Rina Marlina: Cerita tentang Perempuan yang Berlatih dengan Piring Seng

Student at Pamulang University. Writes about a wide range of topics and current issues with a clear, structured perspective.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan berlatih bulu tangkis dengan piring seng yang biasa dipakai makan. Bukan raket, bukan alat latihan, hanya benda seadanya yang ada di tangan. Begitulah Rina Marlina memulai, jauh sebelum namanya dikenal di gelanggang Asia.
Pada 23 Oktober 2026, di usia 33 tahun, Rina kembali berdiri di podium tertinggi Asian Para Games di Nagoya. Laporan media menyebut ia dan Subhan menjaga emas ganda campuran mereka dalam kondisi cedera. Bukan kejutan bagi siapa pun yang tahu dari mana ia datang.
Rina Marlina dan Raket yang Tidak Kunjung Datang.
Rina lahir dengan keterbatasan fisik, di keluarga yang hidup serba pas-pasan. Ayahnya tukang becak, ibunya berjualan cimol. Raket bukan barang yang bisa dibeli begitu saja.
Di dekat rumahnya ada gelanggang bulu tangkis, dan di sana Rina sering menjadi wasit demi uang jajan. Saat orang lain beristirahat, ia mencoba bermain sendiri. Dari situ tumbuh mimpi yang sederhana, yaitu suatu hari bermain di tengah lapangan sambil ditonton banyak orang.
Banyak dari kita menunda memulai sampai peralatan lengkap, modal cukup, dan keadaan terasa tepat. Rina tidak menunggu semua itu. Ia memulai dengan apa yang ada.
Rina Marlina dan Jalan Panjang ke Pelatnas.
Setelah ayahnya meninggal, Rina dan ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga sekitar 2009 sampai 2010. Upahnya hanya ratusan ribu rupiah per bulan, dan semua itu untuk bertahan hidup. Dalam kondisi seperti itu, bulu tangkis mudah sekali tersisih.
Tapi olahraga itu tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Ia terus berlatih, menjuarai pertandingan daerah, lalu tingkat nasional, sampai dipanggil ke pelatnas pada 2019. Jalannya tidak cepat, tetapi tidak pernah berhenti.
Rina Marlina dan Emas yang Dijaga di Nagoya.
Setelah pelatnas, pintu yang lebih besar terbuka. Rina meraih emas ganda campuran bersama Subhan di Asian Para Games Hangzhou, lalu perunggu di Paralimpiade Paris 2024. Medali demi medali menjadi bukti bahwa piring seng itu bukan akhir cerita, melainkan awalnya.
Di Nagoya, tantangannya berbeda. Mempertahankan emas berarti dikejar semua orang, dan cedera membuat setiap pukulan terasa lebih berat. Pertandingan seperti ini tidak hanya menguji kemampuan memukul, tetapi juga kemauan menahan sakit demi sesuatu yang sudah lama dikejar.
Rina Marlina dan Pelajaran tentang Tidak Menunggu.
Cerita Rina bukan cerita tentang kemenangan semata. Ini cerita tentang menolak menunggu keadaan sempurna, tentang memulai dari sesuatu yang kecil, bahkan dari benda yang tidak pernah dirancang untuk itu.
Barangkali itu pesan yang paling dekat dengan siapa pun yang sedang menunda memulai. Raketnya mungkin belum ada, tetapi lapangannya selalu bisa dicari. Dan Rina membuktikannya, bahkan ketika semua alasan untuk berhenti sudah tersedia.
