kata itu terdengar besar, tetapi barangkali hanya cara seorang pelatih mengatakan bahwa ada hal yang baru terasa mungkin setelah benar-benar terjadi.
Gischa Zayana dan Pesan Ibu sebelum ke Paris.
Setahun berikutnya, Paralimpiade Paris menjadi multievent besar pertamanya. Bagi atlet berusia 19 tahun, panggung sebesar itu bisa terasa menakutkan. Sebelum berangkat, ibunya hanya menitipkan pesan sederhana, yaitu lakukan yang terbaik dan terus berdoa.
Tidak ada janji medali di dalam pesan itu. Tidak ada tuntutan menjadi juara. Gischa pulang membawa perunggu dan mengatakan bahwa kemenangan itu datang karena dibantu Allah. Barangkali itulah kekuatan pesan yang tidak menuntut apa-apa, sebab ia memberi tempat bagi seorang atlet untuk tenang.
Gischa Zayana dan Emas yang Tiba di Nagoya.
Pada 21 Oktober 2026, Gischa kembali ke podium tertinggi, kali ini di Asian Para Games. Ia menang di final nomor perorangan putri dengan selisih hanya satu poin atas atlet Hong Kong.
Dalam boccia, satu poin sering menjadi jarak antara senang dan sesal. Olahraga ini menuntut atlet menaruh bola sedekat mungkin dengan sasaran lewat lemparan atau dorongan yang tidak boleh terburu-buru. Di titik itu, ketenangan terasa seperti kemampuan yang sebenarnya sedang diuji.
Gischa Zayana dan Pelajaran tentang Naik Pelan-pelan.
Dari perak 2022 sampai emas 2026, Gischa tidak melompat. Ia naik. Satu tangga, lalu tangga berikutnya.
Di zaman ketika semua orang ingin cepat, kisah seperti ini terasa menenangkan. Tidak semua orang perlu langsung juara. Kadang cukup naik pelan-pelan, sambil membawa satu pesan dari rumah yang tidak pernah usang.
