Konten dari Pengguna

Kalah Dua Detik, Fadli Imammuddin Kembali dengan Rekor dan Ketenangan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by si_kor from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by si_kor from Pixabay

Kalau kamu pernah kalah tipis dari lawan yang sama, kamu tahu betapa panjangnya dua detik bisa terasa. Muhammad Fadli Imammuddin mengenalnya di Hangzhou, ketika ia kalah dua detik dari rival utamanya asal China, Wang Xian. Tiga tahun kemudian, di Shizuoka, Fadli kembali dengan sesuatu yang lebih sulit dikalahkan daripada waktu, yaitu rekor dan ketenangan.

Bukan sekadar kisah tentang emas ketiga berturut-turut. Ini kisah tentang bagaimana seorang atlet membawa kekalahan lama tanpa membiarkannya menjadi beban.

Fadli Imammuddin dan Dua Detik yang Tidak Terlupakan.

Fadli lahir di Bogor dan dulu dikenal sebagai pebalap Moto2. Kini ia melaju di lintasan sepeda para, jalur yang berbeda tetapi tetap menuntut kecepatan dan keberanian yang sama.

Pelatihnya mengakui bahwa tim sempat ragu sebelum berangkat ke Nagoya. Keraguan itu berasal dari Hangzhou, tempat Fadli kalah dua detik dari Wang Xian. Kekalahan seperti itu jarang hilang begitu saja. Ia sering menunggu di ruang tunggu pikiran sebelum perlombaan berikutnya.

Fadli Imammuddin dan Enam Belas Putaran Tanpa Boleh Panik.

Di Izu Velodrome Shizuoka, Fadli mencatat waktu tercepat di babak kualifikasi dan memecahkan rekor Asian Para Games milik Wang Xian dengan selisih lebih dari satu setengah detik. Rival utamanya itu disebut tidak turun di Nagoya, tetapi rekor tersebut tetap harus dipecahkan oleh seseorang.

Di final melawan atlet Iran, Fadli menang mudah dengan menyusul lawannya. Menurutnya, lintasan sepanjang 16 putaran menuntut ketenangan dan keyakinan, sebab pikiran yang kacau di nomor ketahanan tidak akan konsisten. Kalimat itu terdengar seperti nasihat pelatih, padahal lahir dari pengalaman seorang pebalap yang pernah merasakan kekalahan.

Fadli Imammuddin dan Tiga Emas dalam Tiga Edisi.

Emas di Shizuoka melengkapi catatan Fadli di Asian Para Games, yaitu emas individual pursuit pada 2018, time trial pada 2022, dan individual pursuit lagi pada 2026. Tiga edisi, tiga emas.

Konsistensi seperti ini jarang dibicarakan karena tidak seheboh rekor dunia. Padahal bertahan di puncak lewat tiga edisi berarti menang atas lawan, atas waktu, dan atas godaan untuk puas.

Fadli Imammuddin dan Keinginan untuk Menikmati.

Setelah semua itu, Fadli mengatakan ia ingin menjadi atlet yang menikmati. Berlatih santai, berlomba santai, tanpa dibebani apa pun. Kalimat itu sederhana, tetapi mungkin yang paling jujur dari seorang juara.

Kita sering mengira beban terbesar seorang juara adalah lawan. Barangkali beban terbesarnya adalah harapan bahwa ia harus selalu menang. Pertanyaannya, sudahkah kita memberi juara bertahan ruang untuk menikmati, bukan hanya menuntut.