Karya Visual KKN-FBD 54 Dukung Kebangkitan Kesenian Kuda Lumping Desa Mentaraman

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rizma Fadhisya Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sanggar seni Turonggo Gondang Saputro, Dusun Gondangrejo, Desa Mentaraman
Kelompok KKN-FBD 54 dari Universitas Brawijaya berhasil menyelesaikan program kerja revitalisasi visual di Sanggar Seni Turonggo Gondang Saputro, Desa Mentaraman. Puncak dari kegiatan ini adalah penyerahan karya visual berupa banner berukuran 6x3 meter, yang akan menjadi latar utama dalam setiap pementasan sanggar.

Sejak dihidupkan kembali oleh para penerus yang sekarang menjadi pengelola sekaligus penggendang di Turonggo Gondang Saputro, yaitu Bapak Jito pada tahun 2020, Sanggar ini terus berupaya membangkitkan kembali kejayaan mereka.
Melihat kondisi tempat yang biasa digunakan sebagai tempat latihan yang tidak mempunyai penanda, kami berinisiatif membuat banner yang bukan hanya berfungsi sebagai media promosi, tetapi juga sebagai elemen penting dalam pementasan mereka. Uniknya, sebelum penyerahan banner, tim KKN-FBD 54 berkesempatan untuk hadir dan terlibat langsung dalam salah satu latihan rutin sanggar. Kami ikut mencoba memainkan alat musik dan bahkan belajar menari kuda lumping. Pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam tentang semangat dan kerja keras para anggota sanggar.
"Banner ini dirancang untuk menampilkan identitas sanggar secara jelas, sehingga setiap kali mereka pentas, penonton langsung tahu itu adalah Turonggo Gondang Saputro," ujar Dhisya, salah satu anggota kelompok KKN-FBD 54.
Banner berukuran 6x3 meter dipilih agar terlihat megah dan bisa menjadi latar belakang yang mencolok saat pentas. Desainnya menonjolkan logo Sanggar Turonggo Gondang Saputro dan kekayaan budaya Jawa, seperti elemen kuda lumping dan barongan agar serasi dengan pementasan.
Sanggar ini memiliki anggota dari berbagai usia, mulai dari anak muda hingga ibu-ibu dan bahkan mbah-mbah, yang menunjukkan semangat luar biasa untuk melestarikan seni tradisional. "Bahkan yang sudah lulus atau ibu-ibu juga masih ikut menari. Kami juga punya pawang untuk pementasan, dan anggota di sini diajarkan untuk serba bisa, dari menari, menyinden, hingga jadi penggendang," Ujar Pak Jito, selaku salah satu penggendang di Turonggo Gondang Saputro.
Melalui program ini, KKN-FBD 54 berharap banner ini dapat menjadi simbol semangat baru bagi seluruh anggota sanggar. Ini adalah wujud nyata kontribusi kami dalam membantu sanggar agar terus berkarya dan kembali mencapai kejayaannya seperti dahulu.
